Begitu cantik. Begitu indah. Seperti sesuatu yang mustahil tercipta, perempuan itu berdiri dengan gugup dengan begitu cemerlangnya. Ini di dalam ruangan. Ada atap dan dinding yang mengelilingi semua orang di dalamnya. Namun, rasanya seperti ada bintang yang berputar-putar mengelilingi perempuan itu. Bintang-bintang itu berputar, memantulkan cahaya yang dikeluarkan oleh si perempuan, Ratna. Kebaya terpasang dengan sempurna di tubuhnya. Sanggul begitu tepat di rambutnya. Olesan rias di wajahnya sempurna, menonjolkan kecantikan yang memang sudah ada. Tidak ada yang dapat menyaingi kecantikan Ratna di hari itu. Semua orang menengadahkan kepalanya, berusaha untuk melihat si paling sempurna. Di saat bersamaan mereka semua terlihat seperti menunduk di mata Anton, menunduk karena kalah cantiknya.
Hingga akhirnya akad nikah selesai, Anton tidak bisa berbicara apapun selain janji yang sudah seharusnya ia lafalkan. Di kala semua orang sudah menikmati acara dengan sendiri-sendiri. Sang sejoli memandang wajah satu sama lain. Keduanya tidak percaya mereka telah mengikat diri mereka satu sama lain.
“Kamu cantik sekali,” Ratna membalas pujian Anton dengan senyuman. Ia tahu. Ia juga terkejut saat melihat dirinya di cermin tadi. Dan ia tahu, Anton akan semakin tergila-gila padanya.
“Terima kasih. Terima kasih karena sudah membuat aku bangga,” lanjut Anton. Ratna bingung, bangga atas apa? Karena pernikahan yang mereka inginkan akhirnya telah terwujud? “Aku bangga karena telah menjadi suami dari perempuan yang sangat sempurna.”
Ratna pasti tahu bahwa Anton mencintainya. Setidaknya, sebesar cinta yang Ratna berikan padanya. Namun, Anton justru selalu merasa bahwa cinta yang ia berikan pada Ratna jauh lebih besar. Ia menghormati Ratna, bukan hanya sebagai pasangannya, atau sebagai perempuan, melainkan juga sebagai manusia. Ratna selalu ia agungkan. Semua yang ada di diri Ratna, layak untuk dihormati dan dicintai begitu indahnya, sama seperti penampilan Ratna yang juga sama indahnya.