Mada menyesap udara pagi yang memenuhi rongga parunya dengan rasa dingin yang asing namun menenangkan. Di Jakarta, napasnya selalu terasa berat oleh beban pekerjaan dan debu jalanan yang menyesakkan, tetapi di ujung barat Indonesia ini, segalanya terasa berbeda. Ia memandangi tugu Kilometer Nol yang berdiri kokoh sebagai simbol awal dari sebuah pengabdian panjang. Matanya kemudian beralih ke arah laut lepas, di mana gradasi warna biru muda hingga gelap bertemu di garis cakrawala yang tak terputus oleh gedung pencakar langit mana pun.
Tiwi menarik ujung syal batiknya agar lebih rapat menutupi leher, mencoba menghalau embusan angin laut yang cukup kencang. Ia menatap kedua anaknya yang berdiri beberapa langkah di belakang, masih tertunduk dengan jempol yang bergerak lincah di atas layar kaca. Ada rasa perih yang terselip di hati Tiwi melihat betapa terasingnya mereka dari keindahan nyata di depan mata. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar liburan keluarga biasa, melainkan sebuah misi penyelamatan identitas yang perlahan mulai terkikis oleh gemerlap gaya hidup metropolitan.
"Nusa, Tara, lihat dulu ke depan, Nak. Kita benar-benar ada di titik paling ujung negeri ini," ujar Tiwi dengan nada yang lembut namun penuh harap. Suara deburan ombak yang menghantam tebing karang di bawah mereka seolah menjadi musik latar yang megah, namun kedua remaja itu hanya merespons dengan gumaman pendek. Nusa sesekali mendongak, matanya menyipit karena silau matahari, lalu kembali tenggelam dalam permainan daring yang sedang ia mainkan bersama teman-temannya di Jakarta melalui koneksi internet yang mulai tidak stabil.
Di dekat mobil SUV yang mereka sewa, Pak Jaka sedang sibuk membentangkan sebuah peta fisik berukuran besar di atas kap mesin yang masih terasa hangat. Ia tidak menggunakan aplikasi navigasi digital kali ini, melainkan mengandalkan garis-garis merah dan biru di atas kertas yang sudah mulai lusuh di bagian pinggirnya. Pak Jaka telah bersama keluarga Mada selama belasan tahun, dan ia tahu betul bahwa perjalanan ribuan kilometer ini akan menguji ketahanan mental serta fisik mereka semua melampaui batas kenyamanan yang biasa mereka nikmati.
Mada mendekat ke arah Pak Jaka, melihat coretan spidol hitam yang menandai titik-titik persinggahan mereka selanjutnya di Pulau Sumatra. "Kita akan menyeberang besok pagi,
Pak Jaka? Saya ingin anak-anak melihat matahari terbit dari atas kapal feri nanti," tanya Mada sambil menepuk bahu pria tua itu. Pak Jaka mengangguk pelan, jemarinya menunjuk ke arah pelabuhan yang tampak dari kejauhan, sementara matanya mencerminkan kesetiaan yang tak tergoyahkan bagi keluarga yang sudah ia anggap seperti darah dagingnya sendiri.
"Tentu, Pak Mada. Jadwal penyeberangan sudah saya pastikan aman, tapi kita harus berangkat sebelum subuh jika ingin menghindari antrean panjang," jawab Pak Jaka dengan suara serak yang tenang. Ia melirik ke arah Nusa dan Tara, lalu tersenyum tipis seolah memahami kecemasan yang sedang berkecamuk di dalam pikiran majikannya. Bagi Pak Jaka, anak-anak itu hanya butuh waktu untuk melepas ketergantungan mereka pada teknologi dan mulai merasakan detak jantung tanah air yang sesungguhnya di bawah telapak kaki mereka.
Ketegangan mulai terasa saat Tara tiba-tiba menghentakkan kakinya ke tanah dengan raut wajah kesal yang sangat jelas terlihat. "Papa, sinyalnya hilang total! Aku tidak bisa mengirim tugas sekolah kalau begini terus, kenapa kita harus ke tempat sepi seperti ini?" keluhnya dengan nada tinggi. Mada hanya diam, tidak ingin membalas kemarahan putrinya dengan emosi yang sama, melainkan hanya menunjuk ke arah hutan hijau yang rimbun di sekitar mereka. Ia tahu bahwa konflik ini baru saja dimulai dan akan semakin memanas seiring perjalanan mereka menuju timur.
Tiwi mendekati Tara dan mencoba merangkul bahu putrinya, namun gadis itu justru menghindar dengan gerakan yang kaku dan penuh penolakan. "Ini bukan tentang tugas sekolahmu saja, Tara. Ini tentang melihat dunia yang lebih luas dari sekadar layar ponselmu itu," bisik Tiwi dengan suara yang mulai bergetar. Ia teringat bagaimana dulu ia dan Mada berjuang dari bawah di tanah ini, sebelum kesuksesan finansial membuat mereka lupa untuk mengajarkan akar budaya kepada anak-anak mereka sendiri yang kini tumbuh menjadi orang asing.
Mada menarik napas panjang, merasakan beban tanggung jawab sebagai kepala keluarga yang selama ini mungkin terlalu sibuk mengejar angka di rekening bank. Ia menyadari bahwa selama ini ia telah memberikan segalanya secara materi, namun gagal memberikan pemahaman tentang jati diri kepada Nusa dan Tara. Pandangannya kembali tertuju pada tugu Kilometer Nol, yang kini baginya tampak seperti sebuah cermin besar yang merefleksikan kegagalan sekaligus harapan baru untuk memperbaiki hubungan keluarga yang mulai retak di tengah kemewahan.
Tiba-tiba, Pak Jaka melipat petanya dengan suara yang cukup keras hingga menarik perhatian semua orang yang ada di sana. "Pak Mada, ada sesuatu yang harus Bapak ketahui tentang rute kita di pedalaman nanti, ini bukan sekadar soal jalanan yang rusak," ucap Pak Jaka dengan wajah serius. Mada menyeritkan dahi, merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh asisten setianya itu, sebuah rahasia kecil yang mungkin akan mengubah rencana perjalanan mereka secara drastis. Atmosfer di sekitar tugu yang tadinya tenang kini berubah menjadi sedikit mencekam karena ketidakpastian.
Mada membawa Pak Jaka sedikit menjauh dari kerumunan anak-anak agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Nusa yang mulai memperhatikan gerak-gerik mereka. "Ada apa sebenarnya, Jaka? Jangan membuatku khawatir di hari pertama kita memulai semua ini," bisik Mada dengan nada mendesak. Pak Jaka mengeluarkan sebuah surat tua dari saku kemejanya, surat yang tampak sudah disimpan sangat lama dan memiliki stempel dari sebuah desa terpencil di wilayah timur yang seharusnya tidak ada dalam daftar kunjungan mereka.
Surat itu ternyata berasal dari kerabat lama Mada yang selama ini dianggap sudah meninggal dunia dalam sebuah peristiwa besar puluhan tahun silam. Mada merasakan tangannya gemetar saat membaca baris demi baris tulisan tangan yang masih terbaca jelas, mengungkapkan sebuah kebenaran pahit tentang warisan keluarga yang selama ini disembunyikan. Ternyata, perjalanan ini bukan hanya keinginan Mada untuk mendidik anak-anaknya, melainkan sebuah panggilan takdir yang telah diatur oleh seseorang dari masa lalu yang ingin menagih janji lama.
Identitas Mada yang selama ini ia bangun sebagai pengusaha sukses di Jakarta seolah runtuh dalam sekejap saat ia menyadari siapa dirinya sebenarnya di mata orang-orang di tanah leluhur. Ia bukan sekadar turis yang sedang berkeliling, melainkan kunci utama dari sebuah perselisihan lahan adat yang melibatkan nama besarnya di masa muda. Pengkhianatan kecil yang ia lakukan dulu untuk mengejar karier di ibu kota kini kembali menghantuinya, menuntut penebusan yang mungkin akan menghancurkan citranya di depan istri dan kedua anaknya.
Mada meremas surat itu dan memasukkannya kembali ke saku celananya, berusaha menjaga wajahnya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang. Ia menatap Tiwi yang sedang mencoba menghibur Tara, dan merasa bersalah karena telah membawa mereka ke dalam pusaran masalah yang jauh lebih berbahaya dari sekadar kehilangan sinyal ponsel. Perjalanan dari Sabang sampai Merauke ini kini memiliki makna baru yang jauh lebih gelap bagi Mada, sebuah pencarian pengampunan yang harus ia jalani dengan penuh risiko.