Gemericik air keran di sudut bengkel Koh Ahong menjadi latar belakang yang monoton saat Arga membasuh lengannya yang legam oleh debu elektroda. Hari ini, sebuah pagar minimalis pesanan kontraktor perumahan di Sidoarjo baru saja selesai dikerjakan. Arga menatap sambungan besi yang rapi, hasil karyanya sendiri. Ada kepuasan fisik yang nyata di sana, namun di dalam kepalanya, perdebatan digital semalam masih menyisakan dengung yang tak kunjung hilang.
Semalam, seorang pengguna internet dengan nama akun "PenjagaSunnah" melontarkan rentetan argumen yang menggunakan potongan-potongan ayat untuk membenarkan tindakan kekerasan verbal. Arga sempat terpancing. Ia hampir saja membalas dengan deretan ayat lain yang bernada serupa untuk membungkam lawan bicaranya. Namun, tangannya berhenti di atas papan tik. Ia teringat pada satu nama yang selama ini ia pelajari: Al-Furqan.
"Kalau aku cuma lempar-lemparan ayat buat menang debat, apa bedanya aku sama Ustadz Ghafur?" bisik Arga pada bayangannya di air wastafel.
Di kamar kosnya malam itu, Arga tidak langsung menyentuh laptop. Ia duduk bersila dengan mushaf peninggalan Paman Idris yang sudah mulai menguning ujung-ujungnya. Ia merenungkan judul bab yang akan ia tulis berikutnya: Al-Furqan sebagai Pedang. Namun, pedang yang ia maksud bukan senjata logam yang menumpahkan darah, melainkan pembeda (furqan) yang memisahkan antara kebenaran yang logis dan kebatilan yang emosional.
Selama di Wiryadinata, ayat-ayat Al-Qur'an diperlakukan seperti peluru. Ayat diambil secara acak, diputus dari konteksnya, lalu ditembakkan kepada siapa pun yang tidak sejalan. "Gunakan ayat ini untuk membungkam orang liberal," atau "Pakai ayat itu untuk menakuti orang yang malas sedekah." Al-Qur'an tidak lagi menjadi petunjuk, melainkan alat pukul intelektual.
Arga mulai mengetik. Jemarinya bergerak perlahan, seolah setiap ketukan adalah pahatan pada batu.
"Banyak orang mengira bahwa Al-Furqan adalah senjata untuk menghakimi orang lain," tulis Arga. "Padahal, Furqan adalah cahaya untuk menghakimi diri sendiri. Ia adalah pembeda antara bisikan ego yang ingin merasa paling benar, dengan suara kebenaran yang membawa ketenangan. Malam ini, aku menyadari bahwa mengutip ayat tanpa menggunakan nalar—aql—adalah sebuah penghinaan terhadap Kitab Suci itu sendiri."
Ia berhenti, lalu menarik napas dalam-dalam. Ia ingin menjelaskan betapa logis dan manusiawinya pesan-pesan Tuhan jika dilepaskan dari belenggu doktrin kelompok.
Arga mengambil contoh sebuah perdebatan klasik yang sering dipakai kelompok lamanya tentang "loyalitas dan berlepas diri"—al-wala' wal bara'. Di yayasan, doktrin ini digunakan untuk memusuhi siapa pun di luar kelompok mereka, bahkan sesama muslim yang berbeda organisasi. Mereka menggunakan ayat-ayat perang untuk situasi damai.
"Mari kita gunakan Furqan," lanjut Arga dalam tulisannya. "Allah adalah Ar-Rahman—Maha Pengasih. Logika dasarnya adalah kasih sayang. Jika ada sebuah penafsiran ayat yang justru melahirkan kebencian yang tidak berdasar, merusak silaturahmi, dan menciptakan perpecahan, maka pastilah penafsiran itu yang bermasalah, bukan ayatnya. Al-Qur'an adalah kitab yang sangat logis. Ia tidak menuntut kita untuk menjadi robot yang patuh tanpa mengerti, melainkan mengajak kita untuk 'afala ta'qilun'—apakah kalian tidak menggunakan akal?"
Arga mulai membedah bagaimana Al-Qur'an selalu memberikan alasan di balik setiap perintah-Nya. Salat diperintahkan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar—sebuah fungsi sosial yang logis. Puasa diperintahkan agar manusia belajar disiplin diri dan empati—sebuah fungsi psikologis yang nyata. Tidak ada perintah yang kosong dari manfaat kemanusiaan.
Keesokan sorenya, saat Arga sedang menikmati kopi hitam di warung dekat bengkel, ia dihampiri oleh seorang pemuda bernama Taufik. Taufik adalah salah satu pengikut setia sebuah majelis yang cukup keras di Surabaya. Rupanya, Taufik mulai mengenali profil "Arga si tukang las" dan mencurigainya sebagai sosok di balik Al-Ghuraba karena beberapa kemiripan diksi yang sering Arga ucapkan saat mereka tak sengaja mengobrol.
"Mas Arga," panggil Taufik dengan nada menyelidik. "Saya baca tulisan Al-Ghuraba semalam. Katanya Al-Qur'an itu harus logis. Tapi bukankah agama itu soal iman? Iman itu percaya tanpa bertanya. Kalau semua dilogikakan, di mana letak ketaatannya?"