Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #12

Chapter 12: Stigma Ingkar Sunnah

Udara subuh di Malang menusuk tulang, namun dinginnya pagi itu tak sebanding dengan atmosfer di dalam Masjid Al-Istiqomah—masjid yang menjadi jantung spiritual Yayasan Wiryadinata. Arga duduk bersila di barisan kedua, tepat di belakang Ayah yang punggungnya tegak kaku layaknya tembok beton. Di depan sana, di atas mimbar kayu jati yang dipelitur mengilap, Ustadz Ghafur sudah siap dengan mikrofannya.

​Biasanya, kajian subuh adalah momen yang tenang. Namun kali ini, Arga merasakan ribuan pasang mata jemaah—yang sebagian besar adalah kerabat dan kolega Ayah—seperti anak panah yang siap meluncur ke arahnya. Kasak-kusuk tentang "pemikiran aneh" Arga rupanya telah menyebar lebih cepat daripada kabut pagi.

​"Ada penyakit yang lebih berbahaya dari kanker," suara Ustadz Ghafur menggelegar, memantul di langit-langit kubah masjid. "Penyakit itu bernama Ingkarus Sunnah. Mereka yang mengaku berpegang pada Al-Qur'an, tapi membuang hadis Nabi. Mereka yang merasa akalnya lebih hebat dari tradisi para ulama salaf. Mereka adalah serigala berbulu domba yang sedang menggerogoti iman umat dari dalam."

​Arga menunduk. Ia tidak marah. Ia sedang melakukan apa yang Paman Idris sebut sebagai "observasi sunyi". Di kepalanya, ia mulai mengevaluasi setiap kalimat yang keluar dari mulut sang Ustadz. Ia tidak lagi mendengarkan sebagai objek yang diintimidasi, melainkan sebagai seorang peneliti yang sedang membedah sebuah anatomi ketakutan.

​Di samping Arga, sepupu-sepupunya yang biasanya ramah kini menggeser duduk mereka, memberi jarak beberapa sentimeter seolah Arga membawa wabah menular. Arga memperhatikan gestur Ayah. Ayahnya tidak menoleh sedikit pun. Beliau menatap lurus ke depan, memberikan panggung sepenuhnya kepada Ustadz Ghafur untuk melakukan "eksekusi publik" terhadap pemikiran anaknya sendiri.

​"Siapa mereka?" Ustadz Ghafur melanjutkan dengan nada yang semakin tinggi. "Mereka adalah orang-orang yang mempertanyakan validitas hadis karena dianggap tidak logis. Padahal, logika siapa yang mereka pakai? Logika manusia yang terbatas! Mengikuti Al-Qur'an tanpa hadis adalah mustahil. Bagaimana kalian salat kalau tidak ada hadis? Bagaimana kalian bayar zakat kalau tidak ada hadis? Mereka yang menolak hadis sebenarnya sedang menolak Nabi, dan siapa yang menolak Nabi, maka dia telah keluar dari Islam!"

​Arga mencatat kata-kata itu di dalam batinnya: Reductio ad absurdum. Ustadz Ghafur sedang menggunakan teknik penyederhanaan yang menyesatkan. Arga tidak pernah menolak salat atau zakat; ia hanya mempertanyakan narasi-narasi kebencian dan kekerasan yang sering kali menunggangi label hadis. Namun di depan jemaah ini, nuansa itu hilang. Yang ada hanyalah label hitam dan putih: ikut kami atau kau kafir.

​"Arga..." bisik salah satu pengurus yayasan yang duduk di belakang Arga dengan nada mencemooh. "Dengarkan baik-baik. Jangan sampai kau jadi anak durhaka yang membawa malu bagi keluarga Wiryadinata."

​Arga tetap diam. Ia mencoba memahami istilah-istilah teknis yang mulai dilemparkan Ustadz Ghafur: Musthalahul Hadits, Mutawatir, Ahad, Jarh wa Ta'dil. Istilah-istilah yang terdengar sangat ilmiah dan sakral, namun di telinga Arga, itu terdengar seperti mantra-mantra untuk mengunci pintu nalar. Mereka menggunakan kompleksitas bahasa untuk membuat orang awam merasa bodoh, sehingga satu-satunya pilihan bagi jemaah adalah sami'na wa atha'na—kami dengar dan kami taat.

​Selama satu jam penuh, Arga dibombardir dengan narasi tentang "ancaman pemikiran liberal". Ia merasa seperti sedang berada di dalam pengadilan inkuisisi abad pertengahan. Namun, alih-alih merasa hancur, otak Arga justru bekerja dengan sangat jernih.

​Ia mulai mengomparasi lagi. Terjemahan Indonesia yang dibacakan Ustadz Ghafur tentang "mengikuti Sunnah" selalu ditekankan pada aspek lahiriah: cara berpakaian, panjang jenggot, dan kepatuhan pada otoritas. Namun dalam catatan Muhammad Asad, Sunnah Nabi adalah The Way of the Prophet—yang esensinya adalah akhlak, kejujuran, dan keadilan sosial.

​"Kenapa mereka begitu terobsesi dengan kulit?" pikir Arga sambil menatap jubah mahal Ustadz Ghafur. "Al-Qur'an di Surah Al-A'raf ayat 26 dengan jelas menyatakan bahwa pakaian yang paling baik adalah libasut taqwa—pakaian takwa, yaitu kesadaran diri. Tapi di sini, jika kau tidak memakai seragam mereka, kau dianggap tidak bertakwa."

Lihat selengkapnya