Langkah di Atas Pelangi Nusantara

Bilsyah Ifaq
Chapter #3

Aroma Tanah Minang

Ban mobil melindas aspal halus Kelok Sembilan yang berkelok tajam di antara tebing-tebing hijau Sumatera Barat. Mada mencengkeram kemudi dengan santai, sementara matanya sesekali melirik ke arah jembatan layang yang menjulang tinggi di atas mereka. "Lihat itu, Nusa, Tara. Dulu jalannya sempit sekali, sekarang sudah semegah ini," gumamnya dengan nada bangga yang tidak bisa disembunyikan dari suaranya.

Tiwi yang duduk di kursi penumpang depan menurunkan sedikit kaca jendela, membiarkan udara pegunungan yang segar masuk ke dalam kabin. Aroma rendang dan gulai yang gurih mulai menyusup, terbawa angin dari deretan warung nasi kapau yang berjejer di sepanjang kaki bukit. "Bau ini selalu mengingatkan Ibu pada kakek kalian," ujar Tiwi sambil tersenyum tipis, matanya tampak menerawang jauh ke masa lalu.

"Kenapa kakek, Bu?" tanya Tara sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, mengabaikan tablet yang biasanya tidak pernah lepas dari tangannya. Tiwi menoleh ke belakang, melihat rasa ingin tahu yang tulus di mata putrinya. "Kakek dulu selalu bilang, bumbu yang benar itu harus dimasak sampai kering. Sama seperti hidup, butuh kesabaran ekstra untuk mendapatkan hasil yang terbaik," jawab Tiwi lembut.

Nusa yang biasanya asyik dengan dunianya sendiri kini sibuk memotret pemandangan lembah melalui jendela mobil yang terbuka setengah. "Ayah, apa benar Jam Gadang itu mesinnya sama dengan Big Ben di London?" tanyanya dengan nada antusias yang jarang terdengar sebelumnya. Ia baru saja membaca artikel singkat di ponselnya dan merasa tidak percaya bahwa teknologi serupa ada di kota kecil Bukittinggi.

Mada mengangguk mantap sambil tetap fokus pada jalanan yang mulai menanjak dengan kemiringan yang cukup curam dan menantang. "Betul sekali, Nusa. Itu bukti kalau bangsa kita sudah punya koneksi global sejak dulu, bukan cuma sekarang saja," jelasnya. Ia merasa senang karena perjalanan ini mulai membuahkan hasil, membuat anak-anaknya menyadari betapa luas dan hebatnya sejarah yang mereka miliki.

Di bangku paling belakang, Pak Jaka sesekali mengecek indikator suhu mesin pada panel instrumen cadangan yang ia pasang sendiri. Ia memastikan bahwa kendaraan mereka tidak akan mengalami kendala saat menghadapi tanjakan panjang menuju dataran tinggi Minangkabau yang terkenal terjal. "Mesin aman, Pak Mada. Kita bisa sampai sebelum matahari terbenam kalau cuaca tetap cerah seperti ini," lapor Pak Jaka dengan tenang.

Suasana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat dibandingkan saat mereka pertama kali berangkat dari rumah mewah mereka di Jakarta. Tidak ada lagi keluhan tentang sinyal yang lambat atau keinginan untuk segera pulang ke kamar ber-AC yang nyaman. Mereka kini lebih sibuk berdiskusi tentang berapa banyak anak tangga yang harus mereka daki untuk mencapai puncak menara jam yang ikonik itu nanti.

Namun, ketenangan itu terusik ketika Mada tiba-tiba meminggirkan mobil di sebuah bahu jalan yang cukup luas dan sepi. Ia mematikan mesin, lalu menarik napas panjang sebelum berbalik menatap istri dan kedua anaknya dengan ekspresi yang sangat serius. "Ada sesuatu yang harus Ayah sampaikan sebelum kita masuk lebih jauh ke wilayah pedalaman Sumatera ini," ucapnya dengan suara yang mendadak berat.

Tiwi mengernyitkan dahi, merasa ada sesuatu yang tidak beres karena rencana awal mereka tidak mencantumkan pemberhentian mendadak di tempat sesunyi ini. "Ada apa, Mas? Kenapa mukanya jadi tegang begitu?" tanya Tiwi dengan nada khawatir yang mulai merayap di dadanya. Ia memegang lengan suaminya, mencoba mencari jawaban dari tatapan mata Mada yang biasanya selalu tenang dan penuh kendali.

Mada mengeluarkan sebuah amplop tua yang sudah agak menguning dari laci dashboard, lalu menyerahkannya kepada Tiwi dengan tangan yang sedikit bergetar. "Sebenarnya, perjalanan ini bukan sekadar liburan keluarga atau pengenalan budaya seperti yang Ayah katakan sebelumnya," ungkap Mada. Kalimat itu membuat suasana di dalam mobil seketika menjadi sunyi senyap, hanya menyisakan suara desiran angin dari luar.

Nusa dan Tara saling berpandangan, merasakan ketegangan yang tiba-tiba memuncak di antara kedua orang tua mereka yang biasanya selalu kompak. "Maksud Ayah apa? Kita tidak sedang dikejar utang, kan?" tanya Nusa dengan nada bercanda yang dipaksakan untuk mencairkan suasana. Namun, tidak ada satu pun orang dewasa di dalam mobil itu yang tertawa, bahkan Pak Jaka pun hanya menunduk diam.

Tiwi membuka amplop itu dan membaca isinya dengan cepat, matanya membelalak saat melihat sertifikat kepemilikan tanah tua di sebuah desa terpencil. "Mas, ini... ini tanah warisan yang seharusnya sudah dijual sepuluh tahun lalu, kan?" tanya Tiwi dengan suara yang nyaris berbisik. Ia tidak menyangka bahwa rahasia besar ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya selama bertahun-tahun tanpa sepenggetahuannya.

Mada menghela napas, mengakui bahwa ia telah membatalkan penjualan tanah itu secara sepihak karena merasa ada tanggung jawab moral yang belum selesai. "Aku tidak bisa menjualnya, Tiwi. Di sana ada makam keluarga besar kita yang tidak terawat. Perjalanan ini adalah cara agar anak-anak tahu bahwa mereka punya akar di sini," akunya jujur. Pengakuan itu menjadi sebuah titik balik yang mengubah tujuan perjalanan mereka secara drastis.

Kebohongan kecil yang selama ini tersimpan akhirnya meledak, memicu perdebatan sengit tentang kejujuran dan pentingnya menjaga warisan leluhur di tengah arus modernisasi. Tiwi merasa dikhianati karena Mada tidak pernah mendiskusikan keputusan sebesar itu, sementara Mada merasa tindakannya adalah demi kebaikan identitas keluarga. Konflik ini menciptakan jarak yang dingin di antara mereka, tepat saat perjalanan baru saja dimulai.

Pak Jaka mencoba menengahi dengan mengingatkan bahwa hari sudah semakin sore dan mereka harus segera melanjutkan perjalanan agar tidak terjebak kabut. "Kita harus jalan sekarang, Pak, Bu. Masalah ini bisa kita bicarakan lagi sambil makan malam nanti," saran Pak Jaka dengan bijak. Dengan berat hati, Mada menyalakan kembali mesin mobil, meninggalkan ketegangan yang masih menggantung di udara pegunungan.

Mobil kembali melaju, namun suasana di dalamnya kini dipenuhi dengan kecanggungan yang sangat terasa, menggantikan keceriaan yang sempat mekar beberapa saat lalu. Nusa dan Tara hanya bisa terdiam, mencoba mencerna fakta bahwa keluarga mereka ternyata memiliki sejarah yang jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Perjalanan ini bukan lagi tentang melihat pemandangan indah, melainkan tentang menghadapi kenyataan pahit yang selama ini tertutup rapat.

Saat mereka mendekati perbatasan kota, pemandangan mulai berubah dari hutan lebat menjadi pemukiman penduduk yang kental dengan nuansa tradisional yang sangat unik. Di kejauhan, tampak siluet bangunan dengan bentuk atap yang belum pernah dilihat oleh Nusa dan Tara secara langsung sebelumnya. Ketegangan perlahan mereda, digantikan oleh rasa penasaran baru saat mereka memasuki wilayah yang terasa sangat sakral dan penuh dengan misteri.

Mobil akhirnya melambat saat memasuki sebuah desa yang dipenuhi dengan deretan bangunan megah yang memiliki atap melengkung tajam menyerupai tanduk kerbau. Tara menempelkan wajahnya ke kaca jendela, matanya berbinar melihat keindahan arsitektur yang seolah-olah menyambut kedatangan mereka dengan segala kemegahannya. "Lihat itu, Bu! Atapnya seperti mau menusuk awan!" seru Tara, sementara mobil perlahan berhenti tepat di depan sebuah gerbang kayu yang sangat besar.

Ban mobil yang dikendarai Pak Jaka akhirnya berhenti tepat di depan deretan rumah gadang yang atap bagonjongnya tampak menusuk langit biru Sumatera Barat. Tara segera turun, membiarkan matanya menjelajahi setiap lekuk ukiran kayu yang didominasi warna merah, kuning, dan hitam. Aroma kayu tua yang lembap terkena hujan semalam masih tercium samar, menciptakan suasana yang begitu tenang sekaligus sakral di tengah perkampungan adat tersebut.

Lihat selengkapnya