Matahari Malang mulai merangkak naik, namun sinarnya yang menghangatkan aspal tidak mampu mengusir sisa-sisa kedinginan yang membeku di sumsum tulang Arga. Ia duduk di sebuah bangku kayu panjang di sudut taman kota. Di depannya, anak-anak kecil berlarian mengejar burung merpati, dan para pedagang kaki lima mulai sibuk menata dagangan mereka. Dunia tampak berjalan sebagaimana mestinya, seolah-olah tidak ada yang hancur pagi ini. Namun bagi Arga, semesta yang ia kenal selama puluhan tahun telah lumat menjadi debu.
Punggungnya bersandar pada sandaran kayu yang kasar, tapi matanya tidak benar-benar melihat taman itu. Pandangannya kosong, jauh menyelam ke dalam palung pikirannya sendiri. Kepalanya terasa seperti ruang gema di mana suara-suara dari masa lalu dan kejadian beberapa jam lalu bertabrakan tanpa henti.
"Kau bukan anakku lagi!"
Suara Ayah berdentum di telinganya, lebih keras dari suara klakson kendaraan yang melintas. Arga memejamkan mata, dan seketika ia kembali ke ruang tengah rumah Wiryadinata. Ia melihat wajah para sesepuh yang memerah, ia mencium aroma kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan, dan ia merasakan getaran kebencian yang memancar dari orang-orang yang selama ini ia anggap sebagai pelindung imannya.
Di bangku taman itu, Arga mencoba bernapas secara teratur, namun dadanya sesak oleh tumpang tindih memori. Ia membayangkan apa yang sedang terjadi di rumahnya saat ini. Ia bisa membayangkan Ayahnya sedang berdiri di hadapan para pengurus yayasan, memberikan pernyataan resmi yang akan memutus silsilahnya secara spiritual.
"Vonis murtad secara pemikiran," gumam Arga pahit.
Ia tahu bagaimana mekanisme di lingkungannya bekerja. Di mata Ayahnya dan para sesepuh, murtad bukan hanya soal berpindah agama secara formal. Murtad adalah ketika seseorang berani melepaskan diri dari doktrin kelompok dan mencari kebenaran langsung pada sumbernya tanpa melalui filter mereka. Dengan tidak mengakui tafsir patriarki mereka, Arga dianggap telah membatalkan keislamannya di mata mereka. Ia telah dicap sebagai kafir—sebuah kata yang di kampungnya lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri.
Bayangan sidang semalam kembali menghampiri. Arga mengingat setiap tatapan mata pamannya yang penuh penghinaan. Ia membayangkan bagaimana namanya sekarang mungkin sedang dicoret dari daftar ahli waris, dan instruksi sedang disebarkan ke seluruh jaringan yayasan agar tidak ada yang memberikan bantuan atau perlindungan padanya.
"Mereka membuangku bukan karena aku jauh dari Allah," pikir Arga sambil meremas pinggiran tas ranselnya, "tapi karena aku terlalu dekat dengan Al-Qur'an yang tidak bisa mereka kendalikan."
Suara tawa pengunjung taman sesekali memecah lamunannya, namun Arga merasa seperti berada di bawah air; sunyi dan terisolasi. Pikirannya bolak-balik antara rasa syukur atas kebebasan yang baru ia peroleh dan rasa sakit yang menusuk akibat pengkhianatan darah.
Ia teringat wajah Ibu. Itulah yang paling menyiksa. Apakah Ibu sekarang sedang dipaksa untuk mengutuknya? Di lingkungan Wiryadinata, seorang ibu harus memilih antara anak yang dianggap sesat atau suami yang dianggap sebagai wakil Tuhan di rumah. Arga tahu ibunya adalah wanita lemah yang kemungkinan besar akan tunduk pada intimidasi Ayah, meski hatinya hancur berkeping-keping.