Langkah di Atas Pelangi Nusantara

Bilsyah Ifaq
Chapter #7

Jejak Purba di Labuan Bajo

Suara mesin kapal yang melambat membangunkan Nusa dari tidurnya yang tidak nyenyak di atas dek kayu. Matahari baru saja mengintip dari balik cakrawala, menyemburatkan warna jingga kemerahan pada permukaan air laut yang tenang di Pelabuhan Labuan Bajo. Tara sudah berdiri di pagar pembatas, rambutnya yang berantakan tertiup angin laut yang membawa aroma garam serta amis ikan yang khas. Pemandangan bukit-bukit gersang yang melandai ke arah laut biru membuat gadis kecil itu berhenti mengerutu tentang sinyal ponselnya yang hilang sejak semalam.

Mada keluar dari kabin kecil sambil meregangkan otot-ototnya yang kaku setelah perjalanan panjang menyeberangi perairan Nusa Tenggara. Ia menatap deretan kapal pinisi yang bersandar rapi, simbol kemegahan maritim yang selama ini hanya ia lihat di brosur wisata kantornya di Jakarta. Tiwi menyusul di belakangnya, membawa botol air minum dan topi lebar untuk anak-anak, memastikan mereka terlindungi dari sengatan matahari yang mulai terasa menggigit kulit. Mereka berempat berdiri dalam diam, menyerap keheningan pagi yang jarang mereka dapatkan di tengah hiruk-pikuk ibu kota.

"Ayah, apa kita benar-benar akan bertemu naga hari ini?" tanya Tara dengan nada yang antara ragu dan antusias. Ia mengingat gambar-gambar reptil raksasa di buku pelajarannya, namun melihat langsung adalah hal yang berbeda. Mada hanya tersenyum tipis sambil mengusap bahu putrinya, merasakan ketegangan kecil di sana. Ia tahu bahwa perjalanan ini bukan sekadar liburan, melainkan cara untuk mengembalikan rasa takjub anak-anaknya terhadap tanah kelahiran mereka yang kaya dan penuh misteri.

Pak Jaka tampak sibuk bernegosiasi dengan seorang pria lokal yang mengenakan kaos oblong pudar dan topi lusuh di dermaga. Gerak-geriknya lincah, menunjukkan pengalaman bertahun-tahun dalam mengatur logistik perjalanan keluarga Mada di berbagai pelosok Nusantara. Setelah beberapa menit percakapan yang diselingi tawa renyah, Pak Jaka melambai ke arah keluarga itu untuk segera turun dari kapal utama. Sebuah kapal kayu tradisional yang lebih kecil, dengan cat putih yang mulai mengelupas di beberapa bagian, sudah menunggu untuk mengantar mereka ke tujuan utama.

"Semua sudah siap, Pak Mada. Kapal ini yang akan membawa kita masuk ke wilayah taman nasional," lapor Pak Jaka saat mereka mulai memindahkan tas punggung. Suaranya mantap, memberikan rasa aman di tengah ketidakpastian alam liar yang akan mereka hadapi. Nusa memandang kapal kayu itu dengan dahi berkerut, membandingkannya dengan kapal pesiar mewah yang pernah mereka tumpangi di Singapura. Namun, ia memilih diam dan melompat ke atas geladak kayu yang terasa kokoh di bawah kakinya, merasakan getaran mesin yang mulai menyala.

Saat kapal mulai menjauh dari pelabuhan, Tiwi duduk di samping Nusa dan membuka sebuah peta lipat yang sudah agak lecek karena sering dibaca. Ia menunjuk posisi mereka saat ini, sebuah titik kecil di antara ribuan pulau yang membentuk Indonesia, menjelaskan betapa uniknya ekosistem di wilayah ini. Tara ikut mendekat, mendengarkan penjelasan ibunya tentang bagaimana arus laut yang kuat di sini membawa nutrisi bagi ribuan spesies ikan. Percakapan itu mengalir alami, tanpa tekanan buku teks sekolah, membuat kedua anak itu mulai menyadari betapa luasnya dunia di luar kamar mereka.

Namun, suasana santai itu pecah ketika Mada secara tidak sengaja menjatuhkan sebuah map dokumen yang sejak tadi ia pegang erat ke lantai kapal yang basah. Beberapa lembar kertas keluar, menunjukkan jadwal rapat dan rencana proyek besar yang seharusnya ia tinggalkan di Jakarta. Tiwi menatap kertas-kertas itu dengan tatapan tajam yang membuat

Mada langsung terdiam dan merasa bersalah. "Kamu bilang ini perjalanan keluarga, Mada. Bukan kantor pindah ke atas kapal," ucap Tiwi dengan suara rendah namun penuh penekanan yang membuat suasana mendadak tegang.

Mada terdiam sebentar, menatap istrinya lalu beralih ke arah anak-anaknya yang kini memperhatikan mereka dengan wajah cemas. Ia meremas kertas-kertas basah itu menjadi bola dan melemparkannya ke dalam tempat sampah kecil di pojok kapal dengan gerakan kasar. "Kamu benar. Tidak ada lagi urusan Jakarta di sini," jawab Mada dengan suara yang sedikit bergetar karena menahan emosi. Ia menyadari bahwa egonya hampir saja merusak momen berharga yang sudah mereka susun dengan susah payah sepanjang perjalanan dari ujung barat Indonesia.

Ketegangan itu mereda saat kapal melewati celah sempit di antara dua pulau karang yang menjulang tinggi seperti gerbang raksasa. Air di bawah mereka berubah warna dari biru tua menjadi hijau toska yang jernih, menyingkap hamparan terumbu karang yang melambai ditiup arus bawah laut. Pak Jaka menunjuk ke arah kejauhan, di mana sebuah garis pantai berpasir kecokelatan mulai terlihat di cakrawala yang panas. Itu adalah Pulau Komodo, tempat di mana waktu seolah berhenti dan makhluk purba masih berkuasa atas daratan gersang tersebut.

Nusa merasakan dorongan adrenalin yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah perasaan yang jauh lebih nyata daripada kemenangan di gim video manapun. Ia melihat ayahnya yang kini benar-benar melepaskan ponselnya, memilih untuk berdiri di depan kapal sambil menantang angin laut yang kencang. Ada perubahan pada raut wajah Mada, sebuah ketenangan yang selama ini tertutup oleh beban pekerjaan dan ambisi karier. Di sini, di tengah samudra yang luas, mereka semua hanyalah tamu kecil yang harus tunduk pada aturan alam yang tidak kenal kompromi.

Kapal perlahan melambat saat mendekati dermaga kayu panjang yang menjorok jauh ke tengah laut, menandakan mereka telah sampai di pintu masuk taman nasional. Dari kejauhan, terlihat beberapa bangunan kayu dengan atap rumbia yang menyatu dengan warna tanah dan pepohonan kering di sekitarnya. Suasana di sini terasa sangat berbeda dengan Labuan Bajo yang mulai modern; di sini, sunyi adalah suara yang paling dominan. Tara menggenggam tangan ibunya dengan erat, matanya menyapu setiap sudut pantai, mencari tanda-tanda keberadaan sang naga purba.

Seorang pria berseragam hijau khaki dengan topi rimba sudah berdiri menunggu di ujung dermaga, tampak tenang meskipun matahari menyengat tepat di atas kepala. Ia memegang sebuah tongkat kayu panjang dengan ujung bercabang, alat yang tampak sederhana namun menyimpan fungsi vital di pulau ini. Pak Jaka memberikan isyarat agar semua orang segera bersiap untuk turun dan mengikuti instruksi dengan sangat ketat demi keselamatan bersama. Tidak ada ruang untuk kesalahan atau kelalaian di tempat di mana pemangsa puncak berkeliaran dengan bebas di habitat aslinya.

Mada menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kering yang masuk ke paru-parunya, sebuah kontras yang tajam dengan kelembapan Jakarta yang menyesakkan. Ia menatap Tiwi dan memberikan anggukan kecil, sebuah janji tanpa kata bahwa ia akan hadir sepenuhnya dalam petualangan berbahaya namun penting ini. Mereka melangkah turun dari kapal satu per satu, merasakan papan dermaga yang berderit di bawah beban tubuh mereka yang penuh rasa ingin tahu. Langkah kaki mereka bergema di tengah kesunyian pantai, menandai dimulainya babak baru dalam perjalanan panjang mencari jati diri bangsa.

Langkah mereka terhenti sejenak ketika pria berseragam itu melangkah maju dengan senyum ramah namun mata yang tetap waspada memantau sekeliling. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Aris, salah satu ranger yang sudah bertahun-tahun mengabdi untuk menjaga kelestarian ekosistem unik di pulau tersebut. Kak Aris, begitu ia ingin dipanggil, mulai memberikan arahan singkat tentang aturan dasar yang tidak boleh dilanggar selama mereka berada di daratan. Suaranya yang berat dan tenang memberikan wibawa tersendiri, membuat Nusa dan Tara mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa berani menyela sedikit pun.

Di balik semak-semak yang menguning, Nusa sempat melihat sesuatu yang bergerak perlahan, sebuah bayangan panjang yang seolah menyatu dengan warna dedaunan kering. Jantungnya mulai berdegup lebih kencang saat ia menyadari bahwa mereka tidak lagi berada di puncak rantai makanan di tempat yang eksotis ini. Ia menoleh ke arah ayahnya, mencari perlindungan, namun ia melihat Mada pun sedang menatap ke arah yang sama dengan ekspresi penuh rasa hormat. Petualangan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan mereka harus siap menghadapi kenyataan alam yang mungkin jauh lebih keras dari bayangan mereka.

Kak Aris kemudian memberikan isyarat dengan tangannya agar rombongan kecil itu mulai bergerak mengikuti jalur setapak yang sudah disediakan oleh pengelola taman. Ia berjalan di depan dengan langkah yang pasti, sesekali menusukkan tongkat bercabangnya ke tanah untuk memastikan jalan aman dari gangguan hewan melata lainnya.

Keluarga Mada berjalan beriringan di belakangnya, menjaga jarak yang disarankan sambil terus mengedarkan pandangan ke segala arah dengan rasa waswas. Mereka kini memasuki wilayah hutan kering yang menjadi rumah bagi salah satu reptil paling mematikan sekaligus paling dikagumi di seluruh dunia.

Suhu udara semakin meningkat seiring mereka masuk lebih dalam ke jantung pulau, membuat keringat mulai bercucuran dari dahi Nusa dan Tara yang belum terbiasa dengan cuaca ekstrem ini. Namun, rasa lelah itu seolah sirna berganti dengan ketegangan yang murni saat Kak Aris tiba-tiba berhenti dan mengangkat tangannya, memberi tanda agar semua orang diam di tempat.

Lihat selengkapnya