Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #9

Chapter 9: Takwa Bukan Takut

Suasana meja makan malam itu terasa jauh lebih berat daripada biasanya. Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak jam yang menghitung mundur menuju sebuah ledakan. Ayah duduk di kepala meja, sorot matanya tajam, seolah sedang memindai setiap gerak-gerik Arga. Di sampingnya, Ibu menunduk dalam, mencoba menelan makanannya dengan susah payah, seolah-olah suasana tegang ini telah menghilangkan fungsi indra perasanya.

​"Ustaz Ghafur melapor pada Ayah," suara Ayah memecah keheningan, rendah namun bergetar oleh otoritas yang terluka. "Katanya kau mulai sering bertanya hal-hal yang tidak perlu di kajian. Hal-hal yang cenderung meremehkan siksa Allah. Benar begitu, Arga?"

​Arga meletakkan sendoknya. Ia menarik napas panjang, mencoba memanggil kembali ketenangan yang ia bangun selama berjam-jam di perpustakaan bersama buku Muhammad Asad.

​"Saya hanya bertanya tentang definisi, Yah," jawab Arga tenang. "Saya ingin tahu apakah kita beragama karena mencintai Allah, atau hanya karena takut dipukuli oleh-Nya."

​Ayah meletakkan gelasnya dengan dentuman keras. "Takut adalah pangkal takwa! Barang siapa yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka ia tidak memiliki iman. Kau harus gemetar saat mendengar nama-Nya disebut. Kau harus merayap dalam ketakutan akan cambuk-Nya di neraka nanti. Itulah takwa!"

​Arga menatap mata ayahnya, tidak lagi dengan kepala tertunduk. "Tapi dalam Al-Qur'an, Yah, takwa tidak pernah digambarkan sebagai ketakutan yang melumpuhkan seperti ketakutan seorang budak kepada majikan yang kejam."

​"Berani kau mengajari Ayah?" Ayah mulai meninggikan suara, tangannya mencengkeram tepian meja. "Ada ribuan hadis yang menceritakan bagaimana para sahabat menangis tersedu-sedu karena takut akan azab! Kau pikir kau lebih pintar dari mereka?"

​"Saya tidak mengatakan saya lebih pintar," Arga menyela dengan nada yang tetap terjaga. "Tapi saya membaca Surat Al-Baqarah ayat 2. Di sana disebutkan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk bagi muttaqin. Dan jika kita melihat akar kata ta-qa-wa, takwa berarti menjaga diri, membentengi, atau kewaspadaan yang penuh kesadaran. Dalam terjemahan Muhammad Asad, takwa diterjemahkan sebagai God-consciousness—kesadaran akan kehadiran Tuhan."

​"Asad? Siapa itu? Lagi-lagi kau membawa pemikiran orang Barat yang tersesat!" geram Ayah.

​"Dia seorang Muslim, Yah. Dan dia menjelaskan bahwa jika kita hanya berbuat baik karena takut cambuk, maka kita tidak lebih dari seekor binatang sirkus yang patuh karena takut disakiti. Apakah Allah ingin kita menjadi binatang sirkus, atau menjadi manusia yang sadar? Di Surat Al-Hujurat ayat 13, Allah berfirman bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah yang paling bertakwa. Jika takwa adalah takut, maka orang yang paling penakutlah yang paling mulia? Itu tidak logis."

Lihat selengkapnya