Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #1

1: 2025

Khalisa tidak ingin terpaksa dalam menyembah Tuhan. Bayangkan betapa damainya apabila manusia yakin bahwa Tuhan mencintai tiap makhluk yang dibuatnya. Bayangkan, betapa bahagianya bila manusia yakin untuk mempercayai bahwa Tuhan menciptakannya demi suatu manfaat. Bayangkan bila semua manusia tidak pernah merasa dikecewakan oleh Tuhan serta manusia-manusia yang mempercayainya.

Pagi cukup sunyi. Terdengar suara sholawat terbawa dari masjid dekat rumah. Selain itu, hanya ada suara sisa-sisa air hujan bekas tadi malam. Petrikor tercium pekat dari jendela yang Khalisa biarkan terbuka. Harum, sejuk, kuasa mengitari dinding tubuh, kuasa yang selalu dirinya dambakan.

Di bawah meja, kaki mungil Khalisa tak mampu untuk terdiam. Ibu jarinya, atau hingga kelingkingnya, bergerak ke atas dan ke bawah memberi tanda waspada. Tangannya juga tak berhenti memainkan pulpen yang digenggam, lalu diketukkan berkali-kali ke meja. Di meja, tergeletak buku jurnal, laptop, juga telepon genggam. Layar telepon itu menyala, menampilkan ruang obrolan bersama Christian. Ia mengajak Khalisa bergabung ke dalam proyek yang sedang ia jalani. Sudah beberapa hari yang lalu ia terus membicarakan proyek ini kepada Khalisa. Pesan tersebut tidak segera dibalas, hingga layar menampilkan panggilan telepon dari orang yang sama.

“Kenapa tiba-tiba gak balas chat aku?” tanya Ian dari seberang telepon.

“Pasti aku terima, kok. Kamu tahu aku jarang dapat panggilan syuting.”

“Syukurlah. Syutingnya gak lama lagi kok. Seperti yang sudah aku bilang sebelumnya, aku cuma minta kamu gabung di bagian wardrobe. Bantu aku, kami kekurangan orang. Kamu gak perlu siapin banyak hal. Cukup ada di set aja.”

Khalisa menutup telepon setelah Christian memberi tahu ia akan mengabarinya kembali. Setelah lulus sekitar satu tahun yang lalu, Khalisa belum melakukan pekerjaan apapun. Semua orang berjalan. Ada yang bertekad melanjutkan karirnya di industri perfilman, ada pula yang memutar balik karir jauh dari perkiraan. Dirinya masih merangkak. Industri perfilman adalah lingkungan yang ia sukai. Bila ada yang bertanya, dengan sepenuh hati ia pasti akan menjawab bahwa dirinya tidak mungkin salah jurusan. Khalisa menyukai dan bangga atas apa yang dirinya pilih. Namun, manusia memang tempatnya bimbang. Walaupun suka, belum tentu ingin digeluti. Entah bisa dianggap baik atau buruk tentang ajakan syuting yang datang begitu jarang. Jika datang, dirinya senang. Jika tidak, rasanya seperti dunia memberikannya waktu untuk memikirkan masa depan lain. Yang mana, kesempatan itu tidak buruk juga.

Suara ketukan pintu terdengar. Anton, menyuruh anaknya untuk salat. Ia sudah melakukan hal yang sama saat adzan berkumandang tadi, kemudian ia lakukan kembali sepulang dirinya dari masjid. Khalisa tidak menjawab. Ia bangkit dari tempat duduk, melemparkan tubuhnya sendiri ke atas kasur. Sejujurnya, dirinya memang belum tidur sejak tadi malam. Sekarang, ia mengantuk. Khalisa membiarkan dirinya berkhayal sejenak, hingga tak sadar telah pulas dan puas dalam tidur.

Lihat selengkapnya