Surabaya di bulan ketiga mulai terasa seperti rumah yang jujur bagi Arga. Suara deru mesin pabrik di kejauhan dan aroma aspal yang menguap setelah diguyur hujan sore hari bukan lagi gangguan, melainkan irama yang menenangkan. Namun, perubahan paling drastis tidak terjadi pada lingkungan sekitarnya, melainkan pada bagaimana ia meletakkan dahi di atas lantai setiap kali waktu salat tiba.
Dulu, di lingkungan Wiryadinata, salat adalah sebuah pertunjukan kedisiplinan yang diawasi oleh ribuan mata tak kasat mata. Ada standar "kesalehan yang terlihat" yang harus dipenuhi: posisi tangan yang harus tepat, panjang jenggot yang diukur secara sosial, hingga kecepatan bangkit dari rukuk yang sering kali menjadi tolok ukur kekuatan iman di mata para pengurus yayasan. Salat telah menjadi sebuah kewajiban birokrasi batin, di mana "polisi moral" seolah berdiri di setiap sudut masjid, siap mencatat setiap kegagalan teknis sebagai tanda penurunan takwa.
Kini, di kamar kosnya yang sempit atau di pojok bengkel Koh Ahong yang berdebu, Arga menemukan sesuatu yang hilang selama puluhan tahun: keintiman.
Malam itu, setelah sif panjang di bengkel las, Arga membersihkan sisa-sisa jelaga di tangannya dengan sabun batangan yang kasar. Ia membentangkan sajadah tipis di atas lantai semen kamarnya. Tidak ada suara azan dari pengeras suara masjid besar yang biasanya menuntut kepatuhan massal. Hanya ada suara radio butut tetangga sebelah dan detak jam dinding murah.
Arga berdiri tegak. Ia menarik napas dalam, merasakan udara Surabaya yang lembap memenuhi paru-parunya. Saat ia mengangkat tangan untuk takbiratul ihram, ia tidak merasa sedang memulai sebuah prosedur formal. Ia merasa sedang membuka sebuah pintu gerbang komunikasi pribadi yang selama ini tersumbat oleh ego kelompok.
"Allahu Akbar," bisiknya lirih.
Suaranya hampir tidak terdengar, namun getarannya mengguncang palung jiwanya sendiri. Di dalam kesendirian itu, Arga menyadari bahwa tidak ada lagi "polisi moral" yang akan menghakiminya jika bacaannya sedikit lambat karena ia sedang meresapi akar kata bahasa Arab yang baru ia pelajari. Tidak ada lagi Ayah atau Ustadz Ghafur yang akan menegurnya jika ia bersujud terlalu lama hanya untuk sekadar menangis tanpa suara.
Ia membaca surat-surat pendek dengan cara yang berbeda. Ia tidak lagi sekadar melafalkan bunyi, tetapi melihat setiap ayat sebagai pesan langsung yang ditujukan kepadanya. Saat ia membaca Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in, Arga berhenti sejenak. Air matanya meleleh. Selama ini, "Iyyaka"—Hanya kepada-Mu—sering kali secara tidak sadar tergeser oleh "Hanya kepada sistem yayasan" atau "Hanya kepada persetujuan Ayah"
Sekarang, ia benar-benar hanya punya Allah. Tanpa bayang-bayang Wiryadinata, tanpa perlindungan nama besar, tanpa uang simpanan. Keterdesakan ini justru menjadikan salatnya sebagai sarana pertahanan spiritual yang paling murni.
Keesokan harinya, saat istirahat siang di bengkel Koh Ahong, Arga meminta izin untuk melakukan salat di sela-sela tumpukan besi tua di bagian belakang bengkel. Koh Ahong, yang sedang mengelap kacamata tebalnya, menatap Arga dengan rasa ingin tahu.
"Ar, saya lihat kamu kalau sembahyang tidak pernah buru-buru. Beda sama kuli-kuli sebelum kamu yang biasanya cuma 'nungging-bangun' dua menit selesai. Kamu sedang minta apa sama Tuhanmu sampai lama begitu?" tanya Koh Ahong dengan nada bercanda namun penuh selidik.
Arga tersenyum, menyeka sisa air wudu di wajahnya. "Saya tidak sedang minta apa-apa yang aneh, Koh. Saya cuma sedang... meluruskan punggung jiwa saya."
"Meluruskan punggung jiwa? Memang jiwa bisa bungkuk?"
"Bisa, Koh. Kalau terlalu banyak memikul ekspektasi orang lain, jiwa kita jadi bungkuk. Kalau terlalu lama berpura-pura jadi orang lain, jiwa kita jadi bengkok. Di dalam salat, saya merasa sedang ditarik kembali supaya tegak. Di hadapan Tuhan, saya tidak perlu pakai topeng. Dia sudah tahu saya ini cuma kuli las yang sedang mencoba jujur."