Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #5

Chapter 5: Politik Bahasa

Bab 5: Politik Bahasa


​Kabut belum sepenuhnya terangkat ketika Arga sudah terduduk di depan meja kecil di pojok kamarnya. Sinar matahari pagi yang pucat menembus celah gorden, menciptakan garis-garis cahaya yang menyorot debu-debu yang menari di udara. Di hadapannya kini terbentang dua dunia yang saling bertolak belakang: sebuah Al-Qur’an terjemahan resmi yang biasa digunakan di yayasan Ayahnya, dan buku hitam peninggalan Paman Idris yang semalam ia sembunyikan dengan penuh risiko.


​Arga tidak lagi sekadar membaca; ia sedang melakukan pembedahan. Ia merasa seperti seorang detektif yang sedang menelusuri jejak-jejak yang telah disusun selama puluhan tahun. Semakin ia membandingkan baris demi baris, semakin ia menyadari bahwa ada sebuah "tangan tak terlihat" yang dengan sengaja mengarahkan pemahaman pembaca lokal melalui pilihan kata yang provokatif.


​Ia memulai dengan mencari kata-kata yang sering digunakan Ustaz Ghafur untuk membungkam argumen para pemuda di yayasan. Kata "fasik", "sesat", dan "ancaman".

​Arga membuka sebuah surah yang sering dibahas dalam kajian mingguan. Dalam terjemahan Indonesia yang ia pegang, banyak sekali terdapat kata-kata di dalam kurung—kata tambahan yang secara teknis tidak ada dalam teks asli Arabnya, namun disisipkan oleh penerjemah untuk "menjelaskan" makna.


​"Lihat ini," bisik Arga pada dirinya sendiri, jemarinya gemetar saat menunjuk sebuah ayat tentang ketaatan. Dalam versi lokal, ayat itu diterjemahkan dengan tambahan kata-kata seperti (dan camkanlah azab-Ku) atau (maka tunggulah kehancuranmu) di sela-sela kalimat. Kata-kata di dalam kurung itu berfungsi seperti bumbu penyedap yang beracun; mereka mengubah nada bicara Tuhan yang aslinya bersifat informatif atau edukatif menjadi sebuah gertakan preman jalanan.


​Namun, saat ia menoleh ke terjemahan Inggris milik Paman Idris, nuansanya berubah total. Di sana, teksnya dibiarkan bersih, jujur, simpel, dan jelas. Jika Tuhan bicara tentang konsekuensi, versi Inggris menggunakan kata consequence atau outcome. Versi Indonesia langsung melompat ke kata "siksaan" atau "hukuman pedih".


​"Versi Inggris terasa seperti seorang guru yang sedang memperingatkan muridnya tentang hukum alam," Arga merenung, "sedangkan versi Indonesia terasa seperti seorang sipir penjara yang sedang membentak narapidana."


​Arga mulai memahami bahwa ini bukan sekadar masalah keterbatasan kosakata bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia memiliki kekayaan kata yang luar biasa untuk menggambarkan kelembutan, namun sang penerjemah lokal dengan sengaja memilih kata-kata yang paling tajam, paling kasar, dan paling mengancam. Ini adalah politik bahasa. Sebuah upaya untuk mengonstruksi citra Tuhan sebagai entitas yang haus akan penghormatan dan cepat sekali tersinggung.


​Pencariannya berlanjut ke ayat-ayat yang sering digunakan Ayah untuk melegitimasi kekuasaan pemimpin. Di sana, ia menemukan pergeseran makna yang lebih berbahaya.


​Dalam terjemahan yang dijajakan di yayasan, kata "ulul amri" sering kali diterjemahkan secara kaku sebagai "pemimpin-pemimpinmu", dengan catatan kaki yang sangat panjang tentang kewajiban mutlak untuk patuh tanpa bertanya. Nuansanya sangat politis, seolah-olah ayat itu turun hanya untuk memastikan posisi Ayah sebagai ketua yayasan tetap aman dari kritik.


​Arga beralih ke teks Inggris. Di sana, ia menemukan istilah yang jauh lebih luas: those charged with authority among you. Dan yang lebih mengejutkan adalah catatan komentarnya. Di sana disebutkan bahwa otoritas itu bersifat amanah, dan ketaatan kepada mereka bergantung pada sejauh mana mereka tetap berada dalam jalur keadilan—justice.

Lihat selengkapnya