Gerbang besi itu baru saja berdentang di belakangnya, namun bagi Arga, gema suara itu menarik jiwanya kembali ke lima menit yang paling menyesakkan dalam hidupnya. Lima menit yang ia habiskan di dalam kamar tidurnya sebelum melangkah keluar selamanya. Secara kronologis, jarum jam hanya bergeser sedikit, namun bagi ruang batin Arga, lima menit itu adalah sebuah pengembaraan ruang dan waktu yang melintasi puluhan tahun memori; seperti lima jam yang dipadatkan menjadi satu titik ledak emosi.
Saat ia memutar kunci pintu kamarnya dari dalam untuk terakhir kali, udara di dalam ruangan itu terasa berbeda. Ia bukan lagi Arga, salah satu "putra mahkota" Yayasan Wiryadinata; ia adalah orang asing yang sedang melakukan penggeledahan di gudang masa lalunya sendiri.
Ia berdiri diam di tengah ruangan. Matanya menyapu setiap sudut. Di atas rak kayu jati itu, berjajar rapi piala-piala lomba, piagam-piagam penghargaan, dan koleksi buku-buku tebal yang dulu dianggapnya sebagai sumber kebenaran absolut. Kini, benda-benda itu tampak seperti nisan-nisan kecil dari sebuah identitas yang telah mati.
Langkah pertama Arga menuju lemari pakaian terasa begitu berat, seolah ubin kamarnya berubah menjadi lumpur hisap. Pikirannya terseret ke masa sepuluh tahun yang lalu, saat Ayah membelikannya meja belajar ini sebagai hadiah karena ia berhasil menghafal beberapa juz Al-Qur'an dengan metode tradisional yang ketat.
"Jaga meja ini, Arga," suara Ayah terngiang, begitu jernih hingga Arga harus menoleh untuk memastikan pria itu tidak berdiri di belakangnya. "Di atas meja inilah kau akan membangun kejayaan keluarga kita melalui ilmu agama."
Arga menyentuh permukaan meja itu. Dingin. Kejayaan yang dimaksud Ayah ternyata adalah sebuah penjara emas. Di atas meja itu pulalah, dalam beberapa bulan terakhir, Arga justru membedah Al-Qur'an dengan kacamata yang berbeda—kacamata yang akhirnya membakar semua ekspektasi Ayah.
Ia membuka lemari. Deretan kemeja bermerek, jubah-jubah mahal untuk acara yayasan, dan jas-jas formal tergantung kaku. Arga menarik sebuah tas ransel tua dari kolong tempat tidur. Tas yang sudah agak berdebu, saksi bisu petualangannya saat masih sekolah dulu sebelum ia "dijinakkan" oleh struktur birokrasi keluarga.
Tangannya bergerak ragu saat hendak mengambil pakaian. Ia teringat ucapan Ayah di ruang keluarga tadi: "Pakaian yang kau pakai itu pun milikku!"
Sebuah rasa perih yang aneh mencubit harga dirinya. Ia melihat ke cermin, menatap dirinya yang mengenakan kemeja katun. Apakah aku harus telanjang saat keluar dari sini agar Ayah merasa impas? pikirnya getir. Namun, logika Al-Qur'an segera menenangkannya. Pakaian adalah karunia Tuhan untuk menutup aurat, bukan alat sandera bagi nurani.
Ia hanya mengambil tiga lembar kaus sederhana, dua celana panjang yang paling awet, dan satu jaket tebal untuk menghadapi udara Malang yang terkenal menusuk saat malam. Ia meninggalkan semua jubah mahal itu tetap tergantung di sana. Biarlah jubah-jubah itu tetap di rumah ini, sebagai simbol bagi mereka yang masih gemar mempertontonkan kesalehan lahiriah namun mengabaikan keadilan batiniah.
Saat ia mengemas pakaian, matanya tertuju pada sebuah jam tangan pemberian kakaknya. Jam itu mahal, sebuah simbol status. Arga sempat memegangnya, meraba strap kulitnya yang halus. Namun, ia kembali teringat pada narasi ketaatan yang dituntut sebagai imbalan dari kemewahan itu.
Jika aku membawa jam ini, apakah setiap detik yang berdetak di pergelangan tanganku akan selalu berbisik tentang utang budi pada sistem yang menindas?
Ia meletakkan kembali jam itu di atas meja. Di sampingnya, ia menaruh kunci kendaraan dan kartu ATM yang selama ini menjadi "tali pengikat" fungsional dari Ayah.