Langkah di Atas Pelangi Nusantara

Bilsyah Ifaq
Chapter #5

Pulau Seribu Pura

Deburan ombak di pelabuhan Gilimanuk menyambut kedatangan mobil keluarga Mada di tanah Bali. Bau dupa dan harum bunga kamboja segera menyergap indra penciuman mereka, menciptakan suasana yang mistis sekaligus menenangkan. Di setiap sudut jalan, terlihat penjor-penjor tinggi yang menghiasi rumah warga, menandakan adanya upacara adat yang tengah berlangsung. Nusa yang biasanya cuek dan lebih memilih menatap layar ponsel, kini mulai aktif mengamati setiap detail sesajen yang diletakkan di pinggir jalan dengan penuh rasa ingin tahu.

Mada memutar kemudi dengan perlahan, menghindari kerumunan warga yang mengenakan pakaian adat putih bersih. Tiwi di sampingnya tersenyum tipis, merasa lega melihat kedua anaknya tidak lagi mengeluh soal sinyal internet yang tidak stabil selama perjalanan dari Banyuwangi. Mereka sedang dalam misi penting, yaitu menyambangi akar budaya yang selama ini hanya menjadi teks di buku sekolah anak-anak. Di kursi belakang, Tara menyandarkan kepalanya di jendela, memperhatikan bagaimana cahaya matahari sore memantul di atas sawah berundak-undak.

Mobil terus melaju menyusuri jalanan yang semakin sempit dan berkelok menuju arah Ubud. Pak Jaka, yang duduk di baris paling belakang bersama tumpukan koper, sesekali memberikan informasi tentang desa-desa yang mereka lalui. Ia sudah sering ke Bali sebelumnya, namun perjalanan kali ini terasa berbeda karena ia melihat perubahan nyata pada sikap Nusa dan Tara. Keheningan di dalam mobil bukan lagi karena rasa bosan, melainkan karena kekaguman yang sulit diungkapkan dengan kata-kata oleh kedua remaja itu.

"Ayah, kenapa mereka menaruh bunga dan makanan di trotoar begitu?" tanya Nusa tiba-tiba sambil menunjuk sebuah canang sari. Suaranya tidak lagi ketus, melainkan terdengar tulus ingin tahu. Mada melirik lewat spion tengah, melihat wajah putranya yang tampak serius memperhatikan ritual harian warga lokal. Ia merasa ini adalah momen yang tepat untuk menjelaskan, namun ia memilih membiarkan suasana alam Bali yang berbicara lebih dulu kepada mereka.

Tiwi menjawab dengan lembut, menjelaskan bahwa itu adalah bentuk syukur kepada semesta atas kehidupan yang diberikan. Tara yang sejak tadi diam, mulai membuka catatan kecilnya untuk menggambar sketsa penjor yang melengkung indah di depan gerbang pura. Ia merasa ada harmoni yang belum pernah ia temukan di kemacetan Jakarta yang menyesakkan dada. Di sini, segalanya terasa memiliki tempat dan tujuannya masing-masing, seolah alam dan manusia sedang berdansa dalam irama yang sama.

Namun, suasana tenang itu mendadak terusik ketika Mada menghentikan mobilnya secara tiba-tiba di pinggir jalan hutan yang sepi. Wajahnya terlihat pucat saat ia menatap layar GPS yang tiba-tiba mati total, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang mulai merayap naik. Pak Jaka turun untuk memeriksa kondisi mesin, sementara angin dingin mulai berembus masuk melalui celah jendela yang terbuka sedikit. Ketegangan mulai menyelimuti kabin mobil yang tadinya penuh dengan kedamaian dan rasa syukur.

"Ada apa, Mas? Kok berhenti di sini?" tanya Tiwi dengan nada suara yang mulai bergetar karena khawatir. Mada tidak menjawab, ia terus mencoba menyalakan kunci kontak, namun mesin mobil hanya mengeluarkan suara batuk yang parah. Nusa dan Tara saling berpandangan, menyadari bahwa mereka kini terjebak di tengah jalur yang asing tanpa bantuan komunikasi yang memadai. Pak Jaka kembali masuk ke dalam mobil dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang tampak sangat gelisah.

"Pak Mada, saya rasa kita baru saja melewati jalan yang salah, ini bukan jalur utama menuju Ubud," bisik Pak Jaka dengan suara rendah. Ia menunjukkan secarik peta fisik yang sudah kusam, menunjukkan bahwa mereka berada di area terlarang yang jarang dilalui wisatawan. Rasa takut mulai menjalar di punggung Nusa, ia teringat cerita-cerita tentang pengelana yang tersesat di hutan Bali karena tidak menghormati adat setempat. Ia menatap canang sari terakhir yang ia lihat, merasa bersalah karena sempat menganggapnya aneh.

Tiba-tiba, seorang pria tua muncul dari balik pepohonan besar dengan membawa obor bambu yang menyala terang. Ia tidak mengenakan seragam petugas, melainkan kain sarung sederhana dan ikat kepala yang sudah pudar warnanya. Pria itu mengetuk jendela mobil Mada dengan sopan, namun tatapan matanya terasa sangat tajam dan menghujam ke dalam jiwa. Mada menurunkan kaca jendela dengan tangan gemetar, bersiap untuk kemungkinan terburuk yang mungkin akan menimpa keluarganya malam itu.

"Kalian melewatkan persembahan di gerbang desa tadi," kata pria itu dengan suara berat yang menggema di keheningan hutan. Kalimat itu bukan sekadar teguran, melainkan sebuah pernyataan yang membuat Mada tersentak karena ia memang sengaja memacu mobil lebih cepat tadi. Pria itu kemudian memberikan sebuah bungkusan kecil berisi bunga kamboja kering kepada Mada, menyuruhnya untuk meletakkannya di atas dasbor mobil. Keajaiban seolah terjadi, karena sesaat setelah bunga itu diletakkan, mesin mobil tiba-tiba menyala kembali dengan sempurna.

Setelah mendapatkan petunjuk jalan yang benar dari pria misterius itu, mereka akhirnya tiba di pinggiran Ubud yang masih asri. Cahaya lampu dari homestay-homestay kecil mulai terlihat, memberikan rasa aman yang sangat dirindukan oleh Tiwi dan anak-anak. Mada menarik napas panjang, menyadari bahwa perjalanan ini akan memberikan lebih banyak kejutan daripada yang ia rencanakan semula. Ia merasa bahwa Bali memiliki cara sendiri untuk mendidik tamu-tamunya agar selalu rendah hati dan waspada.

Mereka berhenti di depan sebuah gerbang kayu besar yang dihiasi ukiran naga yang sangat detail dan tampak hidup. Di sana, seorang pria paruh baya dengan senyum lebar sudah menunggu mereka sambil memegang payung karena gerimis mulai turun. Pria itu menyapa mereka dengan bahasa Indonesia yang sangat halus, membuat rasa lelah akibat tersesat tadi perlahan sirna. Suasana di tempat itu terasa sangat hangat, jauh dari kesan angker yang mereka rasakan di tengah hutan beberapa saat lalu.

"Selamat datang di rumah saya, silakan masuk agar tidak kedinginan," sambut pria itu dengan ramah sambil membukakan pintu mobil. Nusa dan Tara segera turun, merasakan udara malam Ubud yang sejuk menyentuh kulit mereka yang masih tegang. Pak Jaka membantu menurunkan koper-koper, sementara Mada bersalaman erat dengan sang pemilik rumah yang tampak sangat bersahaja. Mereka tidak menyangka bahwa pertemuan ini akan menjadi awal dari pelajaran hidup yang paling mendalam selama perjalanan mereka.

Di dalam homestay, aroma kayu jati dan minyak esensial menenangkan saraf-saraf mereka yang sempat menegang akibat kejadian di hutan. Ruang tengah dipenuhi dengan berbagai macam patung kayu setengah jadi yang dipahat dengan penuh ketelitian oleh sang pemilik. Tara mendekati salah satu patung, mengagumi bagaimana bongkahan kayu mati bisa berubah menjadi karya seni yang memiliki nyawa. Ia merasa bahwa setiap goresan pahat di sana menceritakan sebuah kisah tentang kesabaran dan dedikasi yang luar biasa.

Mada memperkenalkannya kepada anak-anak sebagai Wayan, seorang seniman ukir yang karyanya sudah dikenal hingga ke mancanegara namun tetap memilih hidup sederhana. Wayan hanya tertawa kecil mendengar pujian itu, lalu mengajak mereka duduk di bale-bale sambil menikmati teh hangat dan penganan lokal. Nusa memperhatikan bagaimana Wayan memperlakukan setiap benda di rumahnya dengan penuh rasa hormat, seolah-olah benda mati pun memiliki perasaan. Hal ini membuat Nusa mulai merenungkan kembali perilakunya selama ini terhadap lingkungan sekitarnya.

Wayan mulai bercerita tentang betapa pentingnya menjaga keseimbangan dalam hidup agar tidak terjadi kekacauan yang merugikan diri sendiri. Ia menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia memiliki dampak yang luas, bukan hanya kepada sesama manusia tetapi juga kepada alam semesta. Mada dan Tiwi mendengarkan dengan saksama, merasa bahwa inilah jawaban yang mereka cari untuk membawa anak-anak kembali ke nilai-nilai luhur. Di bawah sinar lampu yang temaram, suasana kekeluargaan mulai terbentuk di antara mereka dan sang tuan rumah.

Malam semakin larut, namun semangat Nusa dan Tara untuk belajar justru semakin membara setelah mendengar penuturan awal dari Wayan. Mereka menyadari bahwa di balik keindahan fisik Bali, terdapat filosofi mendalam yang mengatur setiap gerak-gerik masyarakatnya dalam menjaga kedamaian. Wayan berjanji akan menunjukkan lebih banyak lagi esok hari, termasuk cara warga desa mengelola sampah dan air secara komunal. Pelajaran tentang keharmonisan yang sesungguhnya baru saja dimulai bagi keluarga Mada di jantung spiritual Pulau Dewata ini.

Aroma dupa dan bunga kamboja yang segar menyambut keluarga Mada saat mereka melintasi gerbang ukiran batu yang megah. Pak Wayan, sang pemilik homestay, berdiri di depan pintu dengan senyum yang tulus sambil merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada. Di belakangnya, rimbunnya pohon kamboja dan gemericik air kolam kecil menciptakan suasana tenang yang sangat kontras dengan hiruk pikuk Jakarta yang biasa mereka hadapi setiap hari.

"Selamat datang di gubuk kami. Semoga kalian bisa beristirahat dengan tenang di sini," sapa Pak Wayan dengan suara rendah yang menenangkan hati. Tangannya yang kasar karena bertahun-tahun memahat kayu tampak begitu lincah saat ia menyuguhkan teh melati hangat kepada mereka semua. Mada mengangguk hormat, merasa bahwa tempat ini adalah pelarian yang sempurna bagi Nusa dan Tara yang sejak tadi sibuk memandangi layar ponsel masing-masing.

Lihat selengkapnya