Langit di atas pelabuhan Lembar tampak jauh lebih pucat dibandingkan birunya langit Jawa yang lembap. Mada menyeka keringat yang mengucur deras di keningnya saat mobil mereka meluncur turun dari dek kapal feri. Udara panas yang kering langsung menyergap, membawa aroma garam dan debu yang tajam ke dalam kabin mobil yang pendingin udaranya mulai kewalahan menghadapi suhu ekstrem di luar sana.
Tiwi mencoba mengipasi wajahnya dengan selembar brosur wisata yang sudah lecek di tangannya. Ia menoleh ke arah bangku belakang, memperhatikan kedua anaknya yang tampak sedikit lesu akibat perjalanan panjang melintasi selat. "Bagaimana, Nusa, Tara? Selamat datang di Lombok. Rasanya beda sekali ya dengan di Jakarta atau Bali kemarin?" tanya Tiwi sambil mencoba memberikan senyum penyemangat bagi anak-anaknya.
"Panas sekali, Ma. AC mobilnya seperti tidak terasa sama sekali," keluh Tara sambil menyandarkan kepalanya ke jendela yang terasa hangat saat disentuh kulit. Ia melihat ke arah luar, di mana bukit-bukit gundul berwarna cokelat keemasan berdiri tegak di sepanjang jalan. Tidak ada hamparan sawah hijau yang rimbun seperti yang mereka lihat di sepanjang perjalanan melintasi Jawa Tengah maupun dataran tinggi di Bali beberapa hari lalu.
Nusa hanya diam, matanya terpaku pada termometer digital di jam tangannya yang menunjukkan angka tiga puluh tujuh derajat celcius. Ia melihat Pak Jaka yang duduk di kursi pengemudi tampak sangat waspada, sesekali matanya melirik ke arah jarum indikator suhu mesin di dasbor. Kondisi alam yang lebih keras ini menuntut perhatian ekstra, terutama bagi kendaraan yang sudah menempuh ribuan kilometer sejak keberangkatan mereka dari Jakarta.
Mobil tiba-tiba melambat dan Pak Jaka meminggirkan kendaraan di sebuah bahu jalan yang cukup lebar di bawah bayangan pohon asam yang meranggas. "Kita harus cek radiator sebentar, Pak Mada. Suhu mesinnya naik terlalu cepat karena tanjakan dan cuaca ini," ujar Pak Jaka dengan suara tenang namun tegas. Ia segera turun dan membuka kap mesin, membiarkan uap panas mengepul keluar ke udara terbuka yang juga sudah membara.
Nusa bergegas turun untuk membantu, membawa botol air cadangan yang sudah mereka siapkan di bagasi belakang. Ia berdiri di samping Pak Jaka, memperhatikan bagaimana pria tua itu dengan hati-hati membuka tutup radiator menggunakan kain basah agar tangannya tidak melepuh. "Alam di sini tidak memanjakan kita seperti di Jawa, Den Nusa.
Kita harus belajar menghormati panasnya kalau mau selamat sampai tujuan," kata Pak Jaka sambil menuangkan air secara perlahan.
Mada keluar dari mobil dan berdiri di samping anaknya, menatap hamparan padang rumput kering yang membentang luas hingga ke kaki langit. "Lihat itu, Nusa. Di Jakarta, kita hanya perlu menekan tombol untuk merasa sejuk. Di sini, orang-orang harus berjuang melawan terik hanya untuk mengambil air atau menggembalakan ternak. Budaya mereka terbentuk dari ketangguhan menghadapi matahari yang tidak kenal ampun ini," ucap Mada dengan nada bicara yang dalam.
Tara yang akhirnya ikut turun merasa kakinya seperti menginjak lantai tungku saat menyentuh aspal jalanan. Namun, rasa kesalnya perlahan memudar saat ia melihat garis pantai di kejauhan yang berwarna biru toska, kontras dengan daratan yang gersang. Keindahan itu terasa begitu murni, seolah-olah alam sengaja menyembunyikan permata paling berharganya di balik lingkungan yang tampak tidak ramah bagi pendatang dari kota besar seperti mereka.
Ketegangan sempat memuncak ketika Pak Jaka menemukan sebuah selang kecil yang mulai retak akibat panas yang terlalu konstan selama perjalanan. "Kalau ini pecah di tengah hutan, kita tidak akan bisa lanjut, Pak," lapor Pak Jaka kepada Mada dengan ekspresi serius. Mada terdiam sebentar, menyadari bahwa keputusan membawa keluarganya ke wilayah yang lebih liar ini membawa risiko yang jauh lebih nyata daripada sekadar kebosanan di perjalanan.
Nusa mengambil lakban khusus dari kotak perkakas dan mulai membantu Pak Jaka melilit bagian yang retak sebagai penanganan darurat sementara. Tangannya yang biasanya hanya memegang stik gim kini belepotan oli dan debu jalanan, namun ia tidak mengeluh sedikit pun. Ada rasa tanggung jawab baru yang tumbuh di dalam dirinya, sebuah kesadaran bahwa mereka adalah satu tim yang harus saling menjaga di tengah daratan yang asing ini.
Setelah memastikan mesin kembali stabil, mereka melanjutkan perjalanan menuju wilayah selatan, menjauhi keramaian kota Mataram yang mulai tertinggal di belakang.
Pemandangan berubah menjadi deretan pohon kelapa dan rumah-rumah penduduk yang dibangun dengan bahan-bahan alam sederhana. Tiwi memperhatikan bagaimana arsitektur bangunan di sini sangat berbeda, lebih tertutup dan dirancang untuk memantulkan panas daripada menyimpan kelembapan seperti rumah-rumah di daerah pegunungan.
Mada kemudian memutar kemudi ke arah sebuah jalur kecil yang menuju ke arah perbukitan berbatu di wilayah selatan Lombok. "Ayah dengar ada sebuah tempat di mana tradisi tidak pernah berubah meski dunia luar sudah memakai internet super cepat," katanya sambil melirik ke arah anak-anaknya lewat spion tengah. Ia ingin menunjukkan bahwa kenyamanan modern yang mereka miliki di Jakarta bukanlah standar tunggal untuk menilai kebahagiaan atau martabat sebuah masyarakat.
Tiba-tiba, mobil mereka berpapasan dengan sekelompok warga lokal yang sedang menggiring sekawanan kerbau besar melintasi jalanan berdebu. Kulit mereka yang gelap terbakar matahari tampak berkilau oleh keringat, namun senyum ramah tetap terpancar saat mereka melambaikan tangan ke arah mobil keluarga Mada. Tara tertegun melihat bagaimana anak-anak seusianya berlari tanpa alas kaki di atas tanah yang panas, tampak sangat menikmati hidup tanpa beban gadget.
Pak Jaka menghentikan mobil sejenak untuk memberi jalan bagi kawanan ternak tersebut, memberikan kesempatan bagi Tara dan Nusa untuk melihat lebih dekat. Bau khas ternak dan tanah kering memenuhi kabin saat kaca jendela dibuka sedikit untuk sirkulasi udara. Nusa menyadari bahwa perjalanan ini bukan lagi sekadar liburan, melainkan sebuah ujian tentang seberapa jauh mereka bisa keluar dari zona nyaman yang selama ini membelenggu pikiran mereka.
Di ujung jalan yang bergelombang, sebuah papan kayu tua menunjuk ke arah sebuah desa yang tersembunyi di balik perbukitan tandus. Mada mematikan musik di dalam mobil, membiarkan suara angin kering yang menderu di antara celah pohon menjadi latar suara perjalanan mereka. Ia tahu bahwa apa yang akan mereka temui di depan sana mungkin akan mengguncang semua standar kebersihan dan kenyamanan yang dipahami oleh Tara dan Nusa selama ini.
Mobil akhirnya berhenti di sebuah lapangan tanah luas di depan gerbang desa yang tampak sangat kuno dengan atap-atap jerami yang menjulang tinggi ke langit. Udara di sini terasa lebih tenang, namun ada aura kekuatan yang terpancar dari kesederhanaan bangunan-bangunan yang berdiri kokoh menghadapi zaman. Pak Jaka mematikan mesin, dan untuk sejenak, semua orang di dalam mobil hanya diam terpaku melihat pemandangan di depan mata mereka.
Tara memicingkan matanya saat melihat beberapa perempuan desa sedang sibuk menggosokkan sesuatu ke lantai tanah di depan teras rumah mereka yang unik. Bau yang asing mulai tercium, sebuah aroma organik yang kuat namun tidak menusuk, memicu rasa penasaran sekaligus keraguan di dalam hatinya. Ia melangkah turun dari mobil dengan hati-hati, bersiap untuk memasuki dunia yang benar-benar berbeda dari apa pun yang pernah ia bayangkan sebelumnya.