Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #2

2: 1997

Pagi hari menjadi waktu yang paling disayangi Ratna. Diiringi cahaya matahari yang lembut, Ratna selalu melangkah dengan gembira menyambut wewangian yang tak sabar untuk ia cium. Wangi vanila, coklat, selai stroberi hingga selai mentigi biru. Aroma-aroma yang gemar disukai ibu-ibu, bapak-bapak, sampai anak-anak. Tak pernah malu Ratna membanggakan bahwa ia menyukai aroma yang sama.

Gemerincing lonceng yang tergantung di pintu berbunyi. Bu Asih terlihat sudah berada di dalam toko roti miliknya. Duduk di kursi kasir, sehingga menghitung stok.

“Ini ya, Ratna. Hari ini aku tambah yang stroberi. Kemarin kamu bilang yang ini sedang banyak yang suka,” jelas Bu Asih sembari memberikan catatan stoknya pada Ratna.

Ratna menjawab dengan senyum sumringahnya. Tangannya bergerak, membentuk bulat, menempelkan telapak tangannya pada dada, lalu menggerakkannya ke depan, menandakan siap. Bu Asih segera pergi dari tokonya setelah memastikan Ratna yang dengan gagah berani untuk memulai petualangannya. 

Radio yang terdiam di pojok meja Ratna angkut menuju tengah. Ia memasukkan salah satu kaset miliknya yang ia simpan di meja kasir itu. Lagu Bukit Berbunga terdengar dari radio yang kini menyala. Dengan sigap Ratna mulai menyusun dan menata roti-roti yang ada di keranjang ke atas rak-rak di seluruh toko. Semakin penuh, semakin harum, semakin lebar senyum yang Ratna tampilkan. Kepalanya mengangguk setiap kali lirik ‘bunga’ terucap oleh sang vokalis. Lagu kesukaan yang tak pernah gagal menyenangi paginya.

Ratna tidak menghiraukan segala pesan dari alam di pagi hari, justru ia menjadikan semua cahaya matahari yang sembunyi-sembunyi masuk, alunan kicau burung, serta bunyi kipas angin jadul, sebagai pelengkap panggungnya. Toko yang masih belum dimasuki satu pun manusia, menjadi panggung menari bagi Ratna. Kakinya terangkat satu demi satu. Tangannya menari ke atas, kiri, atau kanan. Tubuhnya hampir melayang. Ratna terus menari, tak peduli apakah kali ini radio sedang memutar lagu bahagia atau sudah kembali merubahnya menjadi lagu sedih. Bagi Ratna, musik ada untuk disenangi. Tak bisa ia membayangkan hidup tanpa adanya alunan musik. Suara gitar adalah kesukaannya, tetapi piano pun tak kalah membuatnya jatuh cinta. Dengan tarian yang cemerlang, Ratna membayangkan bahwa ada sesosok laki-laki yang menemaninya menari. Laki-laki yang menyukai keseluruhan dari diri Ratna. Laki-laki yang entah siapa, nantinya akan menemani Ratna hingga akhir hidupnya. Tanpa pernah sekalipun berinteraksi dengan satu pun laki-laki, Ratna tetap penuh kepercayaan bahwa ia akan hidup dengan bahagia dan romantis bersama seorang laki-laki, memiliki seorang putri yang begitu indahnya hingga Ratna tidak bisa berbuat apapun kecuali memujinya cantik. Bagi Ratna, impiannya adalah membuat toko roti mungil bersama keluarga yang sama mungilnya. Sarapan roti setiap pagi, memanggang roti sebelum tidur, bersama laki-laki dan perempuan yang paling ia kasihi. Menurutnya, mimpi itu sangat sederhana. Yang harus ia lakukan hanyalah menunggu seseorang yang pasti mendukungnya. Baginya, mencintai adalah mendukung sepenuhnya potensi yang ada di dalam diri satu sama lain.

Lihat selengkapnya