Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #8

8: 2025

Pohon begitu menarik di sore yang cukup sejuk dan mendung ini. Daunnya bergerak seakan berdansa mengikuti angin. Khalisa sungguh penasaran, lagu apa yang sedang daun-daun itu nikmati. Khalisa cemburu. Rasanya ingin ikut terbang di atas sana.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ujung meja. Ternyata ada yang memecahkan gelas. Di pikiran Khalisa yang syahdu, ternyata dunia penuh dengan keributan. Khalisa berusaha kembali ke dunia nyata. Bagaimanapun, ia harus menghormati semua kru yang ada di kafe tempat mereka mengadakan pre production meeting keempat ini, yaitu saat mereka semua harus melakukan final check. Yang mana ini adalah pre production meeting terakhir untuk Khalisa, karena selanjutnya adalah jadwal fitting wardrobe sebelum syuting. Berkat Christian, Khalisa berhasil mengikuti produksi dengan orang-orang yang hampir semuanya belum pernah ia temui. Namun, sebenarnya Khalisa tidak begitu menyukai naskah dari film ini. Ia sudah langsung mengiyakan ajakan Christian pada saat itu, karena mengetahui bahwa tidak ada lagi yang mengajaknya. Topik yang tidak menarik untuknya membuat Khalisa bosan. Sebagai salah satu tim wardrobe, ia hanya diam saja. Memainkan rambutnya, jarinya, atau mencoret-coret kertas yang ada di depannya. Semua perbincangan rapat terkait wardrobe dipimpin oleh kru lain yang sudah gabung dengan proyek ini lebih awal. Sebenarnya boleh saja bila Khalisa memilih untuk bolos di pertemuan ini. Karena kemungkinan besar dirinya baru benar-benar dibutuhkan saat sudah mulai syuting. Tetapi, katanya Christian minta ditemani. Padahal Khalisa tahu Christian pasti tak memerlukannya. Departemen mereka pun tidak terhubung satu sama lain. Untuk kedekatan hubungan mereka, Khalisa menurut.

Pre production meeting yang sesungguhnya berlangsung selama dua jam. Tetapi, hari sudah menjadi malam. Para kru memutuskan untuk berganti tempat hanya untuk lanjut berbincang dan minum bersama. Di barisan paling belakang konvoi, terdapat mobil yang berisi Khalisa dan Christian.

“Kira-kira sampai kapan ya minum-minumnya?” tanya Khalisa kepada dirinya sendiri, sekaligus kepada Christian bila ia ingin menjawab.

“Mungkin tengah malam. Kenapa? Mau pulang?”

Christian tahu bahwa Khalisa bukan peminum alkohol. Dirinya bahkan tidak pernah melihat Khalisa menyentuhnya. Di tengah-tengah lingkungan yang menganggap mabuk sebagai salah satu keseharian, Khalisa memilih untuk tidak melakukannya. Bukan karena alasan dilarang agamanya, tentu. Bukan juga karena takut dimarahi ayahnya. Hanya saja, Khalisa takut mengacau. Ia takut dirinya kehilangan arah tanpa ia sendiri. Ia paling benci ketika dirinya kehilangan akal atas apa yang baru saja ia lakukan. Namun, Khalisa selalu menganggap kegiatan minum itu sebagai sesuatu yang menarik. Ia suka menemani Christian saat sedang mabuk. Rasanya seperti diberi tanggung jawab untuk mengawasi. Untuk menjaga.

“Tidak juga. Aku mau kesana. Kamu kan juga suka,” jawab Khalisa.

“Tapi kalau akunya yang gak mau?”

Lihat selengkapnya