Angin malam Surabaya berembus membawa aroma sate klopo dan bising knalpot yang tak pernah benar-benar reda. Arga baru saja menyelesaikan tulisan tentang fatalisme semalam, namun pagi ini perasaannya berbeda. Ada semacam getaran di saku celana kerjanya yang bernoda oli. Sejak blog Al-Ghuraba mulai viral, notifikasi surel yang masuk bukan lagi sekadar caci maki atau pujian abstrak, melainkan narasi-narasi hidup yang berat, nyata, dan menuntut jawaban.
Di pojok bengkel, sambil menunggu Koh Ahong yang sedang menimbang pelat besi, Arga membuka ponselnya. Satu pesan masuk dari seorang pemuda di Bandung menarik perhatiannya.
"Mas Al-Ghuraba, namaku Dani. Aku mantan staf TI di sebuah lembaga dakwah besar. Selama tiga tahun aku bekerja di sana, aku melihat bagaimana data jemaah dikelola hanya untuk kepentingan kampanye politik sang pembina. Aku ingin bicara, tapi aku takut. Tulisanmu tentang 'Berhala Lisan' membuatku tidak bisa tidur. Apakah aku sendirian yang merasa agamanya telah dibajak?"
Arga menarik napas panjang. Ia teringat masa-masa ia merasa sebagai satu-satunya "orang aneh" di yayasan ayahnya. Rasa terisolasi itu lebih menyakitkan daripada kemiskinan. Kini, melalui platform digital yang sempat ingin dimatikan oleh musuh-musuhnya, ia menyadari bahwa ia sedang berdiri di depan pintu sebuah bendungan yang siap jebol.
Arga mulai membalas satu per satu pesan itu. Ia tidak lagi hanya memberikan kutipan ayat, ia memberikan telinga. Ia menyadari bahwa komunitas tidak harus dimulai dengan penggalangan dana atau struktur organisasi yang kaku. Komunitas dimulai dengan pengakuan atas luka yang sama.
"Dani," Arga mengetik dengan jempolnya yang kasar. "Kamu tidak sendiri. Kamu hanya sedang bangun di ruang di mana semua orang masih ingin tidur. Jangan takut pada kesunyianmu, karena di sana Tuhan sedang berbicara padamu tanpa perantara birokrasi."
Tiba-tiba, Sofia muncul di depan bengkel. Penjaga warnet itu tidak datang dengan tangan kosong. Ia membawa sebuah laptop yang layarnya sudah retak di pojok, namun masih berfungsi.
"Mas Arga, lihat ini," Sofia menyodorkan laptopnya. "Ada grup Telegram yang baru dibuat. Namanya 'Anak-Anak Fitrah'. Mereka semua pembaca blogmu. Anggotanya sudah mencapai tiga ratus orang dalam dua hari. Dan tebak apa? Banyak dari mereka adalah mantan pengikut yayasan Wiryadinata dan ustaz-ustaz besar lainnya."
Arga tertegun. Ia melihat daftar nama di grup itu. Nama-nama samaran, foto-foto profil pemandangan, namun diskusinya sangat dalam. Mereka membedah tulisan Arga tentang gender, takdir, dan eskatologi dengan tingkat intelektualitas yang jauh melampaui pengajian-pengajian formal yang pernah Arga ikuti.
"Ini bukan lagi sekadar blog, Mas," lanjut Sofia dengan binar mata yang penuh semangat. "Ini mulai menjadi gerakan. Gerakan nalar."
Malam itu, atas inisiatif Sofia, Arga setuju untuk bertemu dengan beberapa orang "inti" dari grup tersebut. Pertemuan dilakukan di sebuah warung kopi sederhana di dekat Jembatan Merah. Tempatnya cukup terbuka agar tidak menimbulkan kecurigaan, namun cukup bising untuk menyamarkan percakapan mereka dari telinga-telinga yang ingin tahu.
Hadir di sana seorang mantan ustaz muda bernama Hanif yang baru saja mengundurkan diri karena menolak memalsukan sejarah perawi hadis demi kepentingan organisasi. Ada juga seorang mahasiswi hukum bernama Laila yang vokal mengkritik kebijakan patriarki di kampusnya. Dan tentu saja, Dani yang sengaja datang dari Bandung hanya untuk bertemu sosok di balik nama Al-Ghuraba.