Langkah di Atas Pelangi Nusantara

Bilsyah Ifaq
Chapter #4

Harmoni di Jantung Jawa

Debu tipis beterbangan saat ban mobil mendarat di aspal yang lebih kasar setelah keluar dari gerbang tol. Sinar matahari sore yang hangat menyusup melalui kaca jendela, menyinari wajah Nusa yang sejak tadi terpaku pada ponselnya. Di bangku depan, Mada melonggarkan cengkeraman pada kemudi, menghirup aroma tanah dan sate yang mulai tercium dari pinggir jalan. Yogyakarta menyambut mereka dengan kemacetan yang terasa lebih santai dibandingkan keriuhan Jakarta yang menekan saraf setiap hari.

"Kita sudah hampir sampai, Pak?" tanya Tara sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Nusa. Ia terlihat lelah setelah perjalanan panjang melintasi Jawa, namun matanya tetap berbinar menatap deretan pohon beringin di kejauhan. Pak Jaka yang duduk di samping Mada mengangguk mantap dengan senyum lebar yang tidak pernah luntur sejak mereka melewati perbatasan Jawa Tengah. Baginya, setiap jengkal tanah ini adalah memori masa kecil yang berharga.

"Sebentar lagi, Mbak Tara. Kita akan lewat jalan tikus supaya tidak terjebak lampu merah di dekat keraton," jawab Pak Jaka dengan nada bicara yang halus namun penuh semangat. Ia mulai menunjuk ke arah bangunan-bangunan tua dengan atap joglo yang masih berdiri kokoh di antara ruko modern. Mada sesekali melirik anak-anaknya lewat spion tengah, berharap mereka mulai menyadari perbedaan suasana yang kini menyelimuti perjalanan panjang keluarga tersebut.

"Nusa, simpan dulu ponselnya. Lihat itu di sebelah kiri, ada penjual gudeg yang antreannya sampai ke jalan," ujar Tiwi lembut sambil menepuk lutut putra sulungnya. Nusa hanya bergumam pelan, namun ia akhirnya memasukkan ponsel ke saku jaketnya dan mulai memperhatikan kerumunan orang di trotoar. Ada ketenangan yang aneh di sana, di mana orang-orang tidak terlihat terburu-buru mengejar sesuatu, sangat kontras dengan pemandangan di ibu kota.

Mobil perlahan memasuki kawasan yang lebih padat dengan ornamen bangunan khas Jawa yang kental. Suara klakson jarang terdengar, digantikan oleh gemerincing bel sepeda tua dan deru pelan mesin motor yang melaju santai. Pak Jaka membuka jendela sedikit, membiarkan udara sore masuk membawa suara gamelan yang sayup-sayup terdengar dari kejauhan. Musik itu seolah menjadi detak jantung bagi kota yang sedang bersiap menyambut malam dengan segala keramahannya.

"Dengar itu? Itu latihan di balai desa atau mungkin di pendopo," kata Pak Jaka dengan nada bangga yang sulit disembunyikan. Ia merasa seperti pulang ke pelukan ibu setelah sekian lama merantau di belantara beton Jakarta. Mada tersenyum melihat asisten setianya itu begitu emosional, menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya untuk anak-anaknya, tetapi juga bentuk penghormatan bagi orang-orang yang telah mendampingi keluarganya selama ini.

"Pak Jaka, apa benar orang di sini semuanya sopan seperti yang Ayah bilang?" Nusa akhirnya membuka suara, rasa penasarannya mulai terusik oleh pemandangan di luar. Ia melihat seorang pengendara motor yang berhenti hanya untuk memberi jalan kepada seorang nenek yang menyeberang dengan sangat lambat. Di Jakarta, hal semacam itu mungkin sudah diwarnai dengan teriakan tidak sabar atau bunyi klakson yang memekakkan telinga para pejalan kaki.

"Bukan cuma sopan, Mas Nusa, tapi ada rasa saling menjaga. Di sini, kita tidak hidup sendirian," jawab Pak Jaka sambil memutar tubuhnya sedikit ke arah belakang. Ia ingin memastikan Nusa mengerti bahwa apa yang mereka lihat bukan sekadar pemandangan, melainkan cara hidup yang sudah mendarah daging. Mada mengangguk setuju, merasa bahwa inilah pelajaran pertama yang paling penting bagi kedua anaknya dalam perjalanan epik melintasi nusantara.

Namun, suasana tenang itu mendadak terusik ketika Mada mengerem mendadak karena sebuah mobil mewah memotong jalur mereka dengan kasar. Mobil itu berpelat nomor Jakarta, melaju kencang tanpa mempedulikan ketenangan jalanan sempit yang mereka lalui. Mada menghela napas panjang, merasa ironis melihat perilaku yang ingin ia hindari justru muncul di depan matanya sendiri. Wajahnya mengeras sesaat, menyadari betapa sulitnya menjaga akar budaya di tengah arus modernitas yang egois.

"Kenapa Ayah diam saja? Biasanya Ayah pasti sudah marah-marah kalau ada yang memotong jalan begitu," celetuk Tara dengan polos. Mada terdiam sejenak, menatap punggung mobil di depannya yang mulai menjauh dan menghilang di belokan. Ia menyadari bahwa kemarahannya tidak akan mengubah keadaan, justru hanya akan merusak suasana damai yang sedang ia bangun untuk keluarganya di kota istimewa ini.

"Kita di Jogja, Tara. Di sini kita belajar untuk lebih bersabar dan tidak membawa emosi jalanan ke dalam hati," jawab Mada dengan suara rendah yang menenangkan. Tiwi menggenggam tangan suaminya, memberikan dukungan moral atas perubahan sikap yang sedang diusahakan Mada. Mereka semua tahu bahwa perjalanan ini adalah ujian bagi karakter mereka masing-masing, bukan sekadar liburan keluarga dengan pemandangan yang indah di sepanjang jalan.

Pak Jaka kemudian mengarahkan Mada untuk berbelok ke sebuah jalan kecil yang dipenuhi pohon kamboja di kanan kirinya. Jalanan ini jauh lebih sepi dan membawa mereka semakin dalam menuju pinggiran kota yang asri. Nusa mulai merasa cemas karena pemandangan gedung tinggi benar-benar hilang, digantikan oleh hamparan sawah hijau yang mulai menguning. Ia merasa seperti sedang memasuki dunia lain yang sangat asing bagi gaya hidup remajanya selama ini.

"Kita mau menginap di mana, Pak Jaka? Kok jalannya makin kecil dan gelap?" tanya Nusa dengan nada yang sedikit gelisah. Ia terbiasa dengan hotel berbintang yang memiliki lampu terang dan fasilitas lengkap di setiap sudutnya. Pak Jaka hanya tertawa kecil, suara tawanya terdengar tulus dan menenangkan kegelisahan Nusa yang mulai muncul di permukaan. Ia tahu bahwa kejutan sebenarnya baru saja akan dimulai bagi keluarga majikannya.

"Kita akan ke rumah orang tua saya, Mas Nusa. Tidak ada lift, tapi suasananya tidak akan bisa dibayar dengan uang," ujar Pak Jaka penuh keyakinan. Mada melirik istrinya, dan Tiwi hanya membalas dengan senyuman penuh arti yang menyiratkan bahwa mereka sudah sepakat dengan rencana ini. Anak-anak harus merasakan bagaimana rasanya hidup dalam kesederhanaan yang penuh dengan nilai-nilai luhur yang selama ini hanya ada di buku pelajaran.

Saat mobil perlahan berhenti di depan sebuah pagar bambu yang rapi, suasana malam mulai turun menyelimuti desa kecil di pinggiran Bantul itu. Lampu-lampu teras rumah penduduk mulai menyala satu per satu, menciptakan pendar kuning yang hangat di sepanjang jalan. Pak Jaka turun terlebih dahulu, menyapa beberapa tetangga yang sedang duduk-duduk di depan rumah dengan bahasa Jawa yang halus dan penuh hormat. Nusa dan Tara memperhatikan interaksi itu dengan rasa heran sekaligus kagum.

Mada mematikan mesin mobil dan menarik napas dalam-dalam, merasakan udara pegunungan yang bersih masuk ke paru-parunya. Ia menoleh ke kursi belakang, melihat kedua anaknya yang masih ragu untuk turun dari kendaraan. "Ayo, ini saatnya kita bertemu dengan keluarga besar Pak Jaka," ajak Mada sambil membuka pintu. Ia tahu bahwa langkah pertama keluar dari mobil ini akan menjadi awal dari transformasi besar bagi kedua anaknya yang manja.

Di teras rumah yang sederhana namun asri, beberapa orang tua sudah duduk menunggu dengan wajah-wajah yang penuh kerutan namun memancarkan kedamaian. Pak Jaka memberi isyarat agar Nusa dan Tara mendekat, sementara ia sendiri mulai merundukkan badannya saat melewati kerumunan sesepuh tersebut. Nusa menelan ludah, ia merasa bingung harus melakukan apa di hadapan orang-orang yang menatapnya dengan senyum tulus namun penuh wibawa ini.

Mobil yang dikendarai Pak Jaka melambat saat memasuki jalanan desa yang sempit dan berdebu di pinggiran Bantul. Suasana Jakarta yang bising terasa sangat jauh, digantikan oleh suara gesekan daun bambu dan aroma tanah basah yang menenangkan. Di depan sebuah rumah kayu dengan teras yang luas, beberapa pria lanjut usia tampak duduk santai sambil berbincang pelan dalam bahasa Jawa yang halus.

Lihat selengkapnya