Langit Tanpa Atap

G Wira Negara
Chapter #37

Chapter 37: Menghidupkan Rumah

Suasana di kediaman Wiryadinata telah bergeser secara fundamental. Jika biasanya rumah besar di pinggiran Malang ini selalu riuh dengan hilir mudik orang-orang yang ingin mendapatkan berkah atau pengurus yayasan yang sibuk mengatur agenda dakwah politik, kini rumah itu sepi. Namun, sepi kali ini bukan sunyi yang mati, melainkan sunyi yang sedang berproses untuk hidup kembali.

​Arga duduk di ruang tengah bersama Hanif dan dua rekan akuntan forensiknya, Bambang dan Saiful. Di atas meja jati yang luas, laptop mereka menyala, menampilkan angka-angka merah dan grafik aliran dana yang semrawut. Sejak Ayah memberikan izin penuh, Arga bergerak cepat. Ia tidak ingin membiarkan luka ini membusuk lebih lama. Mas Fahri dan Mas Ridwan sesekali lewat dengan wajah kuyu; mereka tidak lagi membentak. Kehadiran tim Arga yang bekerja dengan presisi profesional membuat mereka sadar bahwa zaman "manajemen langit" yang serampangan telah berakhir.

​"Kita sudah menemukan pola penggunaan dana abadi jemaah untuk portofolio saham pribadi pengurus teras," Hanif berbisik sambil menunjukkan layar tabletnya pada Arga. "Ini masalah serius, Ar. Tapi secara teknis, jika aset-aset itu segera dilikuidasi dan dikembalikan, kita bisa menghindari tuntutan pidana yang menghancurkan."

​Arga mengangguk. "Lakukan apa yang harus dilakukan, Nif. Aku ingin semua bersih sebelum Ramadan tiba. Aku ingin rumah ini dan yayasan ini tegak di atas fondasi yang jujur."

​Setelah tim audit selesai dengan sesi sore mereka, Arga tidak lantas beristirahat. Ia melihat Ayah duduk di teras belakang, ditemani Ibu dan kedua kakak perempuannya. Ada pemandangan yang tak biasa: sebuah mushaf Al-Qur'an terbuka di pangkuan Ayah, namun tidak ada kitab-kitab tebal hadis atau tafsir klasik yang biasanya mengepungnya.

​Arga mendekat, membawakan teh hangat untuk mereka. Ia merasakan ada keraguan di mata Mbak Hanum dan Mbak Sarah. Mereka seperti orang yang baru belajar berjalan di atas tanah yang selama ini mereka anggap sakral sekaligus menakutkan.

​"Ar," panggil Mbak Sarah pelan. "Mbak tadi baca ayat tentang waris dan peran wanita. Kok rasanya beda, ya, dengan apa yang selama ini ustadz di yayasan ajarkan? Selama ini kita didoktrin kalau wanita itu 'kurang akalnya' dan harus selalu di bawah kendali mutlak laki-laki berdasarkan beberapa hadis yang sering mereka kutip."

​Arga duduk di kursi kayu di samping mereka. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang mengandung pemahaman mendalam.

​"Itulah yang aku maksud dengan membersihkan debu doktrin, Mbak," ujar Arga. "Selama ini, kita diajarkan untuk melihat Al-Qur'an melalui kacamata hadis yang sudah tercampur dengan budaya patriarki dan kepentingan politik masa lalu. Akibatnya, Al-Qur'an yang seharusnya memerdekakan manusia—baik laki-laki maupun perempuan—malah terkesan menjajah."

​Ayah yang sejak tadi menyimak akhirnya bersuara. "Tapi Ar, bukankah hadis itu penjelasan bagi Al-Qur'an? Bagaimana mungkin kita memisahkan keduanya? Tanpa hadis, kita tidak tahu cara salat, bukan?"

​Arga menatap Ayah dengan hormat namun tanpa rasa takut. "Yah, mari kita letakkan pada proporsinya. Al-Qur'an adalah Kalamullah, perkataan Allah yang absolut dan dijamin kemurniannya. Sedangkan hadis adalah catatan manusia tentang apa yang dikatakan atau dilakukan Nabi, yang ditulis ratusan tahun setelah beliau wafat. Ada proses sejarah, ingatan manusia yang terbatas, dan penyisipan kepentingan di sana."

​Arga melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, "Masalah di rumah ini dan di yayasan selama ini adalah kita sering menjadikan hadis sebagai hakim atas Al-Qur'an. Kita menggunakan riwayat-riwayat yang terkadang meragukan untuk membatalkan atau menyempitkan makna ayat Allah yang sudah jelas universal dan adil. Padahal, seharusnya terbalik. Al-Qur'an-lah yang mengoreksi hadis. Jika ada sebuah narasi yang bertentangan dengan prinsip keadilan, rahmat, dan akal sehat yang ada di Al-Qur'an, maka narasi itu harus kita pertanyakan, bukan ayatnya yang kita pelintir agar cocok dengan narasi tersebut."

Lihat selengkapnya