Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #25

Chapter 25: Membongkar Eskatologi

Matahari Surabaya merangkak naik dengan angkuh, memanaskan atap seng bengkel Koh Ahong hingga udara di dalamnya terasa seperti oven raksasa. Arga sedang jongkok, memotong besi beton menggunakan gerinda. Percikan api yang berpijar terang menyambar-nyambar apron kulitnya, namun pikirannya melayang jauh ke masa sepuluh tahun yang lalu, di sebuah ruang pertemuan eksklusif milik yayasan ayahnya.

​Saat itu, ia duduk di barisan depan, mendengarkan seorang penceramah kondang yang diundang khusus untuk membicarakan "tanda-tanda akhir zaman". Sang penceramah bicara dengan nada yang menggelegar, penuh ancaman, dan deskripsi grafis tentang kehancuran dunia yang sudah di depan mata. Ia ingat betul bagaimana suasana ruangan saat itu: ketakutan yang mencekam menyelimuti para jemaah. Hasilnya? Banyak dari mereka yang pulang dengan membawa pesimisme. Mahasiswa-mahasiswa cerdas di yayasan itu mulai kehilangan minat pada riset sains mereka; mereka pikir, untuk apa membangun peradaban jika besok dunia akan hancur?

​"Ar! Berhenti dulu! Mata gerindanya sudah aus itu, ganti dulu daripada pecah!" teriak Koh Ahong memecah lamunan Arga.

​Arga tersentak, mematikan mesin, dan melihat mata gerinda yang memang sudah menipis drastis. Ia menarik napas panjang, menyeka keringat yang bercampur debu besi di dahinya. "Iya, Koh. Hampir lupa."

​Malam harinya, setelah sisa-sisa energi fisiknya nyaris habis, Arga duduk di depan laptop bekasnya. Ia membuka lembaran Al-Qur'an dan kamus bahasa Arabnya, fokus pada kata As-Sa'ah (kiamat) dan Al-Akhirah. Ia ingin membedah mengapa narasi eskatologi—ilmu tentang akhir zaman—begitu efektif digunakan oleh organisasi lamanya untuk mengontrol massa.

​Ia mulai mengetik di blog Al-Ghuraba dengan judul: "Eskatologi Ketakutan – Mengapa Kita Berhenti Menanam Pohon?"

​"Aku pernah hidup di tengah orang-orang yang setiap harinya menghitung hari kiamat," tulis Arga. "Mereka hafal di luar kepala tentang munculnya Dajjal, warna kulit Imam Mahdi, hingga lokasi persis pertempuran akhir zaman. Namun ironisnya, mereka lupa cara mencintai bumi yang mereka pijak sekarang. Mereka berhenti menabung, mereka mengabaikan pendidikan anak-anak mereka dengan alasan 'toh sebentar lagi dunia kiamat', dan mereka menjadi manusia yang lumpuh secara produktivitas."

​Arga berhenti sejenak, meresapi setiap kata. Ia teringat bagaimana ayahnya sering menggunakan narasi "dunia sudah rusak" untuk membenarkan isolasi kelompok mereka. Dengan menciptakan musuh imajiner dan konspirasi akhir zaman, yayasan berhasil menarik loyalitas buta. Jika dunia ini kapal yang akan tenggelam, maka yayasan adalah satu-satunya sekoci penyelamat.

​"Ini adalah bentuk manipulasi psikologis yang paling jahat," lanjut Arga. "Ketika manusia diberikan ketakutan akan masa depan yang tidak pasti, mereka akan menyerahkan otoritas hidupnya kepada siapa pun yang menawarkan 'jaminan keselamatan'. Kita telah mengubah eskatologi dari sebuah pengingat akan pertanggungjawaban di hadapan Tuhan, menjadi industri ketakutan yang mematikan nalar dan etos kerja."

​Arga mulai masuk ke dalam inti studinya. Ia mengutip ayat-ayat tentang hari kiamat, namun ia memberikan perspektif yang berbeda—perspektif yang ia temukan dari kejujuran nalar dan analisis bahasa.

​"Dalam Al-Qur'an, kiamat sering disebut sebagai 'As-Sa'ah'. Namun, perhatikanlah bagaimana Allah memerintahkan kita menghadapi ketidakpastian itu. Ada sebuah hadis yang sangat kuat—yang sayangnya sering diabaikan oleh para pedagang ketakutan—yang menyatakan: 'Jika hari kiamat tiba dan di tangan salah seorang dari kalian ada bibit pohon, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya'."

​Arga mengetik dengan semangat yang menggebu.

​"Tanamlah pohon itu! Allah tidak menyuruh kita duduk bersila meratapi awan hitam atau sibuk mencocokkan ramalan. Allah menyuruh kita bekerja hingga detik terakhir. Menanam pohon adalah simbol produktivitas, keberlanjutan, dan optimisme. Agama ini diturunkan untuk membangun manusia yang tangguh, bukan pengecut yang lari dari realitas dengan alasan eskatologis."

Lihat selengkapnya