Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #7

7: 2016

Anak kecil juga bisa merasakan patah hati. Paling besar penyebabnya adalah karena kekecewaan. Anak dan orang tua memiliki hubungan yang sangat aneh. Cinta dan benci menjadi satu. Secinta apapun, pasti tetap menyakiti satu sama lain. Sebenci apapun, pasti rela mati demi satu sama lain. Patah hati terjadi bila perasaan benci tersebut lebih besar.

Christian belajar untuk diam. Papanya bilang, ini semua bukan urusan anak kecil. Sebagai anak kecil, Christian bertugas untuk menonton. Menyaksikan akhir dari hubungan dewasa yang tak pernah ia kenankan. Christian tak pernah menyuruh dua orang dewasa ini menikah. Christian tak pernah meminta untuk dilahirkan dari rahim perempuan itu dan dibesarkan di rumah ini. Christian hanya tiba-tiba menyadari bahwa dia sudah ada di dunia, dan harus menerima segala hal yang sudah ada dalam dirinya, termasuk siapa orang tuanya, terutama siapa perempuan yang melahirkannya.

Dulu, Christian memanggilnya ‘mama’. Mereka memang tak terlalu dekat karena perempuan itu lebih banyak menghabiskan waktunya di luar rumah. Namun, papanya juga seperti itu. Sehingga, ketidak dekatan itu selalu Christian anggap sebagai hal yang wajar saja. Ia pikir, semua keluarga seperti itu. Sampai akhirnya ‘mama’ semakin jauh. ‘Mama’ yang tadinya pulang setiap hari, menjadi dua hari sekali, menjadi seminggu sekali. Hingga akhirnya ‘mama’ menghilang. Kata Papa, Christian tidak perlu menanyakan keberadaan ‘mamanya’, di saat dirinya juga tidak pernah menjelaskan. Christian terus menjalani hidup dengan kegelisahan dan kerinduan, hingga akhirnya ‘sang mama’ pulang setelah beberapa bulan. Membawa seorang anak yang lebih kecil darinya. Perempuan, menggemaskan, agak mirip dirinya. ‘Mama’ bilang, anak perempuan kecil ini adalah adiknya. Sejak kapan? ‘Mama’ bilang, umur adik itu lima tahun. Sejak kapan? Sejak kapan ia memiliki adik? Sejak kapan ‘Mama’ tidak menyukai Papa lagi?

Semua menjadi semakin jelas setelah semakin banyak hal yang Christian saksikan. Hari itu, ‘keluarga’ berkumpul. Di meja makan, Papa duduk di satu sisi, ‘Mama’ duduk di sisi lain. Christian dibiarkan bermain bersama adik kecil di karpet yang lumayan jauh dari meja makan, tetapi masih bisa melihat satu sama lain. Sang kakak ini tidak bisa memaksakan diri untuk dekat dengan adik kecil. Memang adik kecil menggemaskan, Christian pun tidak akan membantah bahwa ia ingin memperlakukan adik kecil ini sebagai adik sesungguhnya. Mereka benar-benar mirip. Sama seperti Christian, adik kecil juga tidak bisa memilih siapa orang tuanya. Adik kecil juga tidak tahu apa-apa, selain tiba-tiba lahir di dunia. Namun, hari itu Christian hanya dapat menyaksikan penampilan teater dari kedua orang tuanya di meja makan. Dipisah oleh menu megah di meja, kursi yang mereka duduki terasa sangat jauh satu sama lain. Mimik wajah mereka jelas. Papa mengerutkan dahinya, matanya tajam, menandakan kesal. ‘Mama’ melenturkan alisnya, tersenyum memelas, menandakan bahwa ia merasa bersalah, tetapi tidak mau meminta maaf. Seperti aktor teater, gerak bibir mereka terbaca jelas. ‘Mama’ bilang, “Aku datang untuk berpamitan dengan baik kepada Christian.”

Lihat selengkapnya