Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #33

Chapter 33: Dilema Pulang

Terminal Arjosari pagi itu diselimuti kabut tipis yang turun dari lereng Bromo dan Semeru, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Arga turun dari bus ekonomi dengan kaki yang sedikit gemetar, bukan hanya karena kelelahan setelah perjalanan panjang dari Surabaya, melainkan karena beban yang mendadak terasa berlipat ganda di pundaknya. Ransel lusuhnya terasa seperti bongkahan batu besar. Di pintu keluar terminal, ia berhenti sejenak, menghirup dalam-dalam udara Malang yang segar, namun kali ini terasa menyesakkan.

​Di depannya, deretan angkot biru berjajar rapi, suara klakson bersahutan, dan para calo berteriak menawarkan rute. Semuanya tampak normal, sebuah rutinitas kota yang tak peduli pada drama yang sedang menghancurkan hidup sebuah keluarga besar di ujung kota. Arga mematung. Setiap jengkal aspal di terminal ini seolah membangkitkan memori yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam di tumpukan besi las bengkel Koh Ahong.

​Pikiran Arga berkecamuk. Ia membayangkan lorong rumah sakit yang dingin, bau karbol yang tajam, dan wajah-wajah yang akan ia temui di sana. Arga memiliki empat orang kakak: dua laki-laki dan dua perempuan. Dua kakak laki-lakinya, Mas Fahri dan Mas Ridwan, adalah "tangan kanan" Ayah di yayasan—pilar-pilar kaku yang menjaga sistem otoritas itu tetap berdiri. Sementara itu, kedua kakak perempuannya, Mbak Hanum dan Mbak Sarah, adalah pribadi yang sangat santun dan lembut, dididik langsung oleh Ibu dengan cinta yang melampaui dogma. Di tengah keruntuhan ini, Arga membayangkan betapa hancurnya hati kedua kakak perempuannya melihat Ibu yang kian melemah.

​Sambil berjalan perlahan mencari ojek, Arga berdialog dengan jiwanya sendiri. Ada suara dalam kepalanya yang membisikkan kemarahan. "Kau datang sebagai pemenang, Arga," bisik suara itu. "Lihatlah, institusi yang mereka banggakan sedang runtuh. Ayahmu sekarang tidak berdaya. Kau bisa masuk ke sana dan membuktikan bahwa nalar Al-Ghuraba yang selama ini mereka benci adalah kebenaran yang tak terbantahkan."

​Namun, nalar Al-Furqan yang selama ini ia asah memberikan getaran yang berbeda. Jika ia datang dengan kesombongan, lantas apa bedanya dia dengan para petinggi yayasan yang ia kritik? Bukankah kesombongan atas kebenaran adalah bentuk berhala baru?

​"Kemenangan yang sombong adalah kekalahan yang tertunda," Arga bergumam pelan, nyaris tenggelam oleh deru mesin angkot. "Aku pulang bukan untuk menginjak kepala mereka yang sedang jatuh. Aku pulang sebagai hamba. Tapi hamba yang seperti apa? Hamba yang kompromi pada kebatilan, atau hamba yang membawa rahmat melalui ketegasan?"

​Ia membayangkan wajah Mas Fahri dan Mas Ridwan yang pasti sedang panik menjaga aset-aset yayasan yang mulai diaudit. Namun, bayangan Mbak Hanum dan Mbak Sarah yang sedang memeluk Ibu yang kian renta membuat langkah Arga terasa semakin berat. Ibu bukan hanya sedih karena Ayah sakit, melainkan karena kerinduan mendalam pada si bungsu yang selama ini dianggap "hilang".

​Arga akhirnya memutuskan menumpang ojek motor agar bisa lebih cepat sampai tanpa harus terjebak dalam percakapan panjang di angkot. Sepanjang jalan menuju Rumah Sakit Saiful Anwar, ia melewati jalur-jalur yang dulu sering ia lalui saat masih menjadi bagian dari keluarga elit yayasan. Ia melewati baliho-baliho besar yang menampilkan wajah ayahnya dengan kutipan ayat tentang sedekah, yang kini terasa begitu ironis di tengah kabar audit miliaran rupiah.

​"Mas, rumah sakitnya lewat pintu depan atau langsung ke paviliun?" tanya tukang ojek.

​"Turunkan saya di seberang saja, Pak," jawab Arga. Ia butuh jarak untuk menata degup jantungnya.

​Saat kakinya menginjak trotoar di depan rumah sakit, ia melihat kerumunan pria berpakaian safari yang berjaga di sekitar pintu masuk ICU. Mereka adalah "orang-orang dalam" yayasan yang ditugaskan Mas Fahri untuk menjaga agar informasi tidak bocor. Arga menarik tudung jaketnya sedikit lebih rendah. Ia masuk melalui pintu samping, melewati kantin yang dipenuhi orang-orang dengan wajah lelah.

​Arga masuk ke koridor utama paviliun ICU. Di sana, di sebuah kursi tunggu yang panjang, ia melihat Mbak Hanum dan Mbak Sarah duduk mengapit Ibu. Kedua kakak perempuannya itu tampak begitu kuyu, namun tetap memancarkan kelembutan yang selama ini menjadi pelipur lara Arga. Mbak Hanum sedang membisikkan doa ke telinga Ibu, sementara Mbak Sarah mengusap kaki Ibu yang tampak membengkak.

​Lalu, ia melihat Mas Fahri dan Mas Ridwan berdiri tak jauh dari pintu ICU, sibuk berbisik dengan beberapa pengacara berpakaian rapi. Wajah mereka tegang, mata mereka merah. Mereka tampak seperti singa yang terpojok, bukan karena duka, melainkan karena ancaman hilangnya kekuasaan.

​Arga merasa oksigen di sekitarnya menipis. Haruskah ia keluar sekarang?

Lihat selengkapnya