Kegelapan di dalam kamar isolasi itu terasa berbeda. Ia tidak lagi mencekam seperti malam-malam sebelumnya saat Arga masih didera ragu. Kini, kegelapan itu terasa seperti rahim—tempat sesuatu yang baru sedang dibentuk dalam sunyi. Arga membentangkan sajadahnya di atas lantai ubin yang dingin. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya bulan yang menyelinap dari sela-sela ventilasi sudah cukup untuk menandai arah kiblat.
Ia berdiri, namun lidahnya kelu. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ritual yang ia jalankan sejak kecil terasa begitu berat, bukan karena malas, melainkan karena ia menyadari betapa dalamnya jurang antara ritual fisik dan kehadiran ruhani. Arga melakukan takbir, namun pikirannya melayang ke ruang sidang tadi. Ia melihat wajah-wajah pamannya, wajah paman Mansyur, kyai sepuh dan wajah Ayah.
"Allahu Akbar," bisiknya. Allah Maha Besar.
Namun, di dalam hatinya, sebuah suara menyahut dengan pedih. Lalu mengapa mereka membuat-Mu terasa begitu kecil? Mengapa mereka memenjarakan kebesaran-Mu dalam batas-batas yayasan mereka?
Saat ia bersujud, Arga membiarkan dahinya menempel lama di permukaan kain sajadah yang kasar. Di sinilah dialog terpanjang itu dimulai. Bukan dialog dengan kata-kata yang diucapkan bibir, melainkan sebuah dialektika antara nurani dan ingatan.
Ya Allah, batinnya berteriak, aku melihat mereka tadi. Mereka tidak sedang membela-Mu. Mereka sedang membela diri mereka sendiri. Mereka ketakutan. Tapi kenapa orang-orang yang mengaku paling dekat dengan-Mu justru menjadi orang yang paling ketakutan ketika nama-Mu digunakan untuk menuntut keadilan?
Jawaban itu muncul bukan sebagai bisikan gaib, melainkan sebagai sebuah kesadaran logis yang jernih dari lubuk hatinya. Ia menyadari bahwa selama ini, Tuhan hanyalah "properti" bagi keluarganya. Tuhan adalah merek dagang yang memberikan mereka hak untuk mengatur hidup orang lain. Jika Arga merusak interpretasi itu, ia bukan hanya merusak akidah di mata mereka, melainkan ia sedang merusak ekosistem kekuasaan mereka.
"Mereka mencintai doktrin karena doktrin itu memberi mereka kendali," gumam Arga dalam sujudnya. "Jika perempuan dibuat percaya bahwa mereka bengkok, maka laki-laki akan selalu merasa lurus. Jika umat dibuat percaya bahwa mereka butuh perantara untuk memahami Kitab-Mu, maka para elit yayasan akan selalu punya pekerjaan sebagai penjaga gerbang surga."
Arga bangkit dari sujud, duduk di antara dua sujud dengan tubuh yang gemetar. Ia teringat bagaimana Ayah selalu menekankan "reputasi Wiryadinata". Di titik inilah Arga memahami akar masalahnya, yaitu egoisme berjubah agama.
Agama yang seharusnya menjadi alat untuk menghancurkan berhala ego, justru dijadikan berhala baru untuk memperkuat ego tersebut. Mereka tidak bisa membayangkan sebuah dunia di mana setiap orang merdeka dengan Al-Qur'annya, karena dalam dunia yang merdeka, tidak ada lagi tempat bagi "Tuan Besar" agama.