Pagi di Surabaya selalu datang dengan suara parau: deru mesin angkot yang membelah jalanan Wonokromo, teriakan penjual nasi pecel, dan dentang besi yang dipukul di bengkel Koh Ahong. Arga memulai hari dengan sisa kehangatan dari pertemuan semalam. Di tangannya, stang las menyemburkan percikan api biru yang menyilaukan, menyatukan dua bilah baja pesanan proyek pagar gudang. Namun, pikirannya melayang melampaui percikan api itu. Ia merenungkan satu hal yang sempat menjadi perdebatan kecil di grup "Anak-Anak Fitrah": Setelah kita keluar dari institusi dogma, kita mau ke mana?
Pertanyaan itu krusial. Banyak orang yang keluar dari satu jeruji hanya untuk mencari jeruji baru yang lebih nyaman. Mereka haus akan identitas. Mereka ingin membangun "kita" yang baru untuk melawan "mereka" yang lama. Namun, Arga merasa ada yang salah dengan pola pikir itu. Jika mereka membangun organisasi, menetapkan ketua, dan membuat AD/ART yang kaku, bukankah mereka hanya sedang menciptakan replika dari Wiryadinata dengan rasa yang berbeda?
"Ar, jangan melamun. Fokus ke sambungannya, nanti keropos," tegur Koh Ahong sambil meletakkan segelas kopi hitam di meja kerja Arga.
Arga tersentak, lalu tersenyum. "Iya, Koh. Besi ini kalau cuma ditempel memang kelihatan kuat, tapi kalau tidak meresap ke pori-porinya, sekali hantam juga lepas."
Kata-kata itu seolah menjadi wahyu kecil bagi Arga. Iman juga begitu. Ia tidak boleh hanya menjadi tempelan identitas; ia harus meresap menjadi "hidup" itu sendiri.
Malam harinya, Arga membuka laptop dengan semangat yang meluap. Ia tidak ingin menulis tentang hukum-hukum yang gersang. Ia ingin menulis tentang bagaimana Al-Qur'an seharusnya tidak hanya berhenti di atas meja belajar atau di dalam kubah masjid. Ia menulis judul: "Qur'an yang Hidup – Bumi Ini adalah Rumah Kita".
"Kesalahan terbesar kita adalah memenjarakan Tuhan di dalam gedung-gedung," tulis Arga. "Kita menganggap bahwa kesalehan hanya terjadi saat kita memakai baju koko dan duduk di atas sajadah. Padahal, jika Al-Qur'an adalah petunjuk bagi manusia, panggung utamanya adalah kehidupan itu sendiri. Di bengkel, di pasar, di ruang sidang, hingga di laboratorium sains sekalipun."
Arga teringat diskusi dengan Sarah semalam. Ia mulai mengetikkan argumentasi tentang bagaimana alam semesta adalah "ayat-ayat kauniyah"—ayat-ayat semesta yang setara pentingnya dengan "ayat-ayat qauliyah"—ayat-ayat yang tertulis.
"Tuhan tidak menurunkan Al-Qur'an untuk membuat kita menjadi robot yang menghafal teks tanpa memahami konteks. Dia menurunkannya agar kita menjadi saksi atas kebesaran-Nya di muka bumi. Seorang dokter yang menyelamatkan nyawa dengan ilmunya adalah Al-Qur'an yang sedang berjalan. Seorang arsitek yang membangun jembatan agar akses pendidikan warga desa lebih mudah adalah implementasi dari ayat-ayat keadilan. Islam tidak butuh sekte baru; Islam butuh manusia-manusia yang sadar bahwa setiap tarikan napas mereka adalah bagian dari ibadah global kepada Sang Pencipta."
Arga menyadari ada dorongan dari sebagian anggota komunitas untuk membuat "markas" atau "pusat dakwah". Namun, ia dengan tegas menolaknya dalam tulisan ini.
"Jangan buat kandang baru," tulisnya dengan huruf tebal. "Banyak wadah menjadi tiran karena mereka merasa memiliki kebenaran. Mereka membuat tembok tinggi agar jemaah tidak bisa melihat dunia luar. Jika kita membuat organisasi yang serupa, kita hanya akan berakhir menjadi polisi iman bagi satu sama lain. Rumah kita bukan sebuah bangunan beton dengan papan nama mentereng. Rumah kita adalah bumi Allah yang luas ini."
Ia ingin komunitas "Anak-Anak Fitrah" tetap menjadi sebuah gerakan cair. Sebuah jaringan nalar yang tidak bisa ditangkap karena ia ada di mana-mana. Ia ada di dalam kepala seorang mahasiswa yang kritis, ia ada di hati seorang buruh yang jujur, dan ia ada di tindakan seorang pengusaha yang tidak mau menyuap.