Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #7

Chapter 7: Mencari Dajjal

Bab 7: Mencari Dajjal


Gerimis tipis mulai membasahi kaca jendela perpustakaan, mengaburkan pemandangan deretan pohon cemara di halaman belakang rumah kediaman Wiryadinata. Di dalam, Arga duduk dengan punggung tegak, napasnya sedikit memburu. Di depannya bukan lagi sekadar buku panduan tipis, melainkan tiga buah indeks besar Al-Qur'an—satu versi Departemen Agama, satu kamus istilah Al-Qur'an (Mu'jam), dan satu lagi indeks tematis dari Al-Qur'an berbahasa Inggris peninggalan Paman Idris.


​Pemicunya adalah kajian Subuh tadi. Ustaz Ghafur membawakan materi yang membuat seluruh jemaah gemetar: Fitnah Akhir Zaman. Sang penceramah menggambarkan sosok monster bermata satu dengan tulisan "kafir" di dahinya, yang sanggup menurunkan hujan dan menghidupkan orang mati. Sosok yang katanya begitu dahsyat sehingga setiap nabi selalu memperingatkan umatnya tentang kehadirannya.


​"Jika dia sedahsyat itu," bisik Arga pada sunyinya ruangan, "bagaimana mungkin Allah melewatkannya?"


​Arga mulai menyisir indeks huruf "D". Dal, alif, jim, alif, lam. Dajjal. Ia mencari di indeks bahasa Indonesia. Nihil. Ia beralih ke kamus istilah Arabnya. Tidak ada akar kata yang merujuk pada sosok eskatologis tersebut dalam konteks nama diri. Ia membuka indeks bahasa Inggris di buku Paman Idris, mencari kata antichrist atau deceiver. Kembali, ia tidak menemukan apa pun yang merujuk pada sosok bermata satu itu.


​Arga tertegun. Ia teringat kalimat yang selalu diulang-ulang Ayah saat membela Al-Qur'an: tibyanan likulli syai’—penjelasan bagi segala sesuatu. Al-Qur'an mengklaim dirinya sebagai kitab yang lengkap, rinci, dan tidak meninggalkan satu hal pun yang penting bagi petunjuk manusia.


​"Tuhan menjelaskan secara rinci tentang bagaimana membagi harta warisan, tentang tata cara mencuci tangan sebelum salat, bahkan tentang bagaimana bersikap saat bertamu ke rumah Nabi," Arga bergumam sambil membolak-balik halaman Surat Al-An'am ayat 38 yang menyatakan bahwa tidak ada satu pun yang luput dari catatan kitab-Nya.


​"Lalu, bagaimana mungkin sosok yang disebut sebagai fitnah terbesar sejak Adam diciptakan hingga hari kiamat—sosok yang bisa menghancurkan iman seluruh umat manusia—sama sekali tidak mendapatkan satu ayat pun? Satu baris pun?"


​Arga merasa ada sesuatu yang sangat tidak logis. Jika Al-Qur'an adalah benteng pertahanan terakhir bagi manusia, sangat mustahil Allah "lupa" mencantumkan musuh terbesar manusia di dalamnya.


​Pencariannya berlanjut ke "lawan tanding" Dajjal, yaitu Nabi Isa. Dalam ceramah-ceramah populer, dikatakan bahwa Nabi Isa akan turun kembali ke bumi untuk melakukan tiga hal utama: membunuh Dajjal, mematahkan salib, dan membunuh babi.


Lihat selengkapnya