Langkah Kaki

Adikanda
Chapter #11

11: 2000

Dua tahun pernikahan. Seharusnya, dua tahun pula kebahagiaan yang sudah mereka rasakan. Ratna memang sering mendengar bahwa pernikahan tidak selalu berjalan mulus. Sejujurnya, tidak hanya pernikahan, tetapi hidup memang begitu. Apa yang Ratna harapkan setelah lahir ke dunia? Apa tujuan tuhan menciptakan dirinya? Ratna tidak mengetahui jawaban itu, tetapi ia selalu tahu bahwa ia tidak mungkin lahir dan selalu dimudahkan. Ia yakin Tuhan pasti ingin hambanya selalu bahagia, tetapi bukan berarti dimanjakan. Sehingga, Ratna tahu bahwa sesekali Tuhan gemar mengujinya. Hanya untuk tes. Apakah Ratna ingin tetap tinggal atau meninggalkannya. Keduanya adalah pilihan. Dan selama ini, Ratna selalu memilih posisi tengah. Kini, Ratna semakin sering beribadah, dipimpin oleh Anton. Memang katanya, salah satu tujuan suami adalah menuntun istrinya ke jalan yang lebih baik.

Anton menatap Ratna yang memakai mukenanya. Ratna segera salim kepada Anton. Mereka baru saja menyelesaikan salat subuh. Kenapa? Tanya Ratna. Karena Anton belum berhenti memperhatikannya. Wajahnya penuh keraguan. Ratna yakin Anton ingin berbicara sesuatu, tetapi takut mengutarakannya. Sebenarnya Ratna sudah mengetahui gelagat Anton dari beberapa hari yang lalu. Anton selalu menjemput Ratna di toko roti sepulang kerjanya. Setelah Ratna selesai membereskan toko, mereka akan berjalan pulang bersama. Dan sejak beberapa hari yang lalu, Anton kebanyakan diam. Padahal dia suka berbicara hal-hal remeh, hanya untuk mengisi keheningan yang ada. Ia pernah bilang, bahwa dirinya menyukai gerakan tangan Ratna. Karena itu ia selalu mengajak Ratna berbincang. Tentu Ratna tidak menolak. Namun, ia juga tidak akan memaksa bila Anton tidak mau berbicara. Toh, di waktu yang tepat ia benar-benar akan mengucapkan kemauannya. Entah itu hal baik atau buruk, terlebih karena Ratna adalah istrinya, ia harus mendengarkan.

“Kalau kamu berhenti kerja, bagaimana?”

Berhenti kerja? Kenapa? Harus? Ratna terdiam, terlihat pikirannya mengawang di udara. Berhenti kerja. Hal tersebut tak pernah ia bayangkan terjadi di hidupnya. Karena hanya lulusan sekolah, karena tidak dapat berkuliah, Ratna pikir hidupnya hanya akan penuh dengan pekerjaan hingga ia mati. Karena itu, seluruh mimpinya adalah seputar pekerjaan. Cita-citanya adalah untuk mempunyai toko rotinya sendiri. Ia memiliki impian, akan hidup dari toko roti itu hingga dirinya mengambil napas terakhir. Ia harus kerja, untuk menghidupi hidupnya. Berhenti kerja bahkan tidak pernah ada di pilihan. Memiliki toko roti, atau bekerja di toko roti. Itu saja.

Anton melanjutkan, “Sudah dua tahun kita menikah. Tapi kita masih belum punya anak.”

Apa hubungannya dengan pekerjaan?

Lihat selengkapnya