Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #28

Chapter 28: Takdir atau Pilihan?

Pagi itu, bengkel Koh Ahong kedatangan seorang pelanggan lama bernama Pak Marno. Beliau datang membawa sepeda motor butut yang rangkanya sudah keropos dimakan usia, meminta Arga untuk mengelas beberapa bagian agar tidak patah di tengah jalan. Sambil menunggu Arga bekerja, Pak Marno menghela napas panjang berkali-kali.

​"Sudah nasib, Mas Arga," keluh Pak Marno sambil menyulut rokok lintingannya. "Anak saya yang nomor dua terpaksa putus sekolah. Mau bagaimana lagi? Gusti Allah sepertinya memang menakdirkan keluarga saya begini terus. Miskin tujuh turunan. Saya sudah nrimo saja, mungkin ini jalan surga buat orang kecil seperti saya."

​Arga menghentikan sejenak aliran listrik pada stang lasnya. Ia mengangkat helm pelindungnya, menatap mata Pak Marno yang tampak redup dan penuh kepasrahan yang pahit. Kalimat "sudah nasib" dan "nrimo" itu bagaikan sembilu yang mengiris memori Arga. Di yayasan Wiryadinata, narasi serupa sering digunakan untuk menjinakkan mereka yang kritis. Pihak yayasan sering mendengungkan bahwa ketidakadilan sosial, kemiskinan jemaah, dan kebijakan pemimpin yang otoriter adalah bagian dari "skenario Tuhan" yang tidak boleh digugat.

​"Pak Marno," suara Arga terdengar berat namun lembut di tengah bisingnya gerinda dari sudut lain. "Besi motor Bapak ini keropos karena kena air hujan dan tidak pernah dicat pelindung. Itu sebab-akibat. Kalau Bapak bilang ini takdir Tuhan supaya motornya keropos, menurut saya, Bapak sedang memfitnah Tuhan."

​Pak Marno tertegun, rokoknya hampir jatuh dari bibir. Arga kembali menurunkan helm hitamnya, membiarkan percikan api menjawab kebisuan sesaat itu.

​Malam harinya, di dalam kamar kos yang pengap, Arga duduk bersila menghadap laptopnya. Kata-kata Pak Marno terus terngiang. Ia mulai mengetik dengan judul yang menusuk: "Tuhan Tidak Pernah Merancang Kemiskinan – Menggugat Berhala Fatalisme".

​"Aku sering melihat orang-orang yang menyerah sebelum bertarung, lalu menggunakan nama Tuhan sebagai tameng atas kemalasan atau ketakutan mereka sendiri," tulis Arga. "Fatalisme—atau yang sering kita sebut sebagai konsep 'takdir' yang salah kaprah—telah menjadi candu yang lebih berbahaya daripada narkotika. Di tangan penguasa yang zalim, doktrin ini digunakan untuk membungkam rakyat agar tidak menuntut haknya. Di tangan individu yang putus asa, ia digunakan untuk memaklumi kebodohan."

​Arga membedah istilah Jabariyah—sebuah aliran pemikiran dalam sejarah Islam yang percaya bahwa manusia tidak memiliki kehendak sama sekali, seperti bulu yang diterbangkan angin. Ia menyadari bahwa meskipun secara teologis aliran ini sering dianggap menyimpang, secara praktis, mentalitas inilah yang merajai sebagian besar masyarakat di sekelilingnya.

​"Kita sering kali keliru membedakan antara takdir (qadar) dan pilihan (ikhtiar). Tuhan memang Mahatahu, tapi pengetahuan Tuhan tidak memaksa kita untuk menjadi jahat atau menjadi miskin. Jika kita memilih untuk tidak belajar, lalu kita menjadi bodoh, apakah itu takdir Tuhan? Tidak. Itu adalah hasil dari pilihan kita yang menghina potensi akal yang telah Dia berikan."

​Arga membuka lembaran Surah Ar-Ra'd ayat 11. Ayat yang sangat populer, namun sering kali hanya menjadi slogan tanpa diresapi maknanya secara radikal.

​"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri..."

Lihat selengkapnya