Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #8

Chapter 8: Kafir dan Penutup Hati

Sore itu, suasana di ruang tamu kediaman Wiryadinata terasa lebih tegang dari biasanya. Ayah baru saja menjamu beberapa kolega yayasan. Dari balik pintu perpustakaan yang sedikit terbuka, Arga mendengar kata "kafir" dilemparkan berulang kali seperti sebuah peluru. Mereka sedang membicarakan Pak Hendra, tetangga dua rumah dari sini yang baru saja memberikan bantuan dana untuk perbaikan selokan warga. Bukannya berterima kasih, mereka justru sibuk memperdebatkan apakah uang dari seorang "kafir" boleh diterima atau apakah itu akan mencemari "kesucian" kampung.

​"Satu perbuatan baik dari seorang kafir tetap tidak akan bernilai di mata Allah," suara berat Ayah terdengar menghakimi. "Mereka itu tertutup hatinya. Mereka adalah musuh yang nyata, meski mereka tersenyum pada kita."

​Arga menutup pintu perpustakaan dengan perlahan. Kata-kata itu terasa seperti duri di telinganya. Ia kembali ke mejanya, menghadap buku hitam peninggalan Paman Idris. Di sampul dalamnya, ia baru menyadari ada sebuah catatan kecil yang ditulis tangan oleh pamannya: "Terjemahan ini dilakukan oleh Muhammad Asad (Leopold Weiss), seorang cendekiawan besar yang memeluk Islam setelah melakukan pengembaraan intelektual yang panjang di padang pasir Arabia. Karyanya, The Message of the Qur'an, diakui dunia karena kedalaman linguistik dan kejujuran filosofisnya."

​Arga teringat hasil pencariannya semalam. Muhammad Asad bukan orang sembarangan; ia adalah mantan jurnalis Austria yang menjadi penasihat raja Saudi dan salah satu penyusun konstitusi Pakistan. Di dunia Islam global, karyanya dianggap sebagai jembatan antara teks klasik dan logika modern. Jauh berbeda dengan terjemahan lokal yang sering kali hanya memindahkan kata tanpa memindahkan kedalaman dan konteksnya.

​Arga mulai membuka indeks kata K-F-R. Dalam terjemahan Indonesia yang ia kenal, "kafir" hanyalah label identitas; siapa pun yang tidak bersyahadat secara formal adalah kafir. Hitam dan putih. Kita dan mereka. Gambaran umumnya seperti itu.

​Namun, di bawah pena Muhammad Asad, Arga menemukan penjelasan yang lebih radikal. Asad menerjemahkan kufr atau kafir bukan sebagai identitas agama, melainkan sebagai sebuah tindakan atau sikap mental: to be ungrateful atau to deliberately cover the truth.

​Arga tertegun. Menutupi kebenaran secara sengaja.

​"Jadi kafir itu bukan soal apa label di KTP-mu?" bisik Arga pada dirinya sendiri.

​Ia membaca catatan kaki Asad pada Surat Al-Baqarah. Di sana dijelaskan bahwa kata kafir berasal dari akar kata kafara yang berarti "menanam" atau "menutup". Seorang petani disebut kafir karena ia menutup benih dengan tanah. Dalam konteks spiritual, seorang kafir adalah seseorang yang sudah melihat kebenaran—kebenaran tentang keadilan, tentang kemanusiaan, tentang Tuhan—namun ia dengan sengaja menutupnya karena kepentingan ego, harta, atau kekuasaan.

​Arga menoleh ke arah pintu ruang tamu di mana suara Ayah masih terdengar. Sebuah pemikiran mengerikan muncul di benaknya. Jika kafir berarti menutupi kebenaran demi kepentingan pribadi, bukankah Ayah dan Ustaz Ghafur yang menyembunyikan makna asli Al-Qur'an demi menjaga kekuasaan mereka di yayasan justru sedang melakukan tindakan kufr?

Lihat selengkapnya