Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #4

4: 1998

Cinta tidak pernah diduga-duga. Kapan datangnya, hingga siapa yang membawanya. Seorang pembeli roti, yang kebetulan hari itu menemani ibunya untuk membeli sarapan, kini telah menjalin hubungan romantis dengan Ratna. Hubungan yang selalu Ratna impikan.

“Hati-hati. Jangan lepas pegangan tanganmu dengan Anton,” Bu Asih memberikan wejangan kepada Ratna. Dengan suara besar, tentu bertujuan agar wejangan tersebut juga didengar oleh Anton, yang sedang berdiri menahan pintu toko untuk terus terbuka. Dirinya telah sepuluh menit menunggu Ratna yang mondar-mandir merapikan roti, katanya khawatir bila toko ditinggal begitu saja. Padahal Bu Asih, selaku pemiliknya, berjanji akan menjaga toko seharian penuh, hanya untuk menyenangi hati mungil Ratna di hari ulang tahunnya, membiarkannya pergi kencan.

Ratna mengangguk sebagai tanda bahwa ia mendengar petuah Bu Asih dengan baik. Setelah melirik toko rotinya berkali-kali, akhirnya Ratna mengikuti langkah kaki Anton keluar dari toko. Dengan tangan yang saling menggenggam, mereka berjalan pelan, berharap waktu akan berdetik dengan cukup lama, berharap mereka bisa berlama-lama menggenggam satu sama lain. Apapun tujuan yang Anton pilih untuk dikunjungi atau dilakukan tidak pernah membuat Ratna kecewa. Karena baginya, keinginannya hanyalah memiliki pasangan yang mencintai dan mendukungnya. Ratna tidak peduli bagaimana caranya, diajak kemana ia untuk berkencan. Asalkan Anton mencintainya, apapun terasa berharga. Akibatnya, Ratna menjadi sukar bertanya. Ia begitu yakin kepada Anton. Yakin bahwa apapun yang Anton lakukan akan membuatnya bahagia. Ratna percaya bahwa ia tidak perlu ragu dengan cinta. Hidup penuh cinta pastilah akan membuatnya bahagia, adalah pemikiran yang tertanam dengan baik di kepala Ratna.

Di tengah hiruk pikuknya masa, Ratna dan Anton tetap ingin mempertahankan kesadaran dirinya. Mereka terdampak. Mereka bersimpati. Di saat yang sama, mereka tidak ingin kehilangan kemesraannya.

Di pikiran Ratna, akhir hubungan antara dirinya dan Anton adalah menikah. Sejak awal berpacaran, mereka tidak pernah malu mengutarakan tujuan dari hubungan yang mereka jalani, yaitu membangun keluarga kecil. Ratna ingin menjadi seorang ibu dan istri yang bijaksana. Anton ingin menjadi pemimpin yang kokoh. Dengan akhir seperti itu, mereka percayakan akan meraih masa depan yang luar biasa bahagia. Walaupun, mereka luput membahas apabila ada masalah-masalah kecil hingga besar yang akan menimpa hubungan mereka. Saking percaya diri, saking yakin dengan masa depan bahagianya, mereka luput memikirkan hal terburuk yang terjadi.

Lihat selengkapnya