Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #20

Chapter 20: Kosakata Baru

Beberapa hari kemudian. Dinginnya aspal Kota Surabaya di jam empat pagi terasa berbeda dengan dinginnya Malang yang memeluk. Di sini, udara bercampur dengan aroma solar, amis pasar, dan keringat orang-orang yang sudah memacu nyawa sebelum matahari sempat mengintip. Arga berdiri di pojokan pasar grosir, mengenakan kaus oblong yang sudah mulai memudar warnanya dan handuk kecil yang tersampir di leher. Di pundaknya, tidak ada lagi tas berisi buku-buku tebal; yang ada hanyalah beban karung-karung berisi bawang merah dan cabai.

​Ia sengaja menyingkir. Surabaya, dengan segala hiruk-pikuknya yang kasar, adalah tempat terbaik untuk menghilang. Di kota ini, orang tidak peduli siapa kakekmu atau seberapa besar yayasan keluargamu. Di sini, kau dihargai berdasarkan berapa banyak karung yang bisa kau pindahkan dari bak truk ke lapak pedagang tanpa banyak mengeluh.

​"Ayo, Ar! Malah bengong. Truk sawi dari Kediri sudah sandar!" teriak Cak Mad, mandor angkut yang bertubuh gempal dengan kulit sewarna tembaga.

​Arga tersentak, lalu tersenyum lebar. "Siap, Cak!"

​Ia segera berlari kecil menuju bak truk yang masih mengepulkan uap dingin dari sayur-sayuran segar. Ia memanggul karung pertama. Beratnya mungkin sekitar empat puluh kilogram. Pada minggu pertama, punggungnya terasa seolah-olah akan patah, dan telapak tangannya melepuh hingga berdarah. Namun kini, setelah satu bulan berlalu, otot-ototnya mulai beradaptasi. Rasa sakit itu bukan lagi musuh, melainkan kawan yang mengingatkannya bahwa ia masih hidup, merdeka, dan tidak berutang napas pada siapa pun.

​Di pasar ini, ia dikenal sebagai "Arga". Hanya Arga. Tanpa "Wiryadinata" yang membebani di belakangnya. Nama belakang itu telah ia kubur dalam-dalam di bawah perlintasan kereta api saat ia menyeberang keluar dari Malang. Baginya, membuang nama keluarga bukan berarti membenci silsilah, melainkan sebuah pernyataan kemandirian. Ia ingin dikenal karena keringatnya sendiri, bukan karena warisan reputasi yang ia anggap telah tercemar oleh egoisme berjubah agama.

​"Ar, kau ini kalau kerja kok anteng sekali. Kuliah di mana dulu?" tanya seorang rekan kuli bernama Jaka saat mereka sedang beristirahat sambil menyesap kopi pahit di gelas plastik.

​Arga menyeka keringat dengan handuk kecilnya. "Kuliah di jalanan sekarang, Jak. Dulu sempat belajar, tapi ternyata teorinya tidak seberat karung bawang ini."

​Jaka tertawa terbahak-bahak, menepuk bahu Arga dengan kasar. "Benar! Orang-orang pintar di sana itu cuma jago ngomong. Di sini, kalau kau tidak gerak, kau tidak makan. Sesederhana itu."

​Arga mengangguk. Komunikasi dengan orang-orang seperti Jaka, Cak Mad, dan para pedagang pasar memberinya "kosakata baru". Kosakata yang tidak ia temukan dalam kitab-kitab klasik di perpustakaan ayahnya. Ia belajar tentang kejujuran yang telanjang, tentang bagaimana seorang kuli bisa berbagi rokok terakhirnya dengan temannya yang belum dapat borongan, dan tentang bagaimana syukur bisa muncul hanya dari segelas air putih hangat setelah kerja keras empat jam tanpa henti.

​Ini adalah tempat praktik kemanusiaan yang sesungguhnya. Selama ini, di yayasan, ia sering bicara tentang "umat". Tapi di sini, ia melihat manusia. Tanpa label "jemaah", tanpa filter "saleh atau tidak", ia melihat bahwa setiap orang memiliki perjuangan yang sakral di mata Tuhan.

​Setelah sif pagi di pasar berakhir sekitar jam sepuluh, Arga tidak lantas beristirahat total. Ia berjalan kaki menuju kamar kosnya yang terletak di sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk satu motor. Kamar itu mungil, panas, dan berisik oleh suara anak-anak kecil yang bermain di luar. Namun, kamar inilah saksi bisu dari "jihad" Arga yang sebenarnya.

​Setiap hari, setelah mandi dan membersihkan badan dari debu pasar, ia duduk di pojok kamar. Di depannya bukan lagi hidangan mewah, melainkan sebungkus nasi kucing yang ia beli di angkringan depan gang. Sambil mengunyah perlahan, ia membuka kamus bahasa Arab-Inggris dan mushaf milik Paman Idris.

​Targetnya jelas: ia ingin membedah setiap akar kata dalam Al-Qur'an secara mandiri. Ia menyadari bahwa selama ini interpretasi yang ia terima di rumah selalu dibumbui oleh kepentingan dakwah politik dan pemeliharaan struktur kekuasaan pria. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya Allah katakan tanpa perantara kepentingan organisasi.

Lihat selengkapnya