Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #23

Chapter 23: Menulis di Sunyi

Surabaya di malam hari adalah orkestra dari suara klakson, deru mesin pabrik yang tidak pernah tidur, dan teriakan pedagang kaki lima di ujung gang. Namun, di dalam kamar kos Arga yang berukuran dua kali tiga meter, sunyi adalah penguasa tunggal. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari layar laptop bekas yang ia beli dengan menyisihkan hampir seluruh uang lembur dari bengkel Koh Ahong selama dua bulan. Laptop itu sedikit berisik, kipasnya berputar kencang seolah memprotes beban kerja yang diterimanya, namun bagi Arga, benda ini adalah jembatan menuju dunia yang lebih luas.

​Arga duduk bersila di atas kasur tipisnya. Jemarinya yang masih menyisakan bekas noda oli—meski sudah digosok sekuat tenaga—bergetar sedikit di atas papan tik. Ada keraguan yang menggelayuti hatinya. Selama berbulan-bulan, ia hanya menuangkan kegelisahannya di atas kertas-kertas kumal. Kini, ia berniat melepaskan pikiran-pikiran itu ke dunia digital yang kejam.

​"Bismillah," bisiknya pelan.

​Ia membuka sebuah platform blog gratisan. Ia tidak menggunakan namanya. Ia tidak ingin Arga Wiryadinata ditemukan, apalagi Arga si kuli las. Ia memilih nama pengguna: "Al-Ghuraba"—Sang Asing. Sebuah penghormatan pada sebuah hadis yang menyatakan bahwa agama ini dimulai dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing.

​Tulisan pertamanya tidak memiliki judul yang bombastis. Ia hanya menuliskan sebuah judul: Catatan dari Pinggiran.

​"Selama bertahun-tahun, aku hidup di dalam sebuah kotak kaca yang disebut kesucian," Arga mulai mengetik. Kata-kata mengalir seperti air bah yang akhirnya menemukan celah di bendungan. "Di dalam kotak itu, aku diberitahu bahwa langit hanya berwarna satu, dan siapa pun yang melihat warna lain adalah musuh. Aku diberitahu bahwa Tuhan adalah milik sebuah yayasan, dan kunci surga dipegang oleh seorang pemandu yang lisannya tak boleh dibantah. Tapi hari ini, di sela-sela debu pasar dan percikan api las, aku melihat Tuhan di tempat-tempat yang mereka sebut nista."

​Arga berhenti sejenak. Ia teringat wajah ayahnya. Ia teringat tatapan tajam Ustadz Ghafur. Rasa takut itu masih ada, namun kini ia memiliki perisai baru: kebenaran yang ia temukan melalui keringatnya sendiri.

​"Kita telah mereduksi agama menjadi birokrasi batin. Kita lebih sibuk menghitung panjang jenggot daripada luasnya kasih sayang. Kita lebih takut pada aturan organisasi daripada pada ketidakadilan yang kita lakukan terhadap fitrah kita sendiri. Tulisan ini bukan untuk menghancurkan, tapi untuk mengajakmu pulang. Pulang ke dalam dirimu sendiri, tempat di mana 'Ahsani Taqwim' itu sebenarnya bersemayam."

​Ia menekan tombol Publish. Ada sensasi dingin yang merambat di punggungnya. Ia merasa baru saja melemparkan sebuah obor ke dalam gudang mesiu yang selama ini tertutup rapat.

​Keesokan harinya, Arga kembali menjadi kuli las di bengkel Koh Ahong. Tidak ada yang tahu bahwa pria yang sedang berkutat dengan besi pagar itu adalah penulis di balik blog yang mulai dibicarakan orang.

​"Ar, itu las-lasanmu kurang tebal sedikit di bagian pojok. Jangan melamun," tegur Koh Ahong sambil mengunyah camilan kacang.

​"Maaf, Koh. Lagi mikir sambungan yang pas," jawab Arga sambil kembali menurunkan helm lasnya.

​Arga tersenyum di balik topeng hitamnya. Memang benar ia sedang memikirkan "sambungan". Namun bukan sambungan besi, melainkan sambungan antara wahyu dan realitas sosial yang sedang ia bedah di malam hari. Ia menikmati kehidupan ganda ini. Menjadi manusia yang tidak terlihat memberinya perspektif yang jernih. Di bengkel, ia belajar tentang struktur dan kekuatan; di malam hari, ia mengubah kekuatan itu menjadi kalimat-kalimat yang tajam.

​Hari demi hari, Arga terus menulis. Ia menulis tentang posisi perempuan yang sering dipinggirkan dalam interpretasi patriarki yayasannya. Ia menulis tentang bagaimana zakat dan sedekah sering kali hanya menjadi alat untuk memperkaya institusi ketimbang membebaskan si miskin dari jerat utang. Setiap tulisannya didasarkan pada analisis akar kata bahasa Arab yang ia pelajari di sela-sela waktu istirahat. Ia tidak bicara berdasarkan emosi semata, melainkan berdasarkan "kosakata baru" yang ia bedah secara mandiri.

​Ledakan yang Tak Terduga

​Dua minggu kemudian, saat Arga membuka laptopnya di sebuah warnet karena koneksi di kosnya mati, ia terperangah. Blog sederhananya telah dikunjungi oleh ribuan orang. Tulisan terakhirnya yang berjudul "Tuhan Tidak Butuh Polisi Moral" telah dibagikan ribuan kali di media sosial.

​Di kolom komentar, pertempuran sedang berlangsung.

Lihat selengkapnya