Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #27

Chapter 27: Keadilan Gender dalam Al-Quran

Hujan deras mengguyur Surabaya sore itu, menciptakan tirai air yang memisahkan Arga dari hiruk-pikuk pasar di luar bengkel. Koh Ahong sudah pulang lebih awal karena ada urusan keluarga, meninggalkan Arga sendirian di antara tumpukan besi tua dan aroma tajam cairan pembersih karat. Arga duduk di atas kursi plastik yang kakinya sedikit goyang, menatap sebuah foto kecil yang ia simpan di dalam dompetnya—foto Nelce, wanita yang menjadi muara dari banyak doanya.

​Ia teringat sebuah percakapan telepon dengan Nelce beberapa malam lalu. Nelce bercerita tentang seorang temannya yang merasa tertekan karena dilarang melanjutkan pendidikan tinggi oleh suaminya dengan alasan "kodrat wanita adalah di dapur" dan kutipan ayat yang dipaksakan untuk mendukung argumen tersebut. Nelce bertanya dengan suara getir, "Mas, apakah benar Tuhan menciptakan kami hanya untuk menjadi bayang-bayang lelaki? Apakah benar surga kami terkunci di bawah telapak kaki orang yang kadang justru mematahkan sayap kami?"

​Pertanyaan itu menghunjam jantung Arga. Di yayasan Wiryadinata, posisi perempuan memang sangat terbatas. Mereka adalah objek ketaatan, mesin reproduksi bagi para "pejuang", dan suara mereka jarang sekali terdengar di ruang-ruang pengambilan keputusan. Arga merasa inilah saatnya ia mengarahkan Pedang Al-Furqan untuk membedah tirai patriarki yang selama ini menyelimuti teks-teks suci.

​Malam harinya, di bawah temaram lampu kos yang berkedip, Arga membuka catatan-catatan lamanya. Ia mulai mengetik dengan judul yang berani: "Bukan Tulang Rusuk yang Bengkok: Menggugat Tafsir Patriarki".

​"Aku besar di sebuah lingkungan yang memuja maskulinitas sebagai satu-satunya otoritas," tulis Arga. "Kami diajarkan bahwa lelaki adalah pemimpin karena memiliki kelebihan fisik dan akal, sementara perempuan adalah makhluk emosional yang rawan fitnah. Tapi hari ini, aku bertanya: Apakah itu kata Tuhan, atau hanya kata para lelaki yang takut kehilangan kendali?"

​Arga mulai membedah kata qawwam yang sering disalahartikan sebagai "penguasa" atau "pemimpin diktator". Ia mencari akar katanya di dalam kamus bahasa Arab yang tebal.

​"Kata qawwam dalam Surah An-Nisa ayat 34 berasal dari akar kata qama, yang berarti berdiri atau tegak. Makna aslinya adalah pemberi dukungan, penanggung jawab, atau pelindung. Ini bukan tentang hierarki kekuasaan, melainkan pembagian beban tanggung jawab. Jika seorang lelaki menggunakan kata ini untuk membungkam aspirasi istrinya, dia tidak sedang menjalankan perintah Tuhan; dia sedang memuaskan egonya dengan meminjam lisan Pencipta."

​Arga mengetik dengan cepat, kemarahan yang tenang mengalir melalui ujung jarinya. Ia teringat bagaimana banyak hadis tentang perempuan digunakan tanpa melihat konteks sosiologis saat hadis itu muncul, sehingga menciptakan kesan bahwa perempuan adalah sumber petaka.

​Arga kemudian masuk ke esensi penciptaan manusia. Ia membuka Surah An-Nisa ayat 1. "Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari diri yang satu—Nafsin Wahidah..."

​"Tuhan tidak menciptakan lelaki lebih dulu sebagai prototipe dan perempuan sebagai pelengkap yang diambil dari tulang rusuk," Arga menuangkan nalar Furqan-nya ke dalam tulisan. "Istilah 'Nafsin Wahidah' menunjukkan kesetaraan ontologis. Lelaki dan perempuan berasal dari substansi yang sama, memiliki ruh yang sama, dan diberikan amanah yang sama sebagai pengelola bumi. Tidak ada kasta gender di mata Tuhan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan, dan ketakwaan tidak mengenal kromosom."

​Ia juga membedah sejarah keberanian perempuan di masa awal Islam. Ia menulis tentang Ummu Salamah yang kritis mempertanyakan mengapa Al-Qur'an sering menyapa laki-laki saja, hingga akhirnya Tuhan menurunkan ayat yang secara eksplisit menyebut "Innal Muslimina wal Muslimat..."—Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim. Arga ingin menunjukkan bahwa perempuan di zaman Nabi adalah subjek yang aktif, berani berdialog, dan dihargai pemikirannya.

Lihat selengkapnya