Kegiatan yang berlangsung hari ini hanyalah fitting wardrobe. Letaknya di kontrakan yang mereka sewa sebagai tempat berkumpul selama produksi berlangsung. Dengan agenda yang hanyalah fitting wardrobe, tidak begitu banyak orang yang berkumpul, hanya kru dan aktor yang berkepentingan. Di antara semuanya, ada Khalisa dan Christian. Dimulai hari ini, mereka melakukan perang dingin. Semua orang yang ada di tempat yang sama bisa merasakannya. Sebenarnya tidak ada interaksi yang ada antar mereka. Mereka datang secara berpisah. Christian sudah ada lebih dulu di tempat. Sebagai tim produksi, Christian ada hanya untuk memastikan semuanya siap. Dia juga yang membawa kunci tempat ini. Dan besar kemungkinan akan tinggal di sini hingga syuting selesai. Saat Khalisa tiba di depan pintu, mereka bahkan tidak bersapa sama sekali. Khalisa segera masuk ke ruangan fitting, duduk diam dengan membaca buku. Kru-kru lain yang ada di tempat sudah menyuruh Khalisa untuk di ruang tengah dulu saja, sembari menunggu aktor. Toh, semua kru sedang bersantai bersama saja. Apalagi, mereka belum begitu mengenal Khalisa, mereka hanya tahu bahwa Khalisa adalah teman Christian yang diajak untuk syuting. Khalisa menolak ajakan tersebut. Kru lainnya segera mengerti ketika menyadari bahwa Khalisa dan Christian tak memandang satu sama lain bahkan sedetik pun.
“Habis buat salah?” Tanya Narendra, sesama tim produksi. Christian tak bergeming. Ia malah memainkan kukunya sendiri dengan gelisah. “Jangan kayak anak kecil begitu.”
“Gak ada yang buat salah. Entah aku maupun dia. Semuanya sama-sama benar bagi diri masing-masing.” Christian tak mau seterbuka itu kepada orang lain. Apalagi Narendra hanya orang yang ia kenal sebagai teman kerja. Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali di proyek-proyek yang pernah ia ikuti. Hubungan mereka tidak sedalam itu. Satu-satunya orang yang memiliki hubungan dengan sangat dalam bersama Christian hanyalah Khalisa. Sayangnya, Christian belum berani mengajak Khalisa berbicara. Ia takut mereka menyakiti satu sama lain jika memaksakan diri berbicara ketika marah.
Di sisi lain, Khalisa berdiam diri menatap dinding. Seakan matanya dapat melihat melintasi dinding tersebut. Dari dalam sana, ia seperti menyaksikan Christian yang sedang di ruang tengah. Belum tentu melakukan hal yang sama, tetapi Khalisa bisa menebak bahwa Christian juga memiliki ekspresi yang tidak jauh dari darinya. Tatap muram, mulut senyap. Buku Entrok yang sedang ia baca tidak dapat memengaruhi isi kepalanya saat ini. Buku itu ia letakkan dengan tertutup rapat di pangkuannya. Jari-jemarinya terus berulang mengelus sampul buku tersebut. Seakan berharap masuk ke dunia itu saja, walau sama tidak sempurnanya. Atau lebih baik masuk ke dalam buku romansa komedi? Mungkin saja penderitaannya bisa dianggap sebagai bahan berlucu saja. Sayangnya, tidak. Buku manapun yang Khalisa cintai, dunia manapun yang ingin ia masuki, semuanya gagal. Nyatanya itu adalah keinginan yang mustahil. Sampai mati pun Khalisa akan hidup di dunia ini, membawa kisah hidupnya hingga tertutup tanah. Entah ia akan melupakan segalanya di akhirat nanti atau tidak. Jika mau memikirkan hal itu, mungkin lebih baik mati dulu saja.
Kegiatan Khalisa begitu saja hingga akhirnya pintu ruangan ia berada telah diketuk. Pintu terbuka, aktor yang harus melakukan fitting masuk. Ini bukan pertama kalinya bagi mereka masing-masing. Mereka hanya saling sapa sebelum akhirnya melakukan fitting tanpa perlu basa-basi. Khalisa adalah tipe kru yang tidak begitu banyak berinteraksi hal yang tidak perlu. Jika ada orang yang mengajaknya bicara terlebih dahulu, tentu ia akan menjawab. Namun, selebihnya ia hanya akan bisa hal yang terkait profesionalitas saja. Sebenarnya Khalisa memiliki dugaan, bahwa ini adalah salah satu alasan ia jarang mendapat tawaran syuting. Di industri ini, hampir semua bekerja berdasarkan relasi. Si satu mengenalkan si dua, dan seterusnya. Jika tidak ada yang mengetahuimu, kemungkinan besar tidak akan ada yang mengajakmu. Seharusnya Khalisa lebih banyak bersikap ramah dan tersenyum. Agar orang-orang menyukainya, dan tertarik untuk bekerja bersamanya lagi dan lagi. Sayangnya, itu sulit ia lakukan. Sejujurnya, Khalisa sering kali merasa tidak aman di lokasi syuting. Saat semua orang sibuk, termasuk dirinya, ia selalu berada dalam posisi waspada pula. Hal itu tidak direncanakan ataupun bisa dicegah. Kewaspadaan timbul begitu saja ketika Khalisa berada di samping laki-laki yang tidak ia kenal. Apakah ini namanya generalisasi? Ketika satu laki-laki berbuat buruk, maka semuanya tidak dapat dipercaya. Apakah hal ini benar? Atau salah? Khalisa tidak begitu apa jawabannya. Ia hanya mengikuti insting dirinya. Bila dirinya memilih untuk waspada, ia yakin itu adalah hal yang terbaik bagi dirinya sendiri. Memang belum tentu benar, tetapi baik juga penting.
Fitting selesai dengan begitu saja, tentu dengan waktu yang sewajarnya. Tanpa rasa apapun, aktor keluar dari ruangan, entah kemana, tugas Khalisa dengannya sudah selesai. Khalisa kemudian mengikuti langkahnya untuk keluar dari ruangan yang sudah ia tempati sekitar dua jam itu. Ia berkeinginan untuk berpamitan dengan kru lainnya, kemudian pulang. Tepat ketika Khalisa membuka pintu, Christian ada di depannya. Tangannya menunjukkan bahwa ia hendak membuka pintu juga dari luar ruangan.
“Aku tahu kamu akan keluar,” tebaknya.