Langkah di Atas Pelangi Nusantara

Bilsyah Ifaq
Chapter #8

Harum Cengkeh di Tanah Maluku

Kapal feri berukuran besar itu membelah permukaan Laut Banda yang biru pekat dengan suara mesin yang menderu rendah. Di geladak luar, Mada berdiri menyandarkan lengannya pada pagar besi yang terasa hangat tersengat matahari timur. Ia menghirup udara dalam-dalam, merasakan sensasi unik yang seolah membawa aroma cengkeh dan pala langsung ke paru-parunya. Aroma rempah yang melegenda itu seakan terseret angin dari daratan Maluku yang sudah mulai terlihat samar di cakrawala.

"Ayah, kenapa laut di sini warnanya beda sekali dengan yang di Jakarta?" tanya Nusa sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot. Anak laki-laki itu berdiri di samping ayahnya, menatap buih putih yang dihasilkan oleh lambung kapal yang memecah ombak. Mada tersenyum kecil melihat rasa penasaran putranya yang biasanya lebih asyik dengan gawai di kamar ber-AC. Ia mengacak rambut Nusa pelan, mencoba menyalurkan ketenangan yang ia rasakan dari hamparan air yang begitu luas.

"Ini laut yang dalam, Nusa. Di bawah sana ada sejarah yang terkubur ratusan tahun," jawab Mada dengan nada suara yang mantap namun tetap santai. Ia ingin menanamkan rasa hormat pada alam tanpa harus terdengar seperti sedang berceramah di kelas sejarah yang membosankan. Baginya, setiap riak air di Laut Banda adalah saksi bisu betapa berharganya tanah air ini bagi dunia internasional sejak zaman dahulu kala.

Di sudut lain geladak, Tiwi sedang sibuk merapikan syal tipis yang melilit lehernya agar tidak terbang tertiup angin laut yang kencang. Tara berdiri di dekat ibunya, sibuk memotret pemandangan dengan kamera digitalnya, mencoba menangkap gradasi warna langit yang mulai berubah keemasan. Mereka berdua tampak menikmati momen ketenangan ini, jauh dari hiruk-pikuk kemacetan ibu kota yang biasanya menyita seluruh energi dan waktu mereka setiap harinya.

"Lihat itu, Bu! Ada lumba-lumba!" teriak Tara dengan antusias sambil menunjuk ke arah kawanan sirip yang muncul sesaat di permukaan air. Tiwi tertawa kecil melihat kegembiraan putrinya yang murni, sebuah pemandangan yang jarang ia lihat sejak Tara memasuki usia remaja yang penuh gengsi. Di momen seperti ini, Tiwi merasa keputusan suaminya untuk meninggalkan kenyamanan Jakarta demi sebuah perjalanan panjang adalah langkah yang sangat tepat.

Pak Jaka muncul dari arah tangga kabin dengan tas ransel besar yang tampak berat di punggungnya, namun langkahnya tetap terlihat ringan. Tanpa mobil kesayangannya yang biasa ia supiri di Jakarta, ia tampak lebih bebas dan menyatu dengan petualangan keluarga ini secara utuh. Ia menghampiri Mada dan memberikan sebotol air mineral dingin yang baru saja ia beli dari kantin kapal untuk meredakan dahaga di bawah terik matahari. "Sebentar lagi kita sandar di Ambon, Pak Mada. Persiapan turun sudah saya cek semua," lapor Pak Jaka dengan kesetiaan yang tidak pernah luntur sedikit pun. Mada mengangguk mantap, menghargai ketelitian asisten setianya yang selalu bisa diandalkan dalam situasi apa pun, bahkan di tengah laut sekalipun. Pak Jaka kemudian beralih mengajak Nusa bercanda tentang ikan-ikan raksasa yang konon menghuni kedalaman laut Maluku sejak zaman nenek moyang.

Begitu kapal merapat di pelabuhan, telinga mereka langsung disambut oleh alunan musik yang mengalun merdu dari kejauhan, seolah-olah Ambon Manise sedang bernyanyi. Suara petikan gitar dan harmonisasi vokal yang kuat terdengar dari setiap sudut area dermaga yang ramai dengan aktivitas bongkar muat. Jiwa seni masyarakat Maluku memang tidak perlu diragukan lagi, mereka seakan-akan terlahir dengan melodi yang mengalir deras di dalam aliran darah mereka.

"Dengar itu, Tara. Musiknya beda dengan yang biasa kamu dengar di radio," ujar Tiwi sambil menuntun putrinya menuruni tangga kapal yang sedikit goyang. Tara mengangguk pelan, kakinya mulai mengikuti irama lagu daerah yang terdengar sangat bersemangat namun tetap terasa lembut di telinga. Ia mulai menyadari bahwa keindahan sebuah tempat tidak hanya terletak pada pemandangan matanya, tetapi juga pada suara-suara manusia yang mendiaminya dengan penuh cinta.

Mada berjalan paling depan, memimpin rombongan kecilnya memasuki jantung kota Ambon yang penuh dengan bangunan bersejarah dan pohon-pohon rindang. Ia ingin anak-anaknya melihat langsung sisa-sisa kejayaan perdagangan rempah yang pernah membuat bangsa-bangsa Eropa rela berlayar setengah dunia. Baginya, pengetahuan tentang sejarah adalah fondasi utama agar Nusa dan Tara tidak melupakan jati diri mereka sebagai anak bangsa yang lahir di tanah yang sangat kaya.

Namun, di tengah perjalanan menuju penginapan, Mada tiba-tiba berhenti di depan sebuah monumen tua yang tampak agak kusam dimakan usia. Ia menatap lekat-lekat ukiran nama-nama yang ada di sana, lalu menoleh ke arah Pak Jaka dengan tatapan yang sulit diartikan oleh siapa pun. Pak Jaka hanya membalas dengan anggukan pelan, seolah ada sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh mereka berdua sejak keberangkatan dari Jakarta.

"Ada apa, Yah? Kenapa berhenti?" tanya Nusa yang merasa heran melihat perubahan ekspresi ayahnya yang mendadak menjadi sangat serius dan tegang. Mada tidak langsung menjawab, ia mengusap permukaan batu monumen itu dengan tangan yang sedikit gemetar, memicu rasa ingin tahu yang besar pada anak-anaknya. Suasana yang tadinya ceria mendadak berubah menjadi sunyi, hanya menyisakan suara deburan ombak dari kejauhan yang menghantam dinding dermaga batu.

"Kakek buyut kalian pernah berdiri di sini, tapi bukan sebagai tamu," bisik Mada dengan suara yang hampir tenggelam oleh suara angin laut yang kencang. Kalimat itu bagaikan petir di siang bolong bagi Nusa dan Tara, yang selama ini mengira keluarga mereka hanyalah pendatang baru di Maluku. Pengakuan ini membalikkan semua pemahaman mereka tentang silsilah keluarga yang selama ini mereka anggap sangat sederhana dan biasa saja tanpa ada keistimewaan khusus.

Tiwi pun tampak terkejut, ia menatap suaminya seolah baru pertama kali mendengar fakta tersebut keluar dari mulut laki-laki yang sudah mendampinginya belasan tahun.

Kepercayaan yang selama ini ia bangun tentang keterbukaan dalam keluarga seolah retak dalam sekejap karena rahasia yang disimpan rapat ini. Ketegangan meningkat saat Mada mengeluarkan sebuah kalung perak tua dari saku celananya, sebuah benda yang belum pernah diperlihatkan kepada siapa pun sebelumnya.

"Kita ke sini bukan sekadar jalan-jalan, Tiwi. Ada janji yang harus aku tunaikan di tanah ini," tegas Mada sambil menatap mata istrinya dengan penuh penyesalan. Keputusan ini mengubah seluruh tujuan perjalanan mereka, menjadikannya sebuah misi penebusan dosa masa lalu yang mungkin akan menyakitkan bagi semua orang. Pak Jaka segera merangkul bahu Nusa, mencoba memberikan perlindungan emosional saat melihat suasana kekeluargaan yang mulai mendingin di tengah cuaca Ambon yang panas.

Mada kemudian berjalan cepat meninggalkan monumen itu, mengabaikan pertanyaan-pertanyaan yang mulai terlontar dari mulut kedua anaknya yang merasa bingung dan dikhianati. Langkah kakinya yang tegas menunjukkan tekad yang bulat, namun matanya memancarkan kesedihan yang mendalam yang selama ini ia sembunyikan di balik senyum suksesnya. Mereka semua terpaksa mengikuti langkah Mada dalam diam, menyusuri jalanan kota yang kini terasa asing dan penuh dengan misteri yang belum terpecahkan.

Lihat selengkapnya