Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #36

Chapter 36: Runtuhnya Tembok Kebencian

Pagi itu, kediaman Wiryadinata tidak lagi riuh oleh deru mesin mobil mewah para pengurus yayasan. Suasana sunyi yang asing menyergap setiap sudut ruangan. Arga sedang merapikan ranselnya di teras samping, bersiap untuk menemui Hanif dan beberapa rekan akuntan forensik di sebuah kafe kecil di pusat Kota Malang. Ia butuh bantuan mereka untuk menyisir data awal sebelum tim audit independen yang sesungguhnya bekerja secara resmi.

​Saat ia sedang mengencangkan tali tasnya, ia merasakan sepasang mata memperhatikannya. Arga menoleh. Di balik jendela kamar ayahnya, ia melihat Ayah sedang duduk di kursi roda, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah campuran antara rasa ingin tahu dan sisa-sisa rasa malu yang masih membekas.

​Arga mengurungkan niatnya untuk berangkat. Ia meletakkan ranselnya di kursi rotan dan melangkah mendekati Ayah. "Ayah sudah bangun? Mau Arga bantu pindah ke taman?"

​Ayah menggeleng pelan. Ia memberi isyarat agar Arga masuk dan menutup pintu. Ruangan itu berbau minyak kayu putih dan udara pagi yang segar. Ayah menatap Arga lama sekali, seolah mencari sosok anak kecil yang dulu sering ia bentak di ruangan yang sama.

​"Ar," suara Ayah berat, hampir menyerupai bisikan. "Mengapa? Mengapa kau masih mau melakukan semua ini? Mengapa kau tetap baik padaku, tetap membelaku di depan kakak-kakakmu, padahal aku yang dulu menghinamu, mengusirmu, bahkan menyebutmu anak durhaka di depan jemaah?"

​Arga menarik napas panjang, tersenyum tipis sembari duduk di karpet di bawah kaki Ayah—sebuah posisi yang menunjukkan bahwa nalar tidak menghapus adab.

​"Karena Al-Qur'an yang aku pelajari mengajarkan begitu, Yah," jawab Arga tenang. "Dalam Surah Fussilat ayat 34, Allah berfirman: ​'Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman setia.'

​Aku tidak ingin menang atas Ayah. Aku hanya ingin kita menang melawan hawa nafsu kita masing-masing."

​Ayah terdiam, matanya menatap kaligrafi tua yang tergantung di dinding. "Aku merasa gagal, Ar. Aku mengajarkanmu Al-Qur'an sejak kau belum bisa mengeja namamu sendiri. Aku mendatangkan ustadz terbaik, sesepuh yayasan yang paling alim. Tapi mengapa kau justru tampak lebih memahami isinya daripada mereka yang seumur hidup menghafalnya?"

​Arga menunduk sejenak, mengumpulkan kata-kata agar kejujurannya tidak melukai, melainkan menyembuhkan.

​"Karena selama ini, Yah, Al-Qur'an di rumah ini—dan di kebanyakan tempat di negeri kita—diajarkan sebagai senjata, bukan sebagai cahaya," ujar Arga berani. "Ayah ingat saat aku mulai menentang tafsir yayasan beberapa waktu lalu? Itu bukan karena aku benci Ayah. Itu karena aku mulai meragukan terjemahan bahasa Indonesia yang kita pakai."

​Ayah mengernyit. "Maksudmu terjemahan resmi kita salah?"

Lihat selengkapnya