Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #32

Chapter 32: Kabar dari Masa Lalu

Malam merayap perlahan saat bus ekonomi yang ditumpangi Arga berhenti sejenak di sebuah terminal transit daerah Purwosari. Udara dingin dari kaki Gunung Arjuno mulai menusuk melalui celah jendela bus yang tidak bisa tertutup rapat, membawa aroma tanah basah dan asap knalpot yang pekat. Arga terbangun dari tidur ayamnya dengan leher yang terasa kaku dan perut yang keroncongan. Di sekelilingnya, penumpang lain sibuk turun untuk sekadar meluruskan kaki yang pegal atau mencari kopi instan di warung remang-remang yang diterangi lampu neon berkedip.

​Arga merogoh ponsel dari saku celananya yang masih kasar karena bekas percikan las. Sejak ia memosting tulisan di bus beberapa jam lalu, ia sengaja mematikan data seluler. Selain untuk menghemat baterai handphone bututnya, ia butuh ruang untuk bernapas tanpa interupsi komentar yang terus mengalir. Namun, ada dorongan kuat dalam batinnya malam ini—sebuah firasat yang tidak enak. Begitu layar ponsel menyala dan sinyal tertangkap, rentetan notifikasi masuk bagaikan bendungan yang jebol. Di sela-sela riuh komentar blog, ada belasan panggilan tak terjawab dan pesan teks dari satu nomor yang sangat ia kenal, yaitu Sofia.

​Pesan pertama dikirim dua jam lalu: "Mas Arga, tolong angkat. Ini darurat."

Pesan kedua: "Mas, aku baru dapat kabar dari kenalanku di Malang. Ini soal rumahmu."

Pesan terakhir yang membuat jantung Arga seolah berhenti berdetak: "Ayahmu dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya kritis. Dan yayasan sedang diguncang audit internal. Ibu terus menangis mencari Mas. Mas harus tahu ini."

​Arga terhenyak di kursi bus yang keras. Aroma asap bus dan keringat penumpang seolah menguap, digantikan oleh bayangan wajah ayahnya yang kaku dan penuh otoritas. Selama ini, ayahnya adalah sosok "raksasa" yang tak tergoyahkan, sebuah institusi hidup yang membeku dalam dogmanya sendiri. Mendengar raksasa itu tumbang memberikan rasa getir yang aneh. Namun, penyebutan "Ibu" dalam pesan Sofia itulah yang benar-benar meruntuhkan pertahanan Arga.

​Arga memutuskan untuk turun di terminal itu, membatalkan perjalanannya menuju tujuan awal yang lebih jauh. Ia mencari sudut yang agak sepi di belakang warung kopi yang hanya beralaskan tanah, lalu menelepon Sofia.

​"Mas Arga? Alhamdulillah, akhirnya tersambung," suara Sofia terdengar gemetar di seberang sana. "Aku tadi bingung harus cari Mas ke mana setelah pria bersafari itu datang ke bengkel Koh Ahong."

​"Ceritakan pelan-pelan, Sofia. Apa yang sebenarnya terjadi di Malang?" tanya Arga, suaranya parau karena debu jalanan.

​"Pak Wiryadinata kena serangan jantung mendadak kemarin sore, Mas. Katanya setelah ada pertemuan panas dengan dewan penyantun yayasan. Kabarnya, ada aliran dana miliaran rupiah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan dalam proyek pembangunan cabang baru. Para donatur besar mulai menarik dukungan, dan kabarnya pihak berwenang mulai masuk. Yayasan sedang dalam krisis hebat, Mas. Orang-orang kepercayaan ayahmu mulai saling sikut untuk menyelamatkan diri sendiri. Tapi yang paling mengkhawatirkan... Ibu Mas Arga. Beliau jatuh pingsan berkali-kali dan menolak makan kalau Mas belum pulang."

​Arga bersandar pada tiang listrik yang dingin. Ia memejamkan mata, membayangkan wajah ibunya yang lembut namun selalu terjepit di antara otoritas sang ayah dan rasa cintanya pada sang anak. Selama ini, ibunya adalah peredam benturan di rumah itu. Ketika Arga memutuskan pergi, ibunyalah yang menyelipkan doa—dan mungkin air mata—di setiap langkahnya.

​"Lalu, bagaimana kondisi Ayah sekarang?"

​"Masih di ICU, Mas. Belum sadar. Pihak yayasan menutup-nutupi kabar ini agar jemaah tidak panik, tapi di kalangan internal sudah gempar. Mereka sedang mencarimu, Mas Arga. Bukan cuma untuk membawa Mas pulang, tapi sepertinya para pengurus itu butuh sosok 'ahli waris' untuk meredam kecurigaan publik soal uang yayasan itu."

Lihat selengkapnya