Gerimis tipis sisa hujan sore tadi masih meninggalkan aroma aspal basah yang khas di kawasan Wonokromo. Arga berjalan cepat menyusuri gang sempit di balik deretan toko buku bekas. Di tangannya, ia menggenggam secarik kertas berisi alamat sebuah rumah tua yang catnya sudah mengelupas. Malam ini bukan pertemuan di warung kopi yang bising; malam ini adalah reuni fisik pertama bagi sekelompok orang yang selama ini hanya berani bersuara di balik identitas anonim digital.
Saat ia mengetuk pintu kayu yang berat itu, jantungnya berdegup lebih kencang daripada biasanya. Ia bukan takut akan ancaman fisik, melainkan cemas akan ekspektasi. Di dunia maya, ia adalah "Al-Ghuraba", sosok yang dianggap memiliki jawaban atas segala kebuntuan teologis. Namun di sini, ia hanyalah Arga, pria dengan bekas luka bakar las di lengan dan bau keringat bengkel yang masih menempel di bajunya.
Pintu terbuka. Hanif, sang mantan ustaz muda yang ditemuinya tempo hari, menyambutnya dengan senyum lebar. Di ruang tengah yang hanya beralaskan karpet lusuh dan dikelilingi tumpukan kitab serta buku-buku filsafat, telah duduk enam orang lainnya.
Tidak ada jubah kebesaran. Tidak ada aroma dupa yang menyengat atau tata krama protokol yang kaku seperti di yayasan Wiryadinata. Ada seorang pemuda berambut gondrong dengan kaus band, seorang ibu rumah tangga yang tampak bersahaja, hingga seorang pria paruh baya yang terlihat seperti pensiunan PNS.
"Selamat datang, Ar," ujar Hanif sambil mempersilakan Arga duduk di antara mereka. "Kenalkan, ini adalah mereka yang selama ini menulis di grup Telegram. Ada yang datang dari Jombang, Malang, bahkan ada yang baru mendarat dari Jakarta."
Suasana ruangan itu tidak terasa seperti pengajian yang satu arah. Tidak ada panggung yang memisahkan antara "pemberi kebenaran" dan "penerima instruksi". Mereka duduk melingkar, setara dalam martabat, berbeda dalam pengalaman.
"Jujur, saya gemetar datang ke sini," buka seorang pria bernama Pak Baskoro, sang pensiunan yang ternyata mantan pengurus keuangan di sebuah organisasi keagamaan radikal. "Biasanya, kalau ada pertemuan seperti ini, agendanya adalah doktrinasi atau baiat. Tapi di grup Al-Ghuraba, saya merasa kita justru sedang belajar untuk tidak menjadi pengikut buta."
Arga terdiam sejenak, meresapi energi di ruangan itu. "Pak Baskoro dan rekan-rekan semua. Saya bukan guru. Saya hanya kuli las yang kebetulan tidak suka dengan kepalsuan. Di sini, kita tidak sedang membangun kelompok baru untuk membenci kelompok lama. Kita di sini untuk merayakan kembali nalar kita yang selama ini dipasung."
Diskusi malam itu dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan yang sangat mendasar. Laila, mahasiswi hukum yang vokal, melemparkan pemantik diskusi tentang adab dalam perbedaan.
"Bagaimana kita bisa berdiskusi tanpa harus merasa paling benar?" tanya Laila. "Di kampus saya, diskusi agama sering berakhir dengan tuduhan 'sesat' atau 'liberal' jika ada pemikiran yang sedikit keluar dari pakem."
Hanif menjawab dengan bijaksana, "Itulah masalahnya. Kita sering kali mencintai label lebih dari mencintai kebenaran. Kita menggunakan ayat untuk membentengi ego, bukan untuk mencerahkan hati. Adab yang hilang dari umat ini adalah adab mengakui keterbatasan fahm—pemahaman kita."