Semua orang sedang berbahagia. Dua keluarga akan bergabung menjadi satu, hingga satu keluarga kecil di dalamnya akan tercipta. Ratna sudah berjuta kali bercermin. Pantulan dirinya yang ia lihat sendiri begitu cantik, hingga dirinya mengira itu adalah orang lain. Gaun yang inginkan sudah ada di tubuhnya, melekat dengan sempurna. Bahkan, belum bersama riasan pun Ratna sudah merasa puas. Baru mencobanya saja sudah dapat menjadi bayangan yang cukup untuknya membayangkan hari pernikahan nanti. Hari di mana ia dan Anton akan berdiri berdampingan. Ratna yang cantik dengan Anton yang tampan, akan menjadi perhatian semua hadirin yang datang.
Anton berdiri di belakang Ratna dengan setia. Matanya hanya melihat Ratna, tak peduli bagaimana penampilannya sendiri. Tangannya gugup, dengan pelan memegang pundak Ratna, “Kamu cantik sekali,” dibalas oleh Ratna dengan berbalik badan dan memberi tanda terima kasih.
Anton menyisir rambut Ratna dengan tangannya, memandang satu per satu bagian dari wajahnya. Matanya yang berkelip indah, bulu mata yang lentik dan sempurna, alis yang tumbuh dengan tepat. Hidungnya yang mungil tetapi tegak di ujungnya. Bibirnya yang kecil tetapi tebal, merah muda tanpa dipoles apapun. Pipinya yang mengandung merah alami secara permanen. Selalu ada, bahkan ketika Ratna tidak sedang malu. Anton membayangkan bagaimana perempuan ini akan menjadi istrinya dalam beberapa minggu ke depan. Tak dapat ditahan lagi keinginannya untuk mendekap Ratna di pelukannya, menjadikannya seutuhnya miliknya.
Ratna yang sadar penuh dirinya sedang dipandang oleh Anton hanya bisa tersenyum dengan melakukan hal yang sama. Ratna tak sabar memulai kehidupan rumah tangga bersama Anton, laki-laki yang tak pernah ia bayangkan. Laki-laki yang seketika ia cintai setelah datang begitu saja. Laki-laki yang akan menciptakan apa yang ia citakan. Ratna tidak sabar memulai mimpinya bersama Anton. Selama satu tahun mereka telah mengenal satu sama lain, Ratna telah berusaha untuk mengkomunikasikan impiannya kepada Anton. Mengajaknya berdiskusi, bertanya apa yang Anton juga mau dalam hubungan mereka. Sebagai orang yang hanya bisa mencintai, Anton selalu menyetujui impian Ratna. Ia tidak pernah membantah. Apa yang Ratna ingin lakukan akan menjadi hal yang Anton inginkan juga. Sifatnya yang hanya mencinta itu menjadi salah satu kesukaan Ratna, bagi dirinya yang juga gemar bermimpi. Kemampuan bermimpi yang Ratna miliki sama besarnya dengan perasaan mencintainya. Sehingga, laki-laki seperti Anton yang gemar mendukung memang adalah hal yang paling ia butuhkan saat ini. Bayangkan, betapa bahagianya Ratna sekarang. Membayangkan hidupnya akan memulai alur baru dengan lebih berbahagia.
Perempuan yang dulu Ratna sebut sebagai ibu tua akhirnya datang. Kini, Ratna ikut memanggilnya sebagai Ibu. Ia adalah perempuan yang melahirkan Anton, yang juga akan menjadi ibu mertuanya. Ratna memiliki perasaan hormat yang luar biasa kepada Ibu, karena telah melahirkan dan membesarkan Anton, calon suaminya.
“Cantikku,” sapanya sedetik setelah melihat penampilan Ratna.