Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #16

Chapter 16: Pilihan Pahit

Gema azan subuh baru saja meluruh, menyisakan kesunyian yang mencekam di lorong-lorong rumah Wiryadinata. Pintu kamar Arga yang terkunci rapat sejak semalam akhirnya berderit terbuka. Namun, itu bukan tanda kebebasan. Di ambang pintu, berdiri kakak tertuanya dengan wajah kaku, memberi isyarat agar Arga segera menuju ruang tengah.

​Bukan di ruang tamu besar dengan para sesepuh seperti semalam, kali ini pertemuan dilakukan di ruang keluarga yang lebih privat. Di sana, Ayah sudah duduk di kursi kebesarannya. Di sampingnya, Ibu tampak layu, matanya sembab dan merah, terus-menerus meremas ujung mukenanya. Kakak-kakak perempuan Arga berdiri di sudut ruangan, wajah mereka menyimpan kecemasan yang mendalam, sementara para kakak lelaki berdiri di belakang Ayah layaknya barisan penjaga tradisi.

​Ini bukan sidang ideologi global; ini adalah bedah jantung keluarga. Ketegangan di udara terasa lebih pekat karena melibatkan ikatan darah yang sedang dipertaruhkan di atas meja keyakinan.

​"Duduk, Arga," suara Ayah rendah, hampir seperti bisikan, namun mengandung ancaman yang lebih berat daripada teriakan semalam.

​Arga duduk di lantai, tepat di hadapan Ayah. Ia melihat Ibu yang tak berani menatap matanya. Suasana sunyi itu dipecah oleh isak tangis kecil Ibu yang berusaha disembunyikan di balik telapak tangannya.

​"Aku sudah bicara dengan paman Mansyur dan Ustadz Ghafur," Ayah memulai tanpa basa-basi. "Mereka bilang kau sudah terlalu jauh. Tapi aku, sebagai ayahmu, masih ingin memberimu satu kesempatan terakhir sebelum nama Wiryadinata benar-benar harus melepaskanmu.

Pilihannya sederhana, Arga: kau akui kesalahanmu secara tertulis dan lisan di depan jemaah, kau bakar semua catatan sesatmu, dan kau kembali belajar di bawah bimbingan Ustadz Ghafur tanpa banyak tanya lagi."

​Ayah berhenti sejenak, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Arga. "Atau, kau angkat kaki dari rumah ini. Kau bukan lagi anakku, kau bukan lagi bagian dari keluarga ini, dan kau tidak punya hak sepeser pun atas apa yang ada di sini. Pilih tradisi keluarga atau egomu?"

​Arga terdiam. Ia merasakan sebuah tarikan kuat di dalam dadanya. Ia melihat sekeliling—tembok rumah ini adalah saksi bisu masa kecilnya, tempat ia tumbuh dan merasa aman. Namun sekarang, tempat ini terasa seperti altar pengorbanan di mana ia diminta untuk menyembelih nalarnya sendiri.

​"Ayah menyebut ini ego," Arga memulai, suaranya tetap stabil meski hatinya bergejolak. "Tapi apakah mencari kebenaran dalam Al-Qur'an adalah sebuah keegoisan? Apakah mengakui bahwa Allah adalah hakim tunggal adalah sebuah kesesatan? Mengapa Ayah selalu menggunakan ancaman untuk mempertahankan iman seseorang? Apakah iman yang dipaksakan dengan ancaman pengusiran masih bernilai di mata Allah?"

​"Jangan bicara soal Allah di depanku!" bentak Ayah, emosinya kembali tersulut. "Kau hanya menggunakan nama-Nya untuk menutupi pembangkanganmu pada orang tua! Birrul walidain adalah perintah Tuhan! Mana Al-Qur'anmu sekarang saat kau menyakiti hati Ibu dan Ayahmu?"

​Mendengar kata-kata Ayah, Ibu tidak tahan lagi. Ia bangkit dari duduknya, mendekati Arga, dan merangkul pundak anaknya dengan erat. Tangisnya pecah di bahu Arga.

​"Arga... Nak... Tolonglah," bisik Ibu di sela isaknya. "Ibu mohon. Lunakkan hatimu sedikit saja. Ikuti apa kata Ayahmu. Jangan buat Ibu kehilangan anak laki-laki Ibu. Kita bisa hidup tenang kalau kau mau mengalah sedikit saja. Apa susahnya pura-pura setuju demi kedamaian rumah kita?"

​Pelukan Ibu terasa hangat, namun kata-katanya terasa seperti sembilu. "Pura-pura setuju"—itulah inti dari masalahnya. Agama di rumah ini telah menjadi sandiwara besar yang harus dimainkan agar semua orang merasa nyaman.

​Arga membalas pelukan Ibu, mengusap punggungnya yang bergetar. Hatinya hancur melihat air mata wanita yang melahirkannya. Namun, di dalam kepalanya, ayat-ayat yang ia pelajari semalam kembali bergaung. Ia ingat bagaimana Al-Qur'an mengajarkan tentang hubungan orang tua dan anak, terutama ketika menyangkut prinsip ketauhidan.

Lihat selengkapnya