Pagi itu, Surabaya sedang tidak ramah. Hujan sisa semalam meninggalkan aroma tanah basah yang bercampur dengan bau karat dari tumpukan besi di bengkel Koh Ahong. Arga berdiri di depan sebuah cermin kecil yang retak di sudut tempat wudu. Ia menatap bayangannya sendiri—seorang pria dengan kulit yang kini menggelap terbakar matahari, tangan yang kasar penuh bekas luka las, dan mata yang tampak lebih cekung namun menyimpan binar yang belum pernah ada sebelumnya.
Tiba-tiba, sebuah pikiran melintas, sebuah residu memori dari ceramah Ustadz Ghafur di aula yayasan setahun yang lalu: "Manusia itu pada dasarnya lemah, hina, dan penuh noda hitam. Tanpa bimbingan ketat dari organisasi kita, kalian hanyalah onggokan daging yang akan membusuk di neraka."
Dulu, Arga akan mengangguk, merasa kecil, dan membiarkan rasa bersalah yang diciptakan secara sistematis itu menguasai batinnya. Namun sekarang, sambil membasuh wajahnya dengan air dingin, ia merasakan penolakan yang instingtif dari dalam dadanya.
"Tidak," gumamnya, suaranya tenggelam oleh bunyi air keran. "Aku bukan onggokan daging yang hina."
Sepanjang hari itu, sambil tangannya sibuk menyatukan bilah-bilah besi pagar, otak Arga bekerja membedah sebuah konsep teologis yang selama ini menjadi fondasi kekuasaan di keluarganya: doktrin tentang keberadaan manusia yang dianggap "kotor" jika tidak bernaung di bawah bendera kelompok mereka.
Di lingkungan Wiryadinata, rasa percaya diri dianggap sebagai bentuk awal dari kesombongan. Mereka menanamkan ide bahwa manusia adalah makhluk yang secara inheren cacat, sehingga satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menyerahkan otoritas berpikir kepada pemimpin yayasan. Itu adalah sebuah bentuk "pembunuhan karakter" spiritual yang dilakukan secara halus atas nama ketawadukan.
Arga teringat bagaimana setiap kali ia melakukan kesalahan kecil—seperti terlambat salat berjemaah atau mempertanyakan sebuah kebijakan—ia dipaksa untuk merasa sebagai pendosa besar yang tidak layak mendapatkan kasih sayang Tuhan. Rasa rendah diri itu adalah rantai yang lebih kuat daripada gerbang besi rumahnya.
"Kalau aku kotor, kenapa Tuhan memilihku untuk menjadi saksi keindahan ayat-ayat-Nya?" pikir Arga sambil mengarahkan stang las ke sambungan besi.
Percikan api las memercik, menerangi kegelapan di bawah helm pelindungnya. Arga teringat satu istilah yang baru saja ia bedah semalam dari kamus bahasa Arabnya: Ahsani Taqwim.
Waktu istirahat tiba. Arga duduk di atas peti kayu, membuka mushaf kecilnya. Ia mencari Surah At-Tin ayat 4. Ia membaca kata demi kata, mencoba melepaskan diri dari tafsir "siap saji" yang dulu diberikan kepadanya.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya—Ahsani Taqwim."
Arga terdiam. Ia meraba jemarinya yang kasar. Ahsani Taqwim. Sebaik-baik bentuk. Ini bukan hanya soal simetri wajah atau kekuatan fisik. Ini adalah pernyataan dari Sang Pencipta bahwa setiap sel di dalam tubuhnya, setiap getaran dalam pikirannya, dan setiap kapasitas dalam jiwanya adalah sebuah karya agung.
Jika Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa ciptaan-Nya adalah yang terbaik, siapakah Wiryadinata yang berani mengatakan bahwa manusia itu kotor dan hina?
Arga menyadari bahwa doktrin "manusia kotor" adalah alat politik untuk menciptakan ketergantungan. Jika orang merasa dirinya kotor, mereka akan mencari "pembersih" eksternal, dan di sanalah yayasan masuk sebagai agen pembersih yang memegang monopoli atas tiket surga.
"Tuhan tidak menciptakan sampah," bisik Arga pada dirinya sendiri.