Roda pesawat menyentuh landasan pacu Bandara Sentani dengan guncangan lembut yang segera memicu sorak sorai kecil dari kursi belakang. Di luar jendela, bentangan Danau Sentani berkilau seperti cermin raksasa yang memantulkan langit biru bersih tanpa noda polusi sedikit pun. Pegunungan Cyclops berdiri tegak melindungi lembah, seolah-olah menjadi penjaga gerbang yang menyambut kedatangan mereka di timur jauh Indonesia. Udara yang merayap masuk lewat celah pintu pesawat saat terbuka terasa berbeda, lebih padat dan membawa aroma tanah basah serta pepohonan hutan tropis yang rimbun.
Mada menghela napas panjang sembari menyesuaikan tas punggungnya yang terasa lebih berat dari biasanya karena penuh dengan oleh-oleh dari perjalanan sebelumnya. Ia menoleh ke arah Tiwi yang sedang merapikan rambut Tara yang berantakan karena tertidur sepanjang penerbangan dari Makassar. Ada kelelahan yang nyata di wajah istrinya, namun binar di matanya tidak bisa berbohong bahwa rasa syukur jauh lebih mendominasi daripada rasa letih. Mereka telah menempuh ribuan kilometer, melintasi selat dan samudera, hanya untuk sampai pada titik yang selama ini hanya mereka lihat di peta sekolah anak-anak.
Nusa menempelkan wajahnya ke kaca jendela terminal, matanya membelalak melihat pesawat-pesawat perintis kecil yang terparkir rapi di apron bandara. "Pa, itu pesawat yang bisa mendarat di atas gunung ya?" tanyanya dengan nada suara yang penuh kekaguman yang jujur. Mada mengangguk pelan, menyadari bahwa anaknya yang biasanya hanya peduli pada gawai kini mulai tertarik pada realitas yang jauh lebih menantang. Di Jakarta, kemewahan adalah gedung tinggi, namun di sini, kemewahan adalah keberanian para pilot menembus awan tebal demi mengantar logistik ke pedalaman.
Pak Jaka berjalan paling belakang, membawa dua koper besar dengan langkah yang masih terlihat tegap meski usianya tak lagi muda. Senyumnya melebar saat melihat papan sambutan bertuliskan selamat datang di Bumi Cenderawasih yang terpampang besar di area kedatangan. Baginya, perjalanan ini bukan sekadar tugas sebagai asisten rumah tangga, melainkan sebuah ziarah pribadi untuk melihat wajah Indonesia yang seutuhnya. Ia merasa bangga bisa menjadi saksi bagaimana keluarga majikannya perlahan-lahan menanggalkan gengsi ibu kota dan mulai merangkul debu jalanan nusantara.
"Kita benar-benar sudah di Papua, Ma?" tanya Tara pelan sambil menggandeng erat tangan ibunya, seolah takut tersesat di keramaian bandara yang asing. Tiwi berlutut sebentar, menyamakan tingginya dengan anak perempuannya itu lalu mengusap pipinya yang kemerahan karena suhu udara yang hangat. "Iya sayang, ini ujung timur rumah kita, tempat di mana matahari bangun paling pagi untuk menyapa semua orang di Indonesia," jawab Tiwi lembut. Jawaban itu membuat Tara tersenyum, membayangkan dirinya menjadi salah satu orang pertama yang melihat cahaya fajar esok hari.
Namun, suasana hangat itu mendadak terusik ketika Mada memeriksa ponselnya dan menemukan serangkaian pesan singkat dari kantor pusatnya di Jakarta. Wajahnya yang tadi santai mendadak mengeras, rahangnya mengatup rapat saat membaca laporan kerugian proyek yang ditinggalkannya selama perjalanan ini. Salah satu rekan bisnis kepercayaannya ternyata melakukan pengkhianatan dengan mengalihkan kontrak besar ke perusahaan pesaing saat Mada sedang sibuk mencari akar budaya. Kepercayaan yang ia bangun selama belasan tahun hancur hanya dalam hitungan hari melalui beberapa baris kalimat di layar digital.
Tiwi menyadari perubahan sikap suaminya dan segera mendekat, mencoba membaca situasi dari ketegangan bahu Mada yang tiba-tiba naik. "Ada masalah besar di kantor?" tanyanya dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh anak-anak yang sedang asyik melihat kerajinan noken di toko suvenir. Mada hanya menyerahkan ponselnya tanpa kata, membiarkan istrinya melihat sendiri kehancuran finansial yang mungkin akan mengubah gaya hidup mereka selamanya. Investasi yang mereka gunakan untuk membiayai perjalanan epik ini kini terancam menguap karena kelalaian orang yang paling ia percayai.
"Aku harus segera kembali ke Jakarta malam ini juga, Ti," ucap Mada dengan suara yang bergetar karena menahan amarah yang mulai meluap. Ia merasa bodoh karena meninggalkan tanggung jawab profesionalnya demi sebuah idealisme perjalanan keluarga yang menurutnya kini terasa sia-sia. Namun, Tiwi memegang lengan suaminya dengan kuat, memberikan tatapan yang menuntut ketenangan di tengah badai informasi yang baru saja mereka terima. "Kalau kamu pulang sekarang, semua yang kita ajarkan pada Nusa dan Tara tentang ketangguhan akan hancur begitu saja," tegas Tiwi.
Perdebatan kecil pun pecah di sudut terminal, sebuah kontradiksi tajam antara kebutuhan logika bisnis dan komitmen emosional terhadap keluarga. Mada merasa terjepit antara kewajibannya menyelamatkan harta benda di Jakarta atau melanjutkan misi menemukan jati diri di tanah Papua. Baginya, tanpa uang dan kesuksesan, keberagaman yang mereka pelajari tidak akan bisa memberi makan keluarga di masa depan. Sedangkan bagi Tiwi, pulang sekarang berarti mengakui bahwa nilai-nilai budaya yang mereka cari selama ini kalah penting dibandingkan angka-angka di rekening bank.
Nusa yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan akhirnya mendekat, ia tidak sengaja mendengar kata-kata ayahnya tentang membatalkan perjalanan ke Wamena. "Pa, kalau kita pulang sekarang, berarti kita gagal jadi orang Indonesia yang kuat seperti yang Papa bilang kemarin?" tanya Nusa polos. Pertanyaan itu menghantam ulu hati Mada lebih keras daripada berita pengkhianatan rekan bisnisnya di Jakarta tadi. Ia melihat pantulan dirinya pada mata anaknya, seorang pria yang selalu mengajarkan tentang integritas namun hampir menyerah saat ujian pertama datang.
Pak Jaka yang biasanya diam kini ikut angkat bicara, memberikan perspektif yang berbeda dari sudut pandang seorang yang telah melihat banyak asam garam kehidupan. "Pak Mada, harta bisa dicari lagi, tapi momen melihat anak-anak mencintai tanah airnya sendiri tidak akan datang dua kali," ujarnya tenang. Ia mengingatkan Mada bahwa perjalanan ini sudah sampai pada tahap akhir yang paling krusial, yaitu mendarat di jantung Papua. Keputusan untuk tetap tinggal atau pergi akan menjadi warisan ingatan yang akan dibawa Nusa dan Tara hingga mereka dewasa nanti.
Mada terdiam cukup lama, memandangi kerumunan orang di bandara yang memiliki wajah-wajah ramah meski kulit mereka berbeda warna dengan dirinya. Ia menyadari bahwa selama ini ia terlalu fokus pada keamanan materi hingga lupa bahwa kekayaan sejati adalah ketenangan jiwa saat menghadapi kehilangan. Dengan tangan gemetar, ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celana paling dalam, memutuskan untuk mengabaikan kekacauan di Jakarta. "Kita lanjut," katanya singkat, sebuah keputusan yang terasa sangat berat namun sekaligus membebaskan beban di pundaknya.
Namun, sebuah kejutan lain muncul ketika mereka hendak memesan taksi menuju hotel tempat mereka menginap sebelum melanjutkan perjalanan ke pedalaman. Seorang pria lokal dengan pakaian rapi mendekat dan menyebut nama Mada dengan pelafalan yang sangat akrab di telinga. Ternyata, pria itu adalah putra dari sahabat lama ayah Mada yang dulu pernah bertugas di Papua puluhan tahun silam. Pertemuan yang tidak disengaja ini meruntuhkan dinding kecurigaan Mada terhadap dunia luar yang baru saja mengkhianatinya melalui pesan digital.
"Ayah saya sudah lama menunggu kabar dari keluarga Bapak, kami sudah menyiapkan segalanya untuk perjalanan kalian ke lembah," ujar pria itu sambil tersenyum tulus. Mada tertegun menyadari bahwa jaringan persaudaraan di nusantara ini jauh lebih kuat dan tulus daripada kontrak bisnis yang dibuat di atas kertas. Kehangatan sambutan itu membuatnya malu karena sempat meragukan arti dari perjalanan yang mereka tempuh selama berminggu-minggu ini. Di sini, di ujung timur, ia justru menemukan kembali rasa percaya yang sempat hilang karena pengkhianatan di ibu kota.
Pak Jaka segera membantu memindahkan barang-barang ke dalam mobil jemputan yang sudah menunggu di luar area parkir bandara. Ia melihat bagaimana wajah Mada perlahan mulai melunak, kembali menikmati hembusan angin Sentani yang membawa kabar tentang petualangan berikutnya. Nusa dan Tara sudah melompat masuk ke dalam mobil, tidak sabar untuk melihat lebih dekat kehidupan di balik pegunungan yang menjulang tinggi. Perjalanan ini bukan lagi sekadar liburan, melainkan proses penyembuhan bagi luka-luka modernitas yang mereka bawa dari kota besar.
Mobil mulai bergerak meninggalkan bandara, menyusuri jalanan berkelok dengan pemandangan danau di satu sisi dan hutan lebat di sisi lainnya. Di dalam kabin yang sejuk, Tiwi menggenggam tangan Mada, memberikan kekuatan tanpa perlu banyak bicara tentang apa yang akan terjadi dengan kantor mereka nanti. Mereka sepakat untuk menuntaskan misi ini hingga ke titik paling akhir, membiarkan anak-anak melihat kenyataan yang lebih besar dari sekadar layar gawai. Papua bukan hanya tentang pemandangan, tapi tentang bagaimana manusia bertahan dan saling menjaga di tengah keterbatasan geografis.
Sore mulai jatuh saat mereka tiba di penginapan sederhana di pinggiran kota, bersiap untuk penerbangan pagi buta menuju Lembah Baliem menggunakan pesawat kecil. Mada berdiri di balkon, memandangi siluet pegunungan yang mulai menggelap di bawah langit yang berubah warna menjadi ungu kemerahan. Esok hari, mereka tidak akan lagi disambut oleh aspal bandara yang halus, melainkan oleh tanah merah dan tradisi yang telah bertahan ribuan tahun. Ia menarik napas dalam-dalam, menyiapkan mental untuk menyaksikan sebuah upacara kuno yang akan menguji pemahaman mereka tentang kebersamaan sejati.
Asap tebal mengepul dari tumpukan kayu yang terbakar di tengah lapangan desa di Lembah Baliem. Udara dingin pegunungan Papua tidak mampu meredam hawa panas yang memancar dari api unggun besar itu. Di sana, puluhan lelaki dewasa sedang sibuk memindahkan batu-batu sungai yang mulai membara menggunakan penjepit kayu panjang. Nusa berdiri di sisi lubang besar yang baru saja digali, dahinya berkeringat meski angin kencang sesekali bertiup menusuk kulitnya.
Mada menepuk bahu putranya yang tampak ragu-ragu saat diminta mendekat ke arah tumpukan batu panas. "Jangan cuma melihat, Nusa. Bantu mereka angkat kayu-kayu kecil itu agar apinya tetap stabil," ujar Mada dengan nada rendah namun tegas. Nusa mengangguk pelan, lalu mulai memunguti dahan kering di sekitarnya. Tangannya yang biasa memegang stik konsol gim kini terasa kasar karena debu tanah dan serpihan kayu yang tajam.
"Hati-hati, tangannya bisa melepuh kalau kena batu itu," celetuk Pak Jaka yang sibuk membantu warga mengatur susunan batu di dasar lubang. Nusa hanya diam, fokusnya terbagi antara rasa panas yang menyengat dan keinginan untuk membuktikan bahwa ia bisa berguna. Ia memperhatikan bagaimana para pria di sana bekerja tanpa banyak bicara, seolah setiap gerakan mereka sudah terkoordinasi oleh irama alam yang sudah mendarah daging selama berabad-abad.
Di sisi lain lapangan, Tara duduk melingkar bersama para ibu yang sedang sibuk mengupas ubi dan memilah sayuran hijau yang masih segar. Tiwi berada tepat di sampingnya, mencoba mengikuti gerakan tangan Mama-mama Papua yang sangat lincah saat memotong batang tanaman. Tara memegang sebuah ubi besar yang permukaannya penuh tanah merah, merasa sedikit canggung karena kuku-kukunya yang biasanya bersih kini mulai menghitam.
"Tara, coba lihat bagaimana Mama ini menyusun daunnya. Semua ada tempatnya, tidak boleh asal tumpuk," kata Tiwi sambil memberikan ruang bagi anaknya. Tara mengamati dengan saksama, lalu mulai meletakkan helai demi helai daun di atas tumpukan sayuran. Ia menyadari bahwa kegiatan memasak ini bukan sekadar menyiapkan makanan, melainkan sebuah ritual penghormatan terhadap hasil bumi yang telah memberi mereka kehidupan.
Namun, suasana yang tenang itu mendadak berubah saat Nusa secara tidak sengaja menjatuhkan sebatang kayu besar tepat ke arah tumpukan batu yang sudah tertata rapi. Bunyi dentuman keras terdengar, diikuti oleh debu abu yang terbang ke segala arah, mengotori wajah beberapa warga. Seorang pemuda setempat berdiri dengan cepat, menatap Nusa dengan pandangan tajam yang membuat remaja Jakarta itu membeku di tempatnya.