Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #6

Chapter 6: Gugatan Siksa Kubur

Bab 6: Gugatan Siksa Kubur


​Ruang tempat catatan-catatan kakek yang berdebu itu kini telah menjadi laboratorium pemberontakan intelektual bagi Arga. Di balik tumpukan koran lama dan bau kertas yang melapuk, ia duduk dengan dua naskah terbuka.


​Di sisi kiri, sebuah buku panduan populer tentang "Kengerian Alam Kubur" yang sampulnya bergambar api neraka yang menjilat-jilat—buku yang dulu sering membuatnya tidak bisa tidur selama berminggu-minggu saat masih kecil. Di sisi kanan, Al-Qur'an terjemahan milik Paman Idris yang semalam ia selundupkan keluar dari kamar.


​Suara teriakan Ustaz Ghafur tentang "palu godam malaikat" dan "pecahnya tengkorak pendosa" masih terngiang-ngiang di telinganya. Namun pagi ini, Arga memutuskan untuk mencari sendiri. Benarkah Tuhan menggambarkan kematian sebagai sebuah arena jagal yang kolosal? Ataukah manusia telah menciptakan horor itu sendiri untuk menjaga ketertiban moral melalui teror?


​Arga mulai membalik halaman dengan teliti, mencari akar kata yang paling dasar tentang kematian.


​Kematian sebagai Tidur yang Panjang


​Mata Arga terpaku pada Surat Az-Zumar ayat 42. Ia membaca terjemahan Indonesia resminya lebih dahulu, lalu membandingkannya dengan versi Inggris di buku Paman Idris. Di sana, ia menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti bernapas sejenak.


​Ayat itu berbunyi: "Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya..."


​Dalam teks Inggris, penerjemahnya menggunakan kata takes back the souls dan membandingkan secara eksplisit antara kematian (death) dan tidur (sleep). Arga mengerutkan kening. Ia mencari kata Arab aslinya, yaitu yatawaffa.


​"Wafat," bisik Arga. "Akar katanya adalah wafa, yang berarti memenuhi atau mengambil kembali secara utuh."


​Ia menyadari sebuah kontradiksi yang tajam. Ustaz Ghafur menggambarkan malaikat maut sebagai sosok monster yang mencabut nyawa dengan kasar hingga urat-urat putus—sebuah gambaran yang diambil dari riwayat-riwayat yang sering kali tidak jelas asal-usulnya. Namun, di dalam ayat ini, Tuhan sendiri menyamakan mekanisme kematian dengan mekanisme tidur.


​"Jika kematian adalah saudara kembar dari tidur, mengapa mereka menggambarkan alam kubur sebagai ruang penyiksaan yang gaduh?" Arga merenung. "Saat kita tidur, kita berada dalam genggaman-Nya dengan tenang. Mengapa saat kita wafat—yang menggunakan kata yang sama—kita tiba-tiba dipukuli dengan palu godam?"


​Ia menggali lebih dalam ke Surat Yasin ayat 52. Sebuah ayat yang sering dibaca dengan cepat saat tahlilan, namun maknanya jarang diresapi. Ayat itu menceritakan orang-orang yang dibangkitkan dari kubur pada hari kiamat: "Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (marqadina)?"


​Arga terhenyak. Kata yang digunakan adalah place of sleep atau resting place. Bukan "tempat penyiksaan", bukan "liang yang sempit penuh bintang yang menakutkan".


​"Mereka yang bangkit di hari kiamat merasa seolah-olah baru saja dibangunkan dari tidur yang panjang," pikir Arga. "Jika mereka disiksa setiap detik selama ribuan tahun di dalam kubur, kata 'terbangun dari tidur' tidak akan masuk akal. Mereka seharusnya berkata, 'Siapakah yang menghentikan siksaan ini?'"

Lihat selengkapnya