Gerbang besi besar yang biasanya berdiri angkuh menyambut setiap tamu dengan kesan otoritas itu kini tampak sedikit kusam di bawah langit Malang yang mendung. Arga berdiri di depannya, menatap ukiran kaligrafi yang menghiasi puncaknya. Dulu, setiap kali ia melewati gerbang ini, ada rasa sesak yang menghimpit dada—sebuah perasaan menjadi orang asing di rumah sendiri. Namun hari ini, meski beban di pundaknya belum sepenuhnya hilang, ada ketenangan aneh yang mengalir dalam nadinya.
Ayah akhirnya diperbolehkan pulang dengan status rawat jalan. Kondisi fisiknya memang belum pulih benar; ia harus menggunakan kursi roda dan tabung oksigen portabel sesekali. Namun, yang lebih mengejutkan adalah keheningan yang kini menyelimuti sosok yang biasanya gempita itu. Wiryadinata lebih banyak diam, menatap kosong ke arah taman dalam rumah, seolah sedang menghitung tiap helai daun yang gugur sebagai representasi dari institusi yang sedang ia saksikan keruntuhannya.
Di ruang tamu yang luas dan dingin, suasana justru kontras. Mas Fahri, Mas Ridwan, dan beberapa pengurus teras yayasan sedang terlibat dalam perdebatan yang semakin tak terkendali. Tumpukan map cokelat, dokumen audit, dan surat panggilan dari pihak berwenang berserakan di atas meja marmer yang dulu hanya digunakan untuk menjamu pejabat dan ulama besar.
"Kita tidak bisa membiarkan aset di Surabaya ikut disita! Itu atas nama pribadi, bukan yayasan!" suara Mas Fahri meninggi, urat lehernya menonjol.
"Mas, auditor itu bukan orang bodoh. Mereka melacak aliran dana dari kotak amal pusat ke rekening vendor fiktif itu. Kalau kita terus membantah, kita semua bisa masuk penjara!" sahut salah satu pengurus dengan nada panik.
Arga melangkah masuk ke ruangan itu tanpa suara. Langkah kakinya yang beralaskan sandal jepit sederhana terdengar kontras dengan lantai granit yang mewah. Kehadirannya seketika menghentikan perdebatan. Mas Fahri menoleh dengan tatapan yang masih menyimpan bara kebencian, sementara Mas Ridwan mendengus sinis.
"Mau apa lagi kau di sini? Belum puas melihat kami pusing?" sindir Mas Ridwan sambil mengempaskan punggungnya ke kursi jati.
Arga tidak membalas dengan kemarahan. Ia menarik sebuah kursi kayu biasa dan duduk agak jauh dari lingkaran meja utama, menunjukkan bahwa ia tidak ingin merebut posisi pemimpin, melainkan ingin menjadi pendengar.
"Aku hanya ingin tahu, Mas," ujar Arga pelan. "Seberapa besar sebenarnya lubang yang harus ditutup? Dan berapa banyak hak orang lain yang tertimbun di bawah sana?"
"Bukan urusanmu! Kau itu hanya anak ingusan yang tahu teori dari internet!" bentak Fahri. "Kau tidak tahu betapa susahnya menjaga nama baik yayasan ini selama puluhan tahun!"
Arga menatap Mas Fahri dalam-dalam. "Nama baik yang dijaga dengan cara menutupi bangkai pada akhirnya akan tercium juga, Mas. Allah sudah mengingatkan kita dalam Surah Al-Isra ayat 81: 'Dan katakanlah: Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.'
Apa yang terjadi sekarang bukan karena tulisanku, tapi karena janji Allah bahwa kebatilan tidak akan pernah abadi."
Suasana sempat hening sejenak. Para pengurus yayasan yang lain tampak saling pandang. Mereka mulai merasakan bahwa Arga tidak datang dengan pedang untuk memenggal, tapi dengan cermin untuk memperlihatkan luka.
"Begini, Mas," lanjut Arga, suaranya mulai melunak namun tetap tegas. "Kalau kita terus bicara soal menyelamatkan aset, kita sedang bicara soal ego. Tapi kalau kita bicara soal pertanggungjawaban, kita sedang bicara soal keselamatan di akhirat. Coba jelaskan padaku, berapa total dana jemaah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan?"
Salah satu pengurus yang lebih tua, yang selama ini merasa bersalah namun tak berani bicara, akhirnya membuka suara. "Hampir dua belas miliar, Arga. Itu akumulasi dari proyek pembangunan madrasah yang mark-up-nya keterlaluan, ditambah penggunaan dana operasional untuk cicilan mobil mewah para pengurus."
Arga menghela napas panjang. Angka itu bukan sekadar angka; itu adalah air mata orang-orang kecil yang menyisihkan uang belanja demi pahala jariyah.
"Dua belas miliar," gumam Arga. "Itu berat, Mas. Tapi tidak mustahil untuk diselesaikan jika kita mau jujur. Langkah pertama bukan menyewa pengacara mahal untuk berkelit, tapi mengakui kesalahan secara terbuka. Jual semua aset pribadi yang dibeli dari dana itu. Kembalikan ke kas yayasan. Jika perlu, rumah ini pun harus siap dilepas jika itu bagian dari dana yang tidak sah."