Gelombang itu datang tepat saat azan Magrib berkumandang di langit Surabaya yang mulai kelabu. Arga baru saja merebahkan punggungnya yang pegal setelah seharian mengangkat pipa-pipa besi seberat 20 kilogram di bengkel Koh Ahong. Ketika ia menyalakan laptop bekasnya, layar yang biasanya hanya dipenuhi notifikasi surel pembaca yang mengharukan, kini berubah menjadi medan tempur yang bergejolak.
Dalam hitungan jam, blog Al-Ghuraba dihujani ratusan, bahkan ribuan komentar. Peladen blog gratisan itu hampir tumbang karena lonjakan trafik yang tidak wajar. Namun, bukan jumlahnya yang membuat jantung Arga berdegup kencang, melainkan isinya. Ini bukan lagi diskusi, ini adalah upaya "pembunuhan massal" terhadap pemikirannya.
Arga membaca satu per satu. Kelompok pertama adalah mereka yang hanya bisa mencaci maki. Tanpa argumen, tanpa logika, hanya kumpulan kata-kata kotor yang dibungkus dengan simbol-simbol religius.
"Kafir liberal! Beraninya kau menafsirkan agama dengan otak udangmu!" tulis akun bernama 'PedangKeadilan'.
"Penghuni neraka sudah memesan kursi untukmu, Al-Ghuraba. Kau lebih buruk dari iblis karena menyesatkan umat dengan kata-kata indah," tulis akun lain yang menggunakan foto profil seorang ustaz berjenggot panjang.
Arga menarik napas panjang. Ia teringat kembali pada konsep fitrah yang baru saja ia pelajari. Jika manusia diciptakan dalam bentuk terbaik, mengapa mereka memilih untuk memuntahkan sampah dari lisan mereka? Ia menyadari bahwa caci maki adalah pertahanan terakhir bagi mereka yang sudah kehabisan argumen. Saat doktrin yang mereka puja selama puluhan tahun tersentuh oleh nalar, rasa takut akan runtuhnya struktur dunia mereka berubah menjadi agresi.
Ia tidak membalas. Sedikit pun tidak. Ia teringat ajaran Koh Ahong tentang "besi panas". Jika besi sedang merah membara karena api, jangan kau sentuh dengan tangan telanjang, kau hanya akan ikut terbakar. Biarkan ia mendingin dengan sendirinya.
Kelompok kedua lebih berbahaya. Mereka adalah para "intelektual penjaga gawang" dari yayasan-yayasan besar—termasuk milik ayahnya. Mereka tidak mencaci; mereka mengajak adu argumen dengan gaya yang sangat formal dan intimidatif. Mereka datang dengan "senjata" andalan berupa tumpukan hadis, riwayat para perawi, dan kutipan dari tokoh-tokoh besar yang selama ini mereka puja layaknya dewa.
Sebuah akun bernama 'KhadimulHaram' menulis sebuah komentar panjang yang langsung mendapatkan ribuan suka.
"Wahai Al-Ghuraba, kau bicara tentang kebebasan berpikir, tapi kau mengabaikan hadis riwayat imam ini dan itu yang sanadnya sahih hingga ke langit. Kau mengutip ayat Al-Qur'an sesukamu, tapi kau lupa bahwa tokoh-tokoh hebat seperti Syekh Fulan telah mengharamkan penafsiran nalar semacam itu. Siapa kau dibanding mereka? Kau hanya debu di bawah kaki para ulama kami. Berhentilah sebelum sanadmu terputus!"
Arga duduk terdiam, jemarinya berada di atas papan tik. Egonya sempat tergelitik. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia adalah Arga Wiryadinata, anak dari orang yang mereka puja, yang tahu betul betapa rapuhnya sanad kekuasaan di balik senyum bijaksana ayahnya. Namun, ia menahan diri. Menggunakan ego untuk melawan ego hanya akan memperkuat dinding penjara itu.
Ia mulai mengetik balasannya. Tenang, tanpa emosi, namun sangat tajam.
"Terima kasih atas pertanyaannya," tulis Arga. "Aku tidak sedang meremehkan sejarah atau tokoh-tokoh hebat di masa lalu. Namun, pertanyaanku sederhana: Jika Al-Qur'an menyatakan diri-Nya sebagai Tibyanan li kulli shay' (Penjelasan atas segala sesuatu—QS An-Nahl: 89), mengapa kau merasa Al-Qur'an tidak cukup jika tidak didampingi oleh tumpukan riwayat yang terkadang justru bertabrakan dengan prinsip keadilan dalam Al-Qur'an itu sendiri?"
Arga melanjutkan tulisannya dengan mengutip lembaran-lembaran Al-Qur'an yang ia bedah setiap malam. Ia menunjukkan bagaimana Al-Qur'an selalu memanggil "Ulul Albab"—orang-orang yang menggunakan akal untuk merenung—sementara lawannya selalu memanggil orang untuk "Sami'na wa Atho'na"—kami dengar dan kami taat kepada manusia, bukan kepada Tuhan.
"Kalian memuja perawi dan tokoh-tokoh hebat seolah mereka adalah pemberi syariat. Padahal, Nabi Muhammad sendiri diutus untuk membawa Al-Qur'an, bukan untuk menciptakan kasta baru bernama 'pemilik kebenaran'. Mari kita kembali ke Kitabullah. Apakah ada satu saja ayat yang menyuruh kita mematikan nalar kita demi menaati sebuah kelompok atau institusi?"
Malam semakin larut. Warung kopi di bawah kos Arga mulai sepi, namun di dunia maya, pertempuran justru semakin sengit. Balasan Arga memicu kemarahan kolektif. Mereka mulai mengirimkan potongan-potongan video ceramah ayah Arga dan Ustadz Ghafur sebagai senjata penekan.