Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #10

Chapter 10: Retakan di Langit-Langit

Malam di kediaman Wiryadinata tak pernah terasa sesunyi ini, namun sunyi itu bukan tanda kedamaian. Ia adalah sunyi yang menekan, jenis keheningan yang dirasakan sebelum retakan besar muncul di langit-langit sebuah bangunan tua yang sudah lapuk fondasinya. Di ruang tengah, lampu kristal besar membiaskan cahaya kekuningan yang dingin. Arga duduk di kursi kayu jati yang kaku, sementara di hadapannya, Ustaz Ghafur dan Ayah sudah menunggu dengan naskah-naskah kuno dan tatapan yang menghakimi.

​"Kajian khusus malam ini bukan untuk berdebat, Arga," buka Ustaz Ghafur. Suaranya serak, khas seseorang yang terlalu sering berteriak di atas mimbar. "Ini adalah upaya penyelamatan. Ayahmu khawatir kau sudah melampaui batas. Kau mulai meninggalkan pemahaman para ulama dan mencoba meniti jalanmu sendiri. Itu adalah kesombongan intelektual yang paling berbahaya."

​Arga hanya diam. Di pangkuannya, Al-Qur’an terjemahan resmi yayasan terbuka, namun di balik itu, ia menyelipkan catatan-catatan kecil dari Muhammad Asad yang ia hafal di luar kepala.

​"Sombong?" Arga akhirnya bersuara, nadanya rendah. "Apakah membaca kata-kata Tuhan secara langsung tanpa perantara interpretasi yang penuh ancaman disebut sombong, Ustaz?"

​"Kau tidak punya otoritasnya, Arga!" bentak Ayah sambil menggebrak meja. "Kau bukan ahli bahasa Arab, kau bukan mufasir, kau tidak hafal ribuan hadis. Bagaimana mungkin seorang pemuda kemarin sore sepertimu merasa berhak memahami Al-Qur'an hanya dengan membacanya? Kau harus tunduk pada apa yang dikatakan guru-gurumu!"

​Ustaz Ghafur menimpali dengan mengutip sebuah hadis yang sering digunakan untuk membungkam nalar kritis: "Barang siapa yang menafsirkan Al-Qur'an dengan pendapatnya sendiri, maka siapkanlah tempat duduknya di neraka."

​Arga menatap Ustaz Ghafur dengan tenang. "Ustaz, hadis itu sering sekali disalahgunakan untuk melarang orang berpikir. Jika kita mengikuti logika itu, maka setiap orang awam yang mencoba memahami pesan moral Tuhan sedang memesan kursi di neraka. Padahal, Al-Qur'an sendiri berkali-kali bertanya, 'afala tatafakkarun'—apakah kalian tidak berpikir? 'afala ta'qilun'—apakah kalian tidak menggunakan akal?"

​"Akalmu itu terbatas!" potong Ayah. "Akal manusia itu kotor, makanya butuh hadis untuk menjelaskan Al-Qur'an. Hadis adalah perkataan Nabi, kekasih Allah. Kau berani meragukan perkataan Nabi?"

​"Saya tidak meragukan Nabi, Yah," jawab Arga tegas. "Saya meragukan penghantar manusia yang mengklaim perkataan itu sebagai perkataan Nabi, terutama jika isinya bertabrakan dengan semangat keadilan dalam Al-Qur'an. Al-Qur'an itu furqan, pembeda. Jika ada narasi manusia—sekalipun dilabeli hadis—yang menggambarkan Tuhan sebagai sosok tiran yang tidak logis, maka Al-Qur'an-lah yang harus menjadi hakimnya, bukan sebaliknya."

Lihat selengkapnya