Pagi itu, udara Malang terasa sangat tajam, menusuk hingga ke pori-pori tulang, namun ada kehangatan yang tidak biasa merayap di dada Arga. Ia berdiri sendirian di depan pagar rumah lamanya—istana megah yang kini telah berpindah tangan. Garis polisi telah dilepas, digantikan dengan papan pengumuman penyitaan aset oleh negara dan tim kurator. Arga menatap balkon lantai dua, tempat ia dulu sering mengurung diri dengan tumpukan buku dan keresahan yang tak bertepi.
Kini, rumah itu kosong. Tidak ada lagi deru mobil mewah, tidak ada lagi aroma parfum mahal para politisi yang datang mencari legitimasi agama, dan tidak ada lagi suara dengung diskusi pengurus yayasan yang sibuk menghitung angka-angka donasi. Yang tersisa hanyalah dinding-dinding bisu yang seolah ikut meratapi hilangnya nyawa dari sebuah bangunan yang pernah dianggap sebagai menara suci.
Arga melangkah mendekat, menyentuh gerbang besi yang sedikit berkarat. Ia menyadari sesuatu yang sangat mendasar; selama bertahun-tahun hidup di sini, ia justru merasa sebagai pengungsi. Rumah ini memiliki atap yang kokoh, namun langit-langitnya seolah membatasi pandangannya ke atas. Dinding-dindingnya adalah dogma, lantainya adalah keangkuhan, dan pintunya adalah filter bagi siapa saja yang tidak memiliki status sosial yang setara.
"Ternyata, tempat berteduh yang paling sejati bukanlah yang memiliki dinding," gumam Arga pada angin pagi.
Ia teringat proses panjang yang membawanya kembali ke titik ini. Dari pengusiran yang menyakitkan, pelarian ke Surabaya, perjumpaannya dengan komunitas "Anak-Anak Fitrah", hingga kepulangannya untuk membedah borok keluarganya sendiri. Semua itu adalah rangkaian ayat-ayat semesta yang membimbingnya pada satu kesimpulan: Allah adalah satu-satunya tempat bersandar yang tidak pernah runtuh.
Selama ini, ayahnya membangun rumah yang megah dengan dalih dakwah, namun tanpa sadar telah membangun sekat antara makhluk dan Khalik. Mereka menciptakan "protokol" untuk mendekati Tuhan, seolah-olah Tuhan hanya bisa ditemui di ruangan ber-AC dengan pakaian serba putih dan istilah-istilah Arab yang tidak dipahami oleh rakyat jelata.
Arga kini mengerti. Saat atap rumah ini hilang dari hidupnya, ia justru bisa melihat langit dengan lebih luas. Tidak ada lagi penghalang antara dirinya dan Tuhan. Kebebasan itu tidak ditemukan di dalam kemegahan, melainkan di dalam kejujuran untuk melepaskan segala atribut duniawi.
Di kejauhan, ia melihat Hanif berjalan menghampirinya. Temannya itu tampak sedikit lelah, namun matanya berbinar. Proses audit telah mencapai babak akhir. Hampir delapan puluh persen dana jemaah berhasil dikembalikan melalui penjualan aset-aset strategis. Sisanya, para donatur besar dengan sukarela menghibahkannya karena mereka terkesan dengan integritas baru yang ditunjukkan keluarga Wiryadinata.
"Sudah selesai, Ar," ujar Hanif sambil menepuk pundak Arga. "Kurator sudah menutup berkasnya. Yayasan yang baru sudah mulai berjalan di ruko kecil dekat pasar. Namanya bukan lagi Yayasan Wiryadinata, tapi 'Rumah Literasi Al-Qur'an'. Tanpa nama besar keluarga, tapi penuh dengan orang-orang yang tulus."
Arga tersenyum. "Terima kasih, Nif. Kau membantuku meruntuhkan istana pasir ini untuk membangun fondasi batu yang benar."
"Bukan aku, Ar. Al-Qur'an yang kau baca itu yang melakukannya. Aku hanya akuntan yang melihat bagaimana sebuah kitab suci bisa mengoreksi neraca keuangan yang paling kotor sekalipun," balas Hanif sambil terkekeh.