Hujan turun menderu di atas atap seng paviliun belakang, tempat biasanya para asisten rumah tangga dan staf operasional yayasan berkumpul untuk makan siang. Arga duduk di sudut teras, mencoba menyesap kopinya dalam diam. Namun, kedamaian yang ia cari terganggu oleh suara tawa yang pecah dari ruang tengah paviliun.
Di sana, beberapa staf pria yayasan sedang mengerumuni sebuah ponsel, mendengarkan rekaman ceramah yang sedang viral di grup WhatsApp internal mereka. Suara di rekaman itu terdengar melengking, penuh otoritas, membicarakan tentang "hak-hak suami" dan "posisi perempuan di akhirat".
"Dengar itu," kata salah satu pria sambil tertawa lebar. "Katanya, penghuni neraka itu mayoritas perempuan karena mereka sering kurang bersyukur pada suami. Dan di surga nanti, kita para lelaki akan dilayani bidadari yang kecantikannya tak masuk akal. Istri kita? Ya, kalau mereka salehah, mungkin jadi ketua bidadarinya. Kalau tidak, ya siap-siap saja digantikan."
Tawa mereka kembali pecah. Arga merasakan dadanya sesak. Ia teringat Ibunya—perempuan yang menghabiskan seluruh hidupnya melayani Ayah, menelan semua caci maki atas nama "adab istri", dan kini di masa tuanya, ia masih harus mendengarkan narasi bahwa dirinya secara statistik lebih mungkin masuk neraka hanya karena jenis kelaminnya.
Ketidakadilan ini bukan lagi soal doktrin yang abstrak bagi Arga. Ia melihat bagaimana narasi ini merembes ke dalam perilaku nyata. Ia melihat bagaimana sepupu perempuannya dipaksa berhenti kuliah karena dianggap "tugas utama wanita hanya di dapur dan kasur". Ia melihat bagaimana teks-teks sekunder digunakan untuk memotong sayap-sayap mimpi perempuan di sekelilingnya.
Puncaknya terjadi sore itu, saat diskusi rutin di teras utama rumah Wiryadinata. Kali ini bukan hanya Ayah dan Ustadz Ghafur, melainkan beberapa tokoh senior yayasan juga hadir. Mereka sedang membahas rencana kurikulum baru untuk sekolah putri di bawah naungan yayasan.
"Kita harus tekankan pada bab kepatuhan," kata salah satu tokoh senior dengan janggut putih yang panjang. "Perempuan itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Kalau dipaksa lurus, dia patah. Kalau dibiarkan, dia tetap bengkok. Maka tugas laki-laki adalah menjaganya dengan ketat. Jangan beri mereka terlalu banyak ruang untuk berpikir kritis, nanti mereka kehilangan fitrahnya sebagai pelayan suami."
Arga, yang sedari tadi mencoba hanya menjadi pendengar, merasakan sebuah teriakan di dalam nuraninya yang tidak bisa lagi dipendam. Ia meletakkan cangkir tehnya dengan bunyi denting yang cukup keras hingga semua mata tertuju padanya.
"Maaf, Pak Kiai," suara Arga terdengar tenang namun mengandung getaran kemarahan yang dalam. "Atas dasar apa kita menyebut perempuan sebagai makhluk yang 'bengkok' dan hanya ditakdirkan untuk melayani? Apakah Al-Qur'an pernah mengatakan hal seperti itu?"
Suasana seketika membeku. Ayah menatap Arga dengan tatapan yang seolah berkata, Jangan mulai lagi.
"Arga, itu ada di dalam hadis sahih!" Ustadz Ghafur menyambar dengan cepat. "Nabi yang mengatakannya. Apakah kau mau membantah Nabi lagi?"
Arga menarik napas panjang. "Saya tidak membantah Nabi. Saya mempertanyakan interpretasi kalian yang selalu mengambil sisi yang merendahkan. Jika kita kembali ke Al-Qur'an, Surah An-Nahl ayat 97 dengan gamblang menyatakan: 'Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan pahala kepada mereka dengan yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.' Tuhan tidak membedakan kualitas ruh dan pahala berdasarkan gender. Mengapa kalian justru sibuk menciptakan kasta?"