Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #34

Chapter 34: Dialog di Sisi Ranjang

Lampu neon di langit-langit ruang ICU berpendar dengan suara dengung halus yang mengisi kekosongan koridor. Di dalam ruangan sempit yang penuh dengan irama digital monitor jantung, Arga duduk di sebuah kursi besi kecil yang tidak nyaman. Ia telah melewati malam yang panjang tanpa memejamkan mata sedikit pun. Di depannya, sosok Wiryadinata—sang singa podium yang dulu getar suaranya sanggup menggerakkan ribuan jemaah—kini tampak ringkih di bawah selimut putih rumah sakit.

​Mbak Hanum dan Mbak Sarah baru saja keluar untuk mengantar Ibu beristirahat sejenak ke ruangannya. Sementara itu, Mas Fahri dan Mas Ridwan masih terlibat perdebatan sengit dengan beberapa pengurus yayasan di luar gedung, mungkin sedang menyusun strategi hukum atau mencoba membendung kebocoran berita ke media. Untuk sementara, ruangan itu hening. Hanya ada Arga dan ayahnya yang masih terlelap dalam pengaruh obat-obatan dan kelelahan jantung.

​Arga menatap wajah ayahnya. Garis-garis tegas di dahi itu kini tampak seperti retakan pada tanah kering. Tidak ada lagi sorban sutra yang melilit kepalanya, tidak ada jubah kebesaran yang membuatnya tampak lebih tinggi dari manusia lainnya. Yang tersisa hanyalah seorang lelaki tua dengan napas yang satu-satu.

​Tiba-tiba, mesin monitor jantung berbunyi sedikit lebih cepat. Jemari tangan kanan Ayah bergerak sedikit, menggaruk pelan seprai. Arga segera berdiri, memajukan kursinya, dan memegang tangan yang dulu sering ia cium dengan rasa takut yang lebih besar daripada rasa hormat itu.

​Kelopak mata Wiryadinata bergetar. Perlahan, mata itu terbuka. Keruh, merah, dan tampak linglung. Ia memandang langit-langit sejenak, lalu pandangannya bergeser pelan ke arah samping, menemukan wajah Arga yang sedang menatapnya dengan teduh.

​"Ar... ga...?" Bisikan itu nyaris tak terdengar, terhambat oleh masker oksigen yang menutupi mulut dan hidungnya.

​"Iya, Yah. Ini Arga. Arga di sini," sahut Arga lembut. Ia tidak mencoba menarik tangannya. Ia justru menggenggam jemari ayahnya dengan hangat, memberikan saluran kekuatan yang selama ini terputus oleh tembok dogma.

​Ayahnya memberi isyarat lemah dengan matanya, meminta Arga untuk mendekatkan wajah. Arga mengerti. Ia menunduk, mendekatkan telinganya ke arah masker oksigen tersebut.

​"Mendekatlah, Nak... jangan pergi lagi." Suara itu serak, penuh dengan getaran penyesalan yang tidak bisa disembunyikan.

​Wiryadinata berusaha mengatur napasnya. Setiap tarikan napas tampak seperti perjuangan berat melawan beban yang menindih dadanya. Arga membantunya membasuh kening dengan waslap basah. Gerakannya begitu telaten, sebuah pengabdian tulus yang tidak didasari oleh instruksi organisasi, melainkan murni kasih sayang seorang anak.

​"Yah, jangan banyak bergerak dulu. Tenangkan hati Ayah," ujar Arga.

​"Duniaku... sudah runtuh, Ar," Ayah berbisik lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Semua orang bicara soal uang... soal audit... soal nama baik. Tapi di sini, di ranjang ini, aku baru sadar bahwa aku tidak membawa apa-apa. Aku membangun rumah yang megah, tapi aku lupa membangun pintu untuk pulang ke haribaan-Nya."

​Arga menghela napas panjang. Ia teringat akan sebuah pesan dari Al-Qur'an yang selama ini ia dalami di tengah debu bengkel las. Ia tidak ingin mendebat ayahnya tentang siapa yang salah, ia hanya ingin menjadi perantara kesembuhan jiwa.

​"Ayah," Arga memulai pembicaraan dengan nada yang rendah namun mantap. "Bukankah Allah telah berfirman dalam Surah Az-Zumar ayat 53? 'Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.'"

Lihat selengkapnya