Kedatangan Khalisa disambut dengan panggilan dari anjing kesayangan Christian, Momo. Ekornya bergoyang menandakan semangat, lidahnya menjuntai, dirinya segera melekat kepada Khalisa.
Khalisa tidak jarang datang ke unit apartemen tempat Christian tinggal. Terkadang mampir, terkadang juga menginap. Sejak kuliah, hingga tamat. Banyak hal yang mereka lakukan bersama hingga Khalisa enggan untuk pulang. Tempat tinggal Christian justru menjadi salah satu tempat nyamannya. Tidak ada penghakiman. Hanya ada Christian yang gemar menghormati.
Selesai makan tadi, mereka memutuskan ke tempat ini, Khalisa ingin saja, tidak ada salahnya, anggap saja untuk berbincang satu hal, seperti proyek yang baru saja ia sepakati untuk ikuti. Khalisa masuk ke dalam proyek tersebut cukup mendadak, sehingga tidak banyak yang ia tahu, tentang ceritanya, atau kru-kru lainnya..
“Sebenarnya kami sudah ada wardrobe lain. Tetapi memang masih kurang, jadi kami tambah orang lagi. Cuma, untuk keperluan-keperluan terkait wardrobe seharusnya sudah cukup lengkap. Nanti kamu bisa tanya langsung ke sesama wardrobe lain saat jadwal kita meet,” Christian memberikan laptopnya pada Khalisa. Dokumen berjudul Wardrobe List sudah terbuka, sehingga Khalisa cukup memeriksanya saja.
Khalisa berkutat dengan laptop Christian yang ia pinjamkan. Di sampingnya, Momo tertidur dengan pulas. Sedikit demi sedikit, semakin menggunung kumpulan cemilan di depan Khalisa. Christian bolak-balik tanpa henti membawakan cemilan-cemilan itu dari dapur. Dari yang manis, hingga asin dan pedas.
“Cukup, Ian. Kita habis makan tadi,” Khalisa membantah sembari mengambil dua potong keripik dari bungkusnya. Christian hanya tersenyum melihat kebiasaan Khalisa, yaitu tidak pernah menolak untuk cemilan. Dirinya duduk menggantikan Momo.
Di depan sofa tempat mereka berdua duduk, terpampang sebuah televisi yang diapit dua lukisan. Televisi itu biasa mereka gunakan untuk menonton film. Kadang film yang baru dirilis, kadang film yang baru mereka temukan, kadang film kenyamanan mereka yang tak pernah bosan untuk ditonton berulang-ulang. Di sampingnya, lukisan yang dilukis sendiri oleh Christian. Lukisan di sebelah kiri, merupakan lukisan abstrak, tetapi yang melihatnya pasti akan langsung menangkap bahwa lukisan itu menggambarkan darah. Lukisan di sebelah kiri adalah wajah Khalisa. Sesungguhnya Khalisa selalu malu saat awal melihat lukisan itu. Namun, semakin lama mau tak mau ia membiasakan diri. Christian selalu bilang itu bukan lukisan yang berarti terlalu dalam. Saat itu, ia sedang menjadi bagian dari departemen artistik di salah satu film. Film tersebut membutuhkan satu lukisan yang menggambarkan wajah seorang perempuan. Sehingga, Christian menawarkan diri untuk melukisnya. Itu alasan yang selalu Christian pakai setiap Khalisa mengatakan bahwa dirinya malu saat melihat lukisan itu.
“Soal yang kita bahas tadi, aku serius,” Christian mencoba melanjutkan akhir obrolan mereka di warung soto tadi, “Gak ada salahnya kita coba dulu, Ca.”
Christian menyingkirkan laptop dari pangkuan Khalisa. Menyentuh tangannya, kemudian menggenggamnya. Dengan sentuhan itu, benak Khalisa segera dipenuhi kabut. Jari-jari yang hanya menyentuh tangannya terasa seperti meraba seluruh tubuhnya. Pakaian yang masih melekat di badannya terasa menghilang. Khalisa merasa telanjang. Di saat yang bersamaan, ia biarkan perasaan tersebut bertengkar di kepalanya. Semua ini bukan kesalahan Christian maupun dirinya. Khalisa tahu, bahwa traumanya yang harus ia hilangkan.