Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #19

Chapter 19: Jejak yang Terhapus, Jalan yang Terbentang

Keluar dari pelataran masjid tua itu, Arga merasakan gravitasi bumi seolah berubah. Tidak ada lagi tangan-tangan tak terlihat yang menarik kerah bajunya untuk tunduk, namun tidak ada pula jaring pengaman yang akan menangkapnya jika ia jatuh. Dunia di hadapannya mendadak menjadi sangat lebar, sekaligus sangat asing. Malang, kota yang ia kenal setiap sudut gangnya, kini terasa seperti hutan belantara yang baru pertama kali ia injaki tanpa peta.

​Ia berjalan menyusuri trotoar, membiarkan kakinya melangkah tanpa tujuan pasti. Tas ransel di punggungnya terasa seperti bagian dari tubuhnya sendiri—beban yang mengingatkan bahwa semua yang ia miliki di dunia ini hanyalah apa yang ia panggul. Pikirannya perlahan mulai mendingin, meninggalkan sisa-sisa bara api perdebatan di rumah Wiryadinata yang kini terasa seperti fragmen dari kehidupan orang lain.

​Langkah Arga terhenti di depan sebuah etalase toko elektronik yang memajang televisi besar. Di sana, sebuah berita lokal sedang menayangkan profil tokoh-tokoh berpengaruh di Jawa Timur. Wajah ayahnya muncul sekilas dalam sebuah dokumentasi kegiatan amal yayasan. Arga menatap layar itu dengan perasaan datar. Pria di layar itu, dengan sorban putih dan senyum yang tampak bijaksana, adalah orang yang beberapa jam lalu membuangnya seperti sampah yang menajiskan kesucian rumah.

​"Kau sedang melihat apa, Arga?" bisiknya pada diri sendiri.

​Ia meraba saku celananya. Di sana hanya ada beberapa lembar uang ratusan ribu—sisa uang saku yang ia simpan sebelum kartu ATM-nya ditinggalkan. Itu tidak akan bertahan lama. Ia sadar, romantisme perlawanan ideologis ini akan segera ditabrak oleh realitas perut yang lapar dan kebutuhan akan atap untuk berteduh.

​Namun, alih-alih panik, Arga merasakan sebuah ketenangan yang aneh. Ia teringat akan konsep rezeki yang sering ia baca. Jika Allah menciptakan seekor burung tanpa gudang makanan namun menjamin perutnya kenyang setiap senja, apakah Allah akan menelantarkan manusia yang sedang berusaha menjaga amanah-Nya?

​Perutnya mulai berbunyi. Arga memutuskan untuk mencari makan di sebuah warung tegal kecil di pinggiran jalan yang tidak terlalu ramai. Ia memesan sepiring nasi dengan lauk sederhana. Saat ia mulai menyuap, seorang pria tua dengan topi lusuh duduk di hadapannya. Pria itu tampak seperti buruh angkut atau kuli bangunan yang baru saja menyelesaikan sif pagi.

​"Baru di Malang, Mas?" tanya pria itu ramah, matanya yang lelah namun tulus menatap ransel Arga.

​Arga tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terasa kaku di wajahnya. "Saya orang sini, Pak. Hanya sedang... mencari suasana baru."

​Pria itu mengangguk, lalu menyesap teh hangatnya. "Suasana baru itu mahal harganya, Mas. Tapi kadang, kita memang harus pergi jauh untuk bisa melihat apa yang sebenarnya ada di depan mata. Saya dulu juga begitu. Meninggalkan kampung di Madura karena tidak mau ikut-ikutan sengketa tanah keluarga yang dipaksakan atas nama adat. Orang bilang saya bodoh karena melepas warisan. Tapi bagi saya, lebih baik tidur di kolong jembatan dengan hati tenang daripada tidur di kasur empuk tapi tangan berlumuran hak orang lain."

​Arga tertegun. Kata-kata pria tua ini seperti siraman air dingin di tengah padang pasir. Sering kali, hikmah Tuhan tidak datang dari lisan para kiai bersorban sutra di mimbar megah, melainkan dari sela-sela gigi seorang kuli yang sedang istirahat makan siang.

​"Bapak tidak menyesal?" tanya Arga.

Lihat selengkapnya